Eposdigi.com – Coba bayangkan sekolah di Larantuka pada masa lampau. Jangan bayangkan gedung sekolah seperti sekarang—dengan ruang kelas yang rapi, bangku berderet, seragam, buku pelajaran, kendaraan antar-jemput, dan anak-anak yang setiap pagi datang dari rumah masing-masing.
Sekolah misi di Larantuka pada abad ke-19 adalah sesuatu yang jauh berbeda. Anak-anak dari kampung-kampung yang jauh tidak sekadar datang untuk belajar beberapa jam.
Mereka tinggal di sana. Sekolah sekaligus menjadi tempat tinggal, tempat pembinaan agama, dan tempat anak-anak belajar menjalani kehidupan baru.
Sekolah anak laki-laki di Larantoeka telah berdiri pada awal perkembangan misi Katolik di sana. Sumber-sumber sejarah kemudian mencatat pendiriannya pada 1862 oleh Pastoor Caspar Johannes Franssen, SJ.
Beberapa tahun kemudian, pada 1879, para Suster Fransiskan dari Heijthuizen membuka sekolah untuk anak-anak perempuan. Menariknya, sekolah-sekolah itu bukan sekadar ruang belajar.
Pada tahun 1909, Pastoor A. J. van Aernsbergen, SJ., menulis: “Beide scholen zijn internaten; daardoor is het mogelijk, ook meerdere kinderen uit verafgelegen kampongs…” “Kedua sekolah itu adalah sekolah berasrama; dengan demikian memungkinkan pula anak-anak dari kampung-kampung yang jauh untuk dididik…”
Tetapi bagaimana membawa anak-anak dari pegunungan Ilimandiri ke sekolah di Larantoeka? Ternyata, persoalannya tidak sesederhana mengantar seorang anak ke sekolah.
Pada pertengahan 1907, Pastoor Hoeberechts mulai lebih intensif melakukan perjalanan misi di sekitar Ilimandiri. Dalam salah satu perjalanan itu, ia menemukan seorang mantan murid sekolah Larantoeka yang selama beberapa waktu hidup di tengah masyarakat pegunungan.
Yang menarik, anak itu ternyata tidak melupakan apa yang pernah dipelajarinya di sekolah. Aernsbergen mencatat: “Hij bleek niets te hebben vergeten van het vroeger geleerde, en zeer geschikt voor catechist.” “Ia ternyata tidak melupakan apa pun dari apa yang dahulu dipelajarinya, dan sangat cocok menjadi katekis.”
Pada bulan Agustus, ia diangkat menjadi katekis. Dari seorang anak sekolah, ia kemudian menjadi orang yang membantu mengajarkan agama kepada masyarakat di kampung-kampung pegunungan. Namun tidak semua anak begitu mudah dibawa kembali ke Larantoeka.
Beberapa tahun sebelumnya, atas desakan Radja van Larantoeka, lima anak laki-laki pernah ditempatkan di sekolah misi. Tetapi mereka segera melarikan diri.
Ketika Hoeberechts menemukan dua di antara mereka dalam perjalanan misinya dan mengajak mereka kembali ke Larantoeka, kejadian lama terulang lagi.
Aernsbergen menulis dengan nada yang hampir membuat kita tersenyum: “Nummer één liep al weg, eer men de kampongs goed en wel verlaten had; op nummer twee werd toen een waakzaam oog gehouden, maar hij wist halfweg nog te ontsnappen.”
“Anak nomor satu sudah melarikan diri sebelum rombongan benar-benar meninggalkan kampung; terhadap anak nomor dua kemudian diawasi dengan ketat, tetapi di tengah perjalanan ia masih berhasil meloloskan diri.”
Mengapa begitu sulit? Salah satu jawabannya terlihat dari kisah seorang anak kecil bernama Bélé. Setelah sekolah katekismus di pegunungan mulai berjalan dan Hoeberechts beberapa kali mengunjungi kampung-kampung.
Akhirnya seorang anak kecil diberikan kepada pastor untuk bersekolah di Larantoeka. Anak itu bahkan belum setinggi satu meter. Tetapi ia sendiri ingin pergi ke sekolah.
“Dat baasje, amper drie voet hoog wilde naar de school en toen kon de heele kampong er niets meer aan doen.” “Anak kecil itu, yang tingginya belum sampai tiga kaki, ingin pergi ke sekolah, dan setelah itu seluruh kampung tidak dapat berbuat apa-apa lagi.”
Namun ternyata masyarakat pegunungan masih menyimpan kekhawatiran terhadap orang-orang pesisir. Mereka mempercayai pastoor, tetapi belum sepenuhnya mempercayai orang-orang pantai.
Karena itu, ketika Bélé dibawa menuju Larantoeka, ia tidak pergi sendirian.Rombongan orang pegunungan bersenjata tombak mengawalnya. Bahkan sebelumnya, mereka mengajukan syarat kepada Pastoor Hoeberechts: setiap kali pastor kembali melakukan perjalanan ke pegunungan, Bélé harus ikut dibawa kembali.
Mereka ingin memastikan bahwa anak itu tidak dibunuh atau disandera oleh orang pesisir. Baru setelah beberapa kali perjalanan Bélé kembali dengan selamat, kekhawatiran mereka mulai hilang.
Begitulah kepercayaan dibangun—bukan melalui kata-kata saja, tetapi melalui perjalanan yang berulang dan bukti bahwa seorang anak benar-benar kembali dengan selamat.
Awal 1908, perkembangan mulai semakin menarik. Kepala-kepala kampung Riang-Kamië dan Lohala, datang menemui pastoor. Mereka tidak ingin anak-anak mereka tertinggal ketika kampung-kampung lain, Waelolon dan Leloba mulai menerima pendidikan dan agama baru.
Mereka bahkan membawa anak-anak mereka sendiri ke sekolah Larantoeka dan mengantar langsung demi keselamatan mereka.
Perjalanan berjalan baik. Mereka menginap, melihat sekolah, dan merasa cukup tenang. Tetapi keesokan malamnya…kedua anak sekolah itu melarikan diri.
Aernsbergen menulis:“Maar zoo’n klein geruchtje doet ons niet schrikken; alle begin is moeilijk en de aanhouder wint.” “Tetapi gangguan kecil seperti itu tidak membuat kami takut; setiap permulaan memang sulit, dan orang yang tekun pada akhirnya akan berhasil.”
Dan ternyata bukan hanya anak laki-laki. Anak-anak perempuan dari pegunungan pun perlahan mulai berani mendekati sekolah.
Suatu ketika beberapa gadis dari Leneda mengikuti anak-anak laki-laki dalam perjalanan mereka ke Larantoeka.
Tidak lama kemudian, tiga gadis itu berdiri di depan pintu sekolah, dan berkata: “Maoe masok skola.” “Kami mau bersekolah.”
Sekolah para suster sebenarnya sudah penuh. Tetapi untuk anak-anak itu, tempat tetap dibuat. Kemudian datang pula dua gadis dari Leloba. Namun sekali lagi, tidak semuanya berjalan mulus.
Ada anak yang tidak tahan karena rindu rumah. Ada yang melarikan diri. Ada pula yang dijemput pulang oleh ibunya yang menangis karena tidak sanggup berpisah dengan anaknya.
Tetapi anak yang pergi digantikan oleh anak yang lain. Dan perlahan-lahan, jumlah mereka bertambah. Aernsbergen menggambarkannya dengan sederhana:
“En zoo gaat het langzaam vooruit.” “Dan demikian lah, perlahan-lahan, semuanya bergerak maju.”
Mungkin kalimat itu adalah inti dari seluruh kisah ini. Sebab perubahan di Ilimandiri tidak terjadi dalam satu malam. Tidak semua anak langsung mau sekolah. Tidak semua orang tua langsung percaya.
Bahkan mereka yang sudah mengantar anak sendiri pun pernah melihat anaknya melarikan diri pada malam hari. Tetapi perjalanan terus dilakukan. Anak-anak terus datang.
Kepercayaan perlahan tumbuh. Dan akhirnya perubahan itu terlihat bukan hanya di sekolah. Pada masa sebelumnya, perempuan dari pegunungan tidak berani datang ke pesisir.
Tetapi beberapa tahun kemudian, Aernsbergen mencatat bahwa mereka sudah datang tanpa pengawalan bersenjata untuk mengunjungi anak-anak mereka di sekolah.
“Nu komen ze zonder eenig gewapend geleide hunne kinderen op school bezoeken.” “Sekarang mereka datang tanpa pengawalan bersenjata untuk mengunjungi anak-anak mereka di sekolah.”
Di sinilah kisah sekolah Larantoeka menjadi lebih dari sekadar kisah pendidikan. Yang dibawa ke sekolah ternyata bukan hanya anak-anak.
Yang perlahan-lahan dibawa ke Larantoeka adalah kepercayaan. Dan kepercayaan itu membutuhkan waktu, perjalanan, keberanian, kesabaran—bahkan beberapa kali anak harus melarikan diri terlebih dahulu sebelum akhirnya hubungan antara gunung dan pesisir menjadi lebih dekat.
Hari ini kita mungkin melihat sekolah sebagai sesuatu yang biasa. Tetapi catatan tahun 1909 ini mengingatkan bahwa bagi sebagian anak di sekitar Ilimandiri, kesempatan untuk bersekolah dahulu merupakan sebuah perjalanan panjang—dan tidak selalu berakhir mulus pada perjalanan pertama.
Sumber:
- J. van Aernsbergen, “De Missie onder de Heidenen van Oost-Flores,” Berichten uit Nederlandsch Oost-Indië voor de Leden van den Sint-Claverbond, 21, no. 4 (1909), hlm. 254–270.
Leave a Reply