Apakah KODA Itu Ideologi, Falsafah Hidup, atau Sistem Pengetahuan Lokal?

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Epasdigi.com – Saya sempat mengikuti perdebatan menarik tentang apakah Pancasila itu ideologi atau bukan antara Rocky Gerung dengan beberapa analis di salah satu TV nasional. Perdebatan itu membuat saya bertanya: kalau begitu, bagaimana dengan KODA dalam kehidupan orang Adonara dan Lamaholot?

Selama ini kita sering mengatakan: “Moripet di toon KODA, matanet di toon KODA.”

Kalimat ini bukan sekadar pepatah. Ia mengandung pandangan yang sangat mendasar tentang kehidupan. Pertanyaannya, apakah ia hanya sebuah nasihat? Ataukah ia merupakan fondasi seluruh cara berpikir masyarakat kita?

Baca Juga:

Merevitalisasi DEKET: Dari Medan Perang Menuju Medan Pengabdian

Saya mencoba melihatnya dari tiga tingkatan. Pertama, KODA sebagai filsafat hidup.

Ungkapan “Moripet di toon KODA, matanet di toon KODA” menjawab pertanyaan paling mendasar: apa itu hidup, bagaimana manusia seharusnya hidup, dan apa akibat jika manusia mengingkari KODA. Di sinilah fondasi cara pandang orang Lamaholot terhadap kehidupan.

Kedua, KODA sebagai sistem pengetahuan lokal.

Dari filsafat hidup itu lahirlah berbagai pengetahuan adat: tata cara musyawarah (behin bau ukut KODA), aturan hak ulayat, ritual adat, cara menjaga hubungan dengan Rera Wulan Tana Ekan, dengan leluhur, sesama manusia, dan alam. Semua itu bukan berdiri sendiri, melainkan berasal dari satu sumber yang sama.

Baca Juga:

Kejahatan, Penderitaan, dan KODA: Sebuah Perspektif Filsafat Lamaholot

Ketiga, KODA sebagai sistem nilai.

Dari pengetahuan itu tumbuh nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, keberanian, penghormatan terhadap alam, persaudaraan, dan kesetiaan pada janji. Nilai-nilai inilah yang tampak dalam perilaku sehari-hari.

Kalau disederhanakan, hubungan ketiganya adalah: Filsafat hidup → Sistem Pengetahuan Lokal → Sistem Nilai → Perilaku masyarakat.

Kalau kerangka ini dapat diterima, maka KODA bukan hanya kumpulan adat-istiadat atau warisan leluhur. KODA adalah satu sistem yang utuh, yang membentuk cara berpikir, cara mengetahui, cara menilai, dan cara hidup masyarakat Lamaholot.

Baca Juga:

KODA: “Menjaga Alam adalah Menghormati Rera Wulan Tana Ekan”

Ini tentu masih merupakan gagasan yang terbuka untuk didiskusikan. Saya ingin mendengar pandangan para tetua adat, tokoh masyarakat, akademisi, kaum muda, dan siapa saja yang mencintai budaya Lamaholot.

Menurut Anda, lebih tepatkah KODA dipahami sebagai filsafat hidup, sistem pengetahuan lokal, sistem nilai, atau justru ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan?

Mari berdiskusi dengan saling menghargai. Bisa jadi dari diskusi ini kita semakin memahami kekayaan warisan leluhur kita.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of