Eposdigi.com – Bagi sebagian orang, lima kilogram beras mungkin hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sebuah keluarga selama beberapa hari.
Tetapi bagi warga yang sedang berada di pengungsian setelah rumahnya diguncang gempa, satu paket beras dapat berarti lebih dari sekadar bahan makanan. Ia adalah tanda bahwa mereka tidak sendirian.
Perasaan itulah yang coba dibawa oleh Perkumpulan Pemuda Flobamora Ketapang (PPFK), Kalimantan Barat, ketika mengumpulkan donasi untuk warga terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Dari Ketapang, bantuan itu kemudian bergerak ribuan kilometer menuju tanah Flores. Sekitar Rp40 juta berhasil dihimpun dari warga Flobamora, tokoh masyarakat, pengusaha, perusahaan, dan berbagai pihak di Kabupaten Ketapang. Dana tersebut kemudian dibelanjakan dalam bentuk beras kemasan 5 kilogram untuk dibagikan langsung kepada warga terdampak.
Baca Juga:
Tentang Mitigasi Bencana Setelah 30 Tahun Gempa Flores 12 Desember 1992
Ketua Umum PPFK, Yakobus Tamon, S.Ag., bahkan memilih datang langsung ke sejumlah lokasi terdampak. Bagi PPFK, bantuan bukan hanya soal menyerahkan barang, tetapi juga menghadirkan wajah dan kepedulian dari saudara-saudara yang berada jauh dari Flores.
“Kami datang langsung dari Kalimantan Barat ke Flores untuk memastikan amanah dan kepedulian dari warga Flobamora serta masyarakat di Ketapang dapat diterima dengan baik oleh saudara-saudari kita yang sedang tertimpa musibah,” ujar Yakobus Tamon ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kamis (25/9).
Menurutnya, jumlah bantuan yang disalurkan mungkin tidak besar jika dibandingkan dengan kebutuhan seluruh wilayah terdampak. Namun, nilai terpentingnya adalah pesan kemanusiaan yang dibawa bersama bantuan tersebut.
“Kami berharap bantuan beras ini dapat sedikit meringankan beban kebutuhan pokok sehari-hari,” katanya.
Baca Juga:
Bukan Sekadar Beras
Gempa yang menjadi latar belakang aksi solidaritas tersebut bukanlah peristiwa kecil.
Pada 15 Agustus 2026, Flores diguncang gempa bumi berkekuatan M7,7 dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. BMKG menyebut gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Flores, sebuah struktur tektonik aktif di kawasan utara Flores. Karena sumbernya dangkal dan berada di laut, gempa tersebut juga memiliki potensi memicu tsunami.
Dampaknya terasa di sejumlah wilayah Flores. Kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah warga, tetapi juga pada fasilitas umum dan infrastruktur.
BNPB mencatat hingga 7 September 2026, sebanyak 51.591 rumah telah diverifikasi dari data awal 102.384 rumah di tujuh kabupaten terdampak. Dari jumlah yang telah diverifikasi tersebut, 2.382 rumah masuk kategori rusak berat, 7.276 rusak sedang, dan 14.177 rusak ringan. Proses pendataan masih berlangsung dan angkanya dapat berubah.
Itulah sebabnya perjalanan Yakobus Tamon dan pengurus PPFK ke sejumlah lokasi terdampak tidak berhenti pada pembagian beras.
Mereka juga ingin memberikan dukungan moral kepada warga yang masih berhadapan dengan rasa takut dan ketidakpastian setelah gempa.
Bantuan disalurkan ke sejumlah titik di Kabupaten Manggarai, antara lain Dusun Rujung dan Dusun Copu di Desa Ruis serta Dusun Mahima, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok. Bantuan juga diberikan kepada warga di Desa Rura, Kecamatan Reok Barat.
Di Kabupaten Nagekeo, distribusi dilakukan di Desa Totomala, Kecamatan Wolowae, serta Desa Paumali, Kecamatan Keo Tengah.
Di tempat-tempat seperti itu, solidaritas memiliki arti yang berbeda. Orang-orang mungkin tidak saling mengenal secara pribadi. Namun mereka memiliki satu ikatan: sama-sama merasa Flores sebagai rumah.
Baca Juga:
Flores Tidak Cukup Hanya Dibantu Setelah Gempa
Aksi PPFK memperlihatkan pentingnya solidaritas ketika bencana terjadi. Namun pengalaman gempa besar ini juga menghadirkan pertanyaan yang lebih jauh: bagaimana Flores mempersiapkan diri sebelum gempa berikutnya datang?
Pertanyaan itu penting karena risiko gempa di Flores bukan sesuatu yang muncul hanya pada Agustus 2026.
BMKG sebelumnya menjelaskan bahwa Nusa Tenggara Timur memiliki tatanan tektonik yang kompleks. Sumber gempa di wilayah ini dapat berasal dari zona subduksi, Flores Back-Arc Thrust, maupun sesar-sesar aktif di daratan. Kondisi tersebut membuat NTT memiliki risiko gempa dan tsunami yang perlu diantisipasi secara serius.
Gempa 15 Agustus 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa kekuatan bangunan dan karakteristik tanah sangat menentukan tingkat kerusakan. BMKG menemukan bahwa lokasi yang berdekatan dapat mengalami tingkat guncangan berbeda karena kondisi tanah setempat ikut memengaruhi respons gelombang gempa.
Karena itu, mitigasi Flores tidak cukup jika hanya mengandalkan bantuan setelah bencana.
Baca Juga:
Mitigasi Harus Dimulai dari Rumah
Salah satu pekerjaan paling penting adalah memastikan pembangunan kembali rumah dan fasilitas publik mengikuti prinsip bangunan tahan gempa.
BMKG saat ini mendampingi pemerintah daerah di Flores untuk melakukan survei mikroseismik dan makroseismik. Hasilnya digunakan untuk menyusun peta mikrozonasi, yang dapat menjadi dasar dalam tata ruang dan desain bangunan tahan gempa.
Langkah ini penting karena pembangunan kembali rumah yang rusak seharusnya tidak sekadar mengembalikan kondisi sebelum gempa. Prinsipnya harus build back better: membangun kembali dengan standar keselamatan yang lebih baik.
Rumah sederhana masyarakat pun perlu mendapat perhatian. Struktur utama, kualitas material, sambungan antara kolom dan balok, serta kualitas pengerjaan harus memenuhi ketentuan teknis bangunan tahan gempa.
Mitigasi juga perlu menyentuh sekolah, puskesmas, kantor desa, rumah ibadah, pasar dan fasilitas publik lainnya. Bangunan yang menjadi tempat berkumpul banyak orang harus menjadi prioritas pemeriksaan dan penguatan.
Baca Juga:
Koperasi Merah Putih, Tukang Bangunan dan Mitigasi Bencana di Flores Timur
Pengetahuan Warga Sama Pentingnya
Bangunan yang kuat saja belum cukup.
Masyarakat perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi: melindungi diri ketika guncangan berlangsung, mengenali tempat aman, mengetahui jalur evakuasi, memiliki titik kumpul, dan memahami informasi resmi kebencanaan.
Khusus bagi masyarakat pesisir, pengetahuan mengenai tsunami menjadi sangat penting. Gempa kuat yang sumbernya berada di laut dapat berkaitan dengan ancaman tsunami. Sistem peringatan dini seperti InaTEWS harus diikuti dengan kemampuan masyarakat untuk merespons peringatan tersebut secara cepat dan benar. BMKG menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat, serta infrastruktur yang lebih tangguh sebagai pelajaran dari gempa Flores 2026.
Artinya, mitigasi terbaik bukan hanya teknologi yang berada di pusat-pusat pemantauan. Mitigasi harus sampai ke desa.
Simulasi evakuasi secara berkala, pendidikan kebencanaan di sekolah, pemetaan jalur evakuasi desa, penyediaan titik kumpul, serta pembentukan kelompok relawan kebencanaan berbasis komunitas dapat menjadi investasi jangka panjang yang relatif murah dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan setelah bencana.
Baca Juga:
Urgensi Pendidikan Mitigasi Bencana bagi Anak Usia Dini (PAUD)
Dari Beras Menuju Ketangguhan
Bagi PPFK, aksi kemanusiaan ini mungkin bermula dari pengumpulan uang dan pembelian beras.
Namun bagi Flores, solidaritas semacam ini seharusnya dapat menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.
Yakobus Tamon menyampaikan apresiasi kepada seluruh donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu saudara-saudara mereka di Flores.
“Kami atas nama keluarga besar Flobamora Ketapang dan masyarakat terdampak di Flores mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh donatur di Kabupaten Ketapang. Bantuan sebesar kurang lebih Rp40 juta yang terkumpul adalah bukti nyata bahwa rasa kepedulian dan kemanusiaan melampaui sekat-sekat perbedaan dan jarak,” ujarnya.
Menurut dia, setiap paket beras yang dibawa ke Flores merupakan amanah dari masyarakat Ketapang.
Tetapi setelah bantuan tiba dan beras dibagikan, pekerjaan belum selesai.
Warga membutuhkan rumah yang aman. Anak-anak membutuhkan sekolah yang kokoh. Desa-desa membutuhkan jalur evakuasi. Masyarakat pesisir membutuhkan sistem peringatan yang dapat dipahami. Pemerintah daerah membutuhkan peta risiko yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan pembangunan.
BMKG menyatakan aktivitas gempa susulan pascagempa M7,7 telah memasuki fase peluruhan secara signifikan hingga pertengahan September 2026, meski masyarakat tetap diminta waspada dan mengikuti informasi resmi.
Baca Juga:
Bagaimana Gemohing terlibat dalam Mitigasi Bencana di Jepang?
Pada akhirnya, bantuan Rp40 juta dari Ketapang bukan hanya tentang berapa banyak kilogram beras yang sampai ke tangan warga. Lebih jauh dari itu, ia adalah pesan bahwa Flores tidak sendiri.
Dan ketika bantuan kemanusiaan bertemu dengan pembangunan rumah yang lebih aman, pendidikan kebencanaan, sistem peringatan dini, tata ruang berbasis risiko, serta kesiapsiagaan masyarakat, solidaritas tidak lagi berhenti sebagai bantuan sesaat.
Ia berubah menjadi kekuatan untuk membuat Flores lebih siap menghadapi hari ketika bumi kembali bergerak.
Leave a Reply