Eposdigi.com – Salah satu keluhan yang selalu terdengar lantaran memberikan beban dan dampak ekonomi yang besar termasuk pada gilirannya menambah utang adalah tradisi ataupun adat Bailake pada saat peristiwa kematian.
Keluhan ini mendapat ragam respon dan analisa dari kaum intelektual dan akademisi Adonara. Kebanyakan respon adalah kalau bisa perlengkapan Bailake berupa sarung ataupun kain dan pemberian kepada Bailake berupa hewan dikurangi.
Respon untuk mengurangi dengan alasan sangat membebani dan memperparah ekonomi keluarga justru tidak mendapat respon positif dari kalangan masyarakat dan tentunya juga tidak menjadi solusi terbaik dalam membangun ekonomi keluarga dan pemberdayaan serta pelestarian adat maupun budaya tenun.
Klik judul tulisan terikut ini untuk membaca link terkait:
Bailake sendiri bisa dimaknai sebagai ungkapan syukur, terima kasih bahwa karena mereka kita ada. Mereka yang menjadi bailake, status mereka diakui dan ketika memberi kepada yang bailake menjadi penegasan dan rasa terima kasih karena dari merekalah kita berasal. Singkatnya bailake juga mempertegas akar dan keberadaan kita.
Kewatek Dan Kremot Sebagai “KNENAN”
Kita harus akui bahwa ketika ada peristiwa kematian, kain wadimor atau dalam bahasa Adonara: Lipa menjadi salah satu kain paling laris yang dibeli oleh masyarakat sebagai umen ape atau pemberian kepada yang meninggal maupun kepada bailake. Tanpa sadar kita memperkaya orang lain sedang wadimor sendiri bukan kain warisan leluhur nenek moyang orang Adonara.
Klik judul tulisan terikut ini untuk membaca link terkait:
Yang menjadi warisan leluhur nenek moyang kita atau dalam bahasa adat Adonara “Knena” adalah kremot dan kewatek. Soal berapa yang diberi itu urusan pembicaraan dua keluarga tapi kalau kremot dan kewatek menjadi bahan atau barang yang diberikan baik kepada yang meninggal dunia maupun kepaza bailake bukankah memberikan dampak ekonomi keluarga yang positif?
Akan terjadi perputaran uang di lingkungan kita, ibarat seperti gading sebagai belis atau mahar. Setiap saat selalu ada peristiwa kematian dan tentunya kita membutuhkan kremot dan kwatek untuk persembahan kasih dan terimakasih baik bagi yang meninggal dan bagi bailake.
Jika kita sepakat yang dipersembahkan bukan wadimor tapi kremot dan kwatek maka akan ada geliat ekonomi yang positif karena ibu-ibu maupun kaum perempuan yang pandai menenun akan bangkit dan mulai menenun berapapun banyaknya dan disimpan sehingga saat dibutuhkan tinggal membeli.
Klik judul tulisan terikut ini untuk membaca link terkait:
Desa Berkearifan Adat: Menuju 3 Batu Tungku yang Saling Menggenapi (Penutup)
Kalau kita menyadari bahwa kremot dan kwatek adalah “Knenan” dan bukan wadimor maka persoalan bahwa peristiwa kematian terutama soal bailake sangat berat dan membebani keluarga bisa ditepis karena esensinya bukan pada berapa banyak yang diberi melainkan apa yang diberi wadimor atau kremot dan kwatek.
Kalau wadimor yang bukan knenan masih menjadi idola maka akan melunturkan esensi dari bailake. Tetapi ketika kremot dan kwatek yang adalah knenan Adonara maka semakin menegaskan esensi dari makna bailake sekaligus membangkitkan ekonomi masyarakat Adonara sendiri.
Foto hantaran bailake diambil dari akun Facebook Gembel Ningrat
Leave a Reply