Desa Berkearifan Adat: Menuju 3 Batu Tungku yang Saling Menggenapi (Penutup)

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Adat dan Agama. Nilai-nilai yang bersumber dari kehidupan lewo dan dunia adat istiadat sebagaimana digambarkan di atas tentu tidak banyak berbeda dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh agama-agama modern.

Agama Katolik, misalnya, mengajarkan cinta dan solidaritas sebagaimana yang diajarkan oleh adat istiadat kita. Demikian pula ajaran iman pada yang Maha Kuasa. Agama Islam pun demikian.

Kesejalanan pada tataran nilai antara adat dan agama tersebut tentu merupakan sesuatu yang perlu disyukuri, dan mengajak kita untuk menempatkan keduanya sebagai entitas yang saling menopang dan menggenapi. Bahasa kitab suci Katolik mengatakan: “Tuhan datang bukan untuk menghilangkan hukum taurat (adat) tapi untuk menggenapinya”.

Baca Juga: Mewariskan Budaya Lamaholot Lewat Pendidikan*

Tentu saja hal saling menggenapi ini merupakan sesuatu yang sudah dimiliki dan khas Lamaholot. Proses saling menyesuaikan dan berada berdampingan berlangsung sudah lama, dan di dalam proses tersebut juga sudah dapat dilihat bagaimana mereka saling menopang dan menggenapi.

Sehingga dengan revitalisasi Lembaga Adat Desa, proses yang sejauh ini berjalan relatif alamiah itu kita harapkan dapat menjadi lebih optimal tanpa perlu terlalu dipaksakan.

Beberapa contoh keperluan dapat digarisbawahi. (1) Kita mengharapkan agar agama dapat menggenapi adat dengan ajaran tentang cinta dan solidaritas yang lebih penuh, yang memberikan bobot penekanan pada pentingnya sikap saling memaafkan dan tidak menyimpan dendam.

Sambil memberikan peneguhan dan apresiasi pada praktek cinta yang kuat dalam dunia adat dan dunia kehidupan Lamaholot, agama dapat mencerahkan umatnya yang adalah warga masyarakat adat tentang pentingnya menghindari mei nawa sebagai bentuk tanggung jawab pada generasi mendatang.

Baca Juga: Desa Berkearifan Adat: Menuju 3 Batu Tungku yang Saling Menggenapi (Bagian Pertama)*

Dasar bahwa semua manusia adalah ciptaan Tuhan menurut gambarNya perlu disampaikan lebih artikulatif sebagai dialog terhadap fakta mei nawa ini. Bahasa kitab suci Katolik mengatakan: “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambarNya sendiri.” (Kejadian 9:6).

(2) Agama perlu menggenapi dirinya dengan kekayaan yang dimiliki adat istiadat Lamaholot. Agama perlu menyadari bahwa nilai yang semata diajarkan akan kalah pertumbuhannya dibandingkan dengan nilai yang dihidupkan melalui praktek-praktek kehidupan.

Di sini, adat memperlihatkan keunggulannya. Adat menghidupi nilai-nilainya dengan praktek. Tidak terutama dengan kotbah. Dan ini adalah keunggulan adat, di samping fakta bahwa pelanggaran adat mempunyai konsekuensi yang lebih jelas kelihatan. Karena itu ajaran agama perlu dihidupi dalam adat istiadat; dengan cara itu agama menjadi lebih kontekstual dan inkulturatif.

(3) Agama dan adat memang perlu berkolaborasi dalam menjaga kemurnian adat istiadat. Ekspresi cinta dan kekerabatan dalam adat Adonara Lamaholot memang kadang memperlihatkan bobot yang terlalu tinggi. Terutama misalnya jika kita lihat pada adat kematian.

Baca Juga: Orang Muda, Revitalisasi Nilai Adat dan Tantangan Era 4.0

Padahal gagasan dan nilai dasarnya pohe gelekat (saling membantu dalam kesulitan). Ekspresi yang berlebihan sampai membebankan keluarga yang sedang berduka ini perlu dikendalikan melalui kerja penyadaran bersama yang dilakukan oleh pemimpin lembaga agama dan pemimpin lembaga adat.

Menggenapi Desa yang Teknokratik

Jika adat dan agama sudah saling menggenapi seperti itu maka pekerjaan kebudayaan berikut adalah menjalin relasi kemitraan yang produktif dengan pemerintah desa.

Mendahului rumusan teknis mengenai pola kemitraan, agaknya perlu dilihat bahwa kelembagaan Pemerintah Desa memang sedang memiliki bentuk dan karakter yang membutuhkan topangan kelembagaan yang memiliki jati diri yang berbeda.

Pemerintah Desa, yang sudah mengalami perkembangan dari masa ke masa, tentu tidak bisa dikatakan tidak memiliki cita-cita dalam aspek kebudayaan sama sekali. Tetapi tentu saja bisa dilihat, bahwa cita-cita tersebut tidaklah demikian artikulatif dibandingkan cita-cita kemajuan dan kesejahteraan material.

Baca Juga: Perang Tanding, Kriminalitas dan Perdamaian di Adonara

Dengan jati diri seperti itu maka desa modern memang sulit diharapkan untuk mampu memenuhi kebutuhan warganya akan kepenuhan jiwa dan cita rasa jati dirinya.

Organisasi pemerintahan dengan titik berat orientasi seperti itu juga berimplikasi pada kehadiran organisasi yang teknokratik dan administratif, dengan karakter kepemimpinan yang sepadan, sedemikian rupa sehingga nilai-nilai komunitas makin tergeser.

Ditambah dengan “penyakit” uang yang berkembang bersama mengalirnya rejeki dana desa ke desa, yang berkomplikasi dengan “penyakit” disintegrasi yang tak terhindarkan akibat perubahan zaman dan  perkembangan teknologi informasi komunikasi, maka desa sungguh-sungguh membutuhkan lembaga yang menopang dari sisi kearifan dan/atau kebudayaan.

Lembaga adat dan lembaga keagamaan menggenapi kebutuhan warga masyarakat desa, yang tidak bisa dijawab secara memadai oleh lembaga pemerintahan di desa tersebut. (Foto: Florespost.co)

*Tulisan ini dibuat terutama sebagai bagian dari respon terhadap berbagai pemikiran yang berkembang dari diskusi zoom Grup Epu Orin Adonara, dengan tema Hubungan antara Pemimpin Lewo dan Pemimpin Desa, 9 Juni 2020.

Sebarkan Artikel Ini:

4
Leave a Reply

avatar
4 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Frans Berek Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Frans Berek
Guest
Frans Berek

Tulisan yang luar biasa. Salam

Frans Berek
Guest
Frans Berek

Tulisan yang luar biasa. Salam.

trackback

[…] Baca Juga: Desa Berkearifan Adat: Menuju 3 Batu Tungku yang Saling Menggenapi (Penutup) […]

trackback

[…] Baca Juga: Desa Berkearifan Adat: Menuju 3 Batu Tungku yang Saling Menggenapi (Penutup) […]