Perawan Itu Penting Nggak Sih?

Budaya
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Akhir-akhir ini banyak sekali wacana tekait eksistensi kaum hawa. Banyak tokoh dengan isi tulisan yang orientasinya adalah keberpihakan terhadap kaum hawa. Hal utama yang banyak diangkat adalah keperawanan.

Bicara soal keperawanan, akan ada banyak pertanyaan dan masalah. Penting ngga si perawan itu? Jikalau  kaum hawa yang sudah terlanjur tidak memiliki itu sebelum pernikahan, apakah ia akan menjadi tidak berharga?

Banyak kaum adam memilih meninggalkan pacarnya ketika tahu bahwa pacarnya tersebut sudah bukan perawan. Relasi yang sudah terjalin lama, ambruk seketika.

Keperawanan seolah dijadikan sebagai mahkota (kehormatan) bagi kaum perempuan. Ini sungguh sangat tidak bijak. Sebab kehormatan sesungguhnya adalah perilaku yang ditunjukkan.

Bagaimana perempuan itu membawa diri dalam lingkungan bermasyarakat. Perempuanlah yang sesungguhnya menjadikan mahkota itu berharga atau tidak.

Jikalau perilaku itu banyak bertentangan dengan nilai moral di masyarakat maka kita bisa menilai sendiri kualitas dari mahkota tersebut.

Baca Juga: Virginitas Jadi Ukuran Kehormatan Perempuan?

Lantas perawan itu penting ngga si? Dalam sebuah kesempatan diskusi di sekretariat KMAY (Keluarga Mahasiswa Adonara Yogyakarta), dapat disintesa bahwa penting atau tidaknya perawan itu, tergantung dari kaum hawa.

Jikalau itu penting, maka kaum hawa akan menjaganya dengan sebaik-baiknya, dan tahu betul kapan dan untuk siapa ia harus menanggalkannya.

Lain cerita jikalau keperawanan itu hilang karena kasus pemerkosaan.

Sah-sah saja ketika kaum adam menjadikan penting atau tidaknya keperawana itu. Yaa. Karena masing-masing orang memiliki kebebasan dalam memandang sesuatu.

Persepsi seperti ini akan menjadi tidak pas ketika diikuti dengan sikap mengabaikan, menganggap rendah lalu kemudian meninggalkan pasangannya hanya karena masalah keperawanan.

“Saya rela memberikan mahar yang begitu mahal, asalkan kamu perawan”.

Begitulah salah satu tulisan dalam bentuk gambar yang saya jumpai di beranda FB. Sungguh sangat tidak bijak.

Kaum adam tidak punya hak dalam urusan kebertubuhan perempuan. Keperawanan itu urusan kaum hawa.

Jika kaum adam sakit hati dan memutuskan untuk meninggalkan pasangannya hanya karena mengetahui pasangannya sudah tidak perawan lagi, maka kualitas relasi yang dibangun bisa dipertanyakan motifnya.

Baca Juga : Prostitusi Online, Media Massa dan Degradasi Moral

Kaum adam yang mempermasalahkan keperawanan itu sebenarnya apa yang mau dikejar? Kepuasan?

Jikalau kepuasan yang dikejar, bukankah kaum adam juga akan mendapatkan itu ketika sudah memperistrikan kaum hawa dengan sah?

Atau mungkin karena motif yang lain? Kewibawan? Atau harga diri?

Jika seseorang pria menjalin sebuah relasi hanya karena seonggok daging yang membangkitkan nafsu birahi, maka jelas bahwa kepribadiannya sungguh hanya didominasi oleh dorongan Id.

Id adalah bagian dari kepribadian. Sebagaimana diungkapkan oleh tokoh psikologi Freud. Id ini merupakan instink dasar yang berisi dorongan seksual.

Jika relasi yang  dibangun oleh kaum adam hanya karena selaput darah, maka bisa dipastikan bahwa pribadi yang bersangkutan sangat didominasi oleh animalitas (unsur kebinatangan).

Padahal jelas, manusia juga punya superego yang berisi nilai moral agar bisa memanusiakan manusia.

Baca Juga: Media dan Penghormatan Pada Perempuan

Manusia yang sehat adalah manusia yang mampu hidup di masa sekarang dan menjadikan masa lampau sebagai pembelajaran.

Banyak kaum hawa yang akhirnya takut untuk menjalin hubungan baru, sulit membuka diri dan mengisolasikan diri hanya karena masa lalu.

Hal ini terjadi karena ada pengalaman pahit yang pernah ia dialami. Ia merasa dirinya sudah tidak berharga karena berkali-kali mengalami hubungan yang berakhir menyedihkan.

Sungguh keliru pemikiran seperti ini, yang terpenting adalah bagaimana ia menjalani hidup yang sekarang. Masa lalu adalah milik sejarah. Biarlah  berlalu.

Membiarkan diri untuk terus memikirkan masa lalu tidak akan mengubah apapun. Kehidupan saat inilah yang terpenting.

Bagi siapapun kaum hawa, dan di manapun berada yang belum bersuami, jikalau Anda masih perawan, dan Anda menjadikan keperawanan itu bagian dari diri Anda yang sangat penting, maka Anda perlu menjaga itu.

Sangat disayangkan ketika pasanganmu meninggalkanmu hanya karena dirimu sudah tidak perawan. Bayangkan saja. Kerugian berlipat ganda bisa saja menimpa diri Anda.

Anda sudah kehilangan keperawanan, sekaligus kehilangan seseorang yang sangat kamu idam-idamkan.

Baca Juga: Rambut Rebonding, Celana Umpan dan Martabat Perempuan Adonara

Di samping itu, Anda bisa saja akan kehilangan kepercayaan diri, merasa tidak berharga, dan akhirnya memilih untuk menutup diri.

Sungguh tidak adil bukan? Yaa tapi itu adalah hasil dari cara pandangmu  sendiri.

Saat menjalin relasi dengan kaum Adam, Anda bisa memilih untuk tidak menyerahkan jiwa dan raga saat masa pacaran. Anda memiliki kendali 100 % atas tubuh Anda.

Anda juga bisa memilih untuk tidak mencintai 100%. Cintailah pacarmu 50 % saja dan  50 %  untuk mencintai diri Anda sendiri.

Hal ini dianjurkan untuk mengantisipasi tingkat sakit hati yang dialami kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atau putus hubungan.

Dan jika Anda putus hubungn pun, dunia tak harus kiamat. Anda bisa memilih bangkit. Kehidupan akan terus berlanjut. Dan ada pribadi yang berharga – Anda – ada di sana. (Foto: flickr.com / dengan ilustrasi tambahan dari eposdigi)

Sebarkan Artikel Ini:

4
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
2 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
IndriSNSLAtmayuda Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Atmayuda
Guest
Atmayuda

menyikapi kemahkotaan dari kaum hawa tersebut, sepertinya menarik juga di ulas mengenai mahkota dari kaum Adam.

SNSL
Guest
SNSL

Nahh,,,biasa yg terjadi kaum adamlah yg menuntut virginitas itu. Kalau sebaliknya? Wkwkw. Dalam arti bahwa perempuan juga menuntut balik bahwa kaum adam juga perlu harus Perjak… gimana?

Yang terpenting adalah nilai yg mau dihidupi dalam sebuah relasi. Kesetiaan mungkin? Atau tanggung jawab.

Indri
Guest
Indri

1 point menarik. “Menjalin hubungan untuk sex atau untuk melengkapi, mendampingi hingga nanti?”

SNSL
Guest
SNSL

Semua pada akhirnya kembali pada motivasi masing2 orang dalam bertindak