Media dan Penghormatan Pada Perempuan

Budaya
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – “Pelajar SMP di Kupang Ditangkap Usai Melayani Pelanggan di Kamar Hotel” demikian judul salah satu berita yang tayangkan kumparan.com , 04/12/2019.

Sekilas tidak ada yang aneh. Selain bisa saja dimaknai  oleh pembacanya bahwa ada seorang anak perempuan masih berusia  SMP ditangkap setelah  “melayani” seorang pelanggan di sebuah hotel.

Kumparan.com menyebut anak berusia 16 tahun yang ditangkap ini sebagai korban.

Masih segar di ingatan kita. Medio Januari, awal tahun ini. Sabtu, 5 Januari 2019 seorang artis diberitakan terlibat prostitusi on line. Survei kecil yang kami lakukan di detik.com untuk tulisan di depoedu.com, kami dapati bahwa detik.com, saat itu, sudah  mengeluarkan 290 judul berita terkait prostitusi artis ini.

Baca Juga : Prostitusi Online, Media Massa dan Degradasi Moral

Hanya 9 menit dari pertama kali berita itu diturunkan, inisial sang artis sudah disebut. Tiga menit kemudian identitas artis tersebut sudah diungkap menjadi konsumsi public.

Sumaedi Suhada dalam academia.edu yang mengutip Walter Lippmann mengungkapkan bahwa media adalah pembentuk makna. Interpretasi media atas sebuah fakta dapat mengarahkan dan membentuk intepretasi masyarakat atas fakta tersebut.

Tidak dipungkiri bahwa media sebagai produk peradaban sangat berperan dalam membentuk keadaban masyarakat. Konstruksi social dan budaya dalam masyarakat turut dibangun oleh media. Konstruksi social dibentuk oleh dialektika realitas yang terjadi di masyarakat, entah oleh pribadi atau dalam kelompok masyarata tersebut.

Oleh media, realitas yang seharusnya bersifat privat, bisa  dijadikan sebagai realitas public. Pemaknaan atas fakta-fakta ini, baik privat maupun social membangun konstruksi social. Padahal, Sumahedi Suhada menulis bahwa pemaknaan atas realitas yang dibentuk oleh media hanya bersifat simbolik, sebab pemaknaan atas realitas yang asli sebenarnya tidak terjangkau.

Baca Juga: 16 Hari Tanpa Kekerasan Pada Perempuan

Dua kasus yang kami angkat pada pembuka tulisan ini, baik pelajar di Kupang maupun artis, yang diberitakan terkait prostitusi menujukan ketidakberpihakan media terhadap perempuan. Media kerap menggunakan figure perempuan untuk menarik minat pembaca terutama untuk kasus-kasus terkait prostitusi.

Dalam kasus di Kupang, remaja perempuan diberitakan dengan detail: inisial, usia, asalnya dari mana. Begitu juga dengan kasus prostitusi artis Januari silam. Perempuan; artis yang diduga terlibat bahkan hanya dalam kurun waktu kurang dari 20 menit, sudah diungkap identitasnya oleh media kepada public.

Sementara laki-laki yang terlibat dalam kedua kasus ini, detail identitasnya tidak diungkap dalam pemberitaan sedetail identitas perempuan.

Ketika bersinggungan dengan persoalan moralitas, termasuk dalam pemberitaan terkait prostitusi, media lebih tertarik mendiskreditkan perempuan. Perempuan seolah menjadi standar moralitas masyarakat.

Konstruksi social tentang moralitas pada tubuh perempuan ini memaksa semua orang; laki-laki dan perempuan; menerima nya sebagai kebenaran umum yang tidak boleh dipertanyakan. Dan media benar-benar memanfaatkan ini menjadi berita yang layak dijual. Sementara laki-laki tidak menarik untuk dijadikan pemberitaan dalam kasus semacam ini.

Dalam kasus ini, media sebagai bagian dari pembentuk konstruksi social ternyata masih jauh dari menempatkan figure perempuan sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang terhormat; sama sederajat dengan laki-laki.

Kampanye 16 Hari Tanpa Kekerasan Pada Prempuan, yang dimulai pada 25 November hingga 10 Desember, sekali lagi, harus menjadi gerakan bersama. Terutama oleh media. Dengan kekuatannya menjangkau massa, rasanya sangat tepat jika semua pengiat media ikut mengkampanyekan penghormatan kepada perempuan.

Dan saya percaya, bahwa nurani setiap orang, termasuk pengiat media, yang dikandung dalam rahim, dan dilahirkan oleh seorang perempuan; seorang ibu; tentu tahu memilih diksi dalam pemberitaan apapun. Terutama yang menyangkut harkat dan martabat seorang perempuan. (Foto : pojokseni.com)

Sebarkan Artikel Ini:

6
Leave a Reply

avatar
6 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Media dan Penghormatan Pada Perempuan […]

trackback

[…] Media dan Penghormatan Pada Perempuan […]

trackback

[…] Baca Juga: Media dan Penghormatan Pada Perempuan […]

trackback

[…] Media dan Penghormatan Pada Perempuan –  Prostitusi Online, Media Massa dan Degradasi Moral […]

trackback

[…] Baca Juga: Media dan Penghormatan Pada Perempuan […]

trackback

[…] Ayo Baca Juga: Media dan Penghormatan Pada Perempuan […]