Vaksin Ternyata Tidak 100  Persen Aman

Warga Peduli
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Hingga 27 Mei 2021, data dari twitter Kemenkes RI tercatat ada 15.851.702 orang yang sudah menerima dosis pertama vaksin Covid-19. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10.428.151 orang yang telah menerima dosis kedua. 

Dari 10,4 juta tersebut, para petugas publik menjadi yang terbanyak menerima vaksin. Ada 6.899.324 petugas publik yang sudah menerima vaksin sebanyak dua dosis. 

Sementara di urutan kedua, kelompok lansia yang telah menerima vaksin Covis-19 ada 2.144.572. Kemudian 1.383.548 SDM Bidang Kesehatan yang telah menerima 2 dosis vaksin.

Walaupun sudah dua dosis divaksin, namun 10,5 juta orang ini belum tentu kebal 100% terhadap Covid-19 . Ini sangat tergantung pada efikasi atau efektifitas vaksin yang diberikan.

Baca juga: Ingat, Vaksin Tak Cukup Mencegah Corona

Misalnya, Kepala BPOM Penny K Lukito seperti dikutip detik.com mengungkapkan bahwa, efikasi Vaksin Sinovac sebesar 65,3%. Walaupun angka ini sudah memenuhi persyaratan WHO sebesar 50%.

Ada dua  cara membaca data 65,3% efikasi Vaksin Sinovac ini. Ada yang membacanya dari segi jumlah. Maksudnya dari 100 orang yang divaksin kemungkinan 35 orang diantaranya tidak benar-benar kebal dari Covid-19.

Saya lebih melihatnya bahwa setiap orang yang telah divaksin hanya memiliki 65% antibodi untuk melawan Covid-19. Seseorang masih memiliki 35% peluang terserang Covid-19.

Angka efikasi 65,3% ini juga bisa dibaca bahwa Vaksin mampu menurunkan keparahan infeksi sebesar 65,3%. Artinya jika seseorang masih dapat terserang Covid-19 setelah divaksin, namun tingkat keparahannya menurun sebesar 65,3%.

Ini artinya siapapun, entah yang sudah menerima vaksin ataupun belum, tidak akan 100% aman dari Covid-19. 

Namun Vaksin tetap lah menjadi pilihan bijak, walaupun itu “hanya” efektif menjaga kita dari Covid-19 sebesar 65 %. Bahkan jika evikasinya hanya 50 % pun tentu itu sudah sangat membantu.

Baca juga: Waspadalah, Ini Varian-Varian Baru Virus Corona

Benar bahwa antibodi tidak serta merta terbentuk sesaat setelah menerima vaksin. Bahkan setelah menerima dosis kedua. Ini berpeluang menyebabkan seseorang rentan terinfeksi pada waktu-waktu belum terbentuknya antibodi.

Namun bahkan antibodinya sudah terbentukpun, dalam kasus efikasi Vaksin Sinovac, seseorang masih rentan terinfeksi Covid-19 sebesar 35%.

Belum lagi, mutasi baru Covid-19 bisa saja membuat efikasi vaksin yang saat ini ada akan menurun. Dan lamanya waktu efektivitas vaksin mampu memberi kekebalan tubuh. 

Tempo.co (28/05/2021) menulis bahwa saat ini varian hasil mutasi Covid-19 yang belakangan ini melumpuhkan India, telah sampai di Indonesia. Varian B.1617 termasuk Varian of Concern (VoC).

Hasil pengamatan di Cilacap terhadap 20 ABK yang sebelumnya berlayar dari India menunjukan bahwa varian yang memiliki laju penularan 3 kali lipat lebih cepat dari SARS-CoV-2 ini telah masuk Indonesia.

“Hasil pemeriksaan screening genomic dari 20 ABK ternyata berujung 14 kasus mutasi virus yang menular pada 31 tenaga Kesehatan,” tulis tempo.co. Padahal para tenaga Kesehatan itu, saat melakukan pemeriksaan sudah dilengkapi dengan APD.

Baca juga: Vaksin Guru, Sekolah Tatap Muka VS Pasien Corona Anak-Anak

Tidak berhenti di sini penularannya. Hasil pelacakan pada 31 tenaga kesehatan tersebut, ditemukan lagi 12 kasus karena kontak erat. Lalu dari 12 kasus ini dilacak lebih lanjut dan menemukan kasus penularan baru pada enam orang. 

Tidak hanya varian baru hasil mutasi dari luar, Kementerian Kesehatan menemukan bahwa kini telah ditemukan 54 kasus positif dari varian-varian baru Covid-19.

Dari jumlah tersebut, 35 kasus merupakan infeksi dari varian luar negeri, sedangkan sisanya sebanyak 19 kasus adalah varian hasil mutasi lokal. 

Ini menunjukan bahwa secara biologis virus Covid-19 memiliki cukup kecerdasan untuk terus bermutasi, menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan lokalnya. Dan hal ini, jelas bukan merupakan kabar gembira.

Ini jelas ancaman serius. Di tengah belum ada cukup penelitian yang memberi gambaran pasti mengenai durasi waktu efektifitas berbagai vaksin Covid-19.

Covid-19 jelas bukan hanya musuh pemerintah. Bukan juga musuh para tenaga Kesehatan. Kita tidak boleh membiarkan mereka berperang sendiri. Covid-19 harus jadi musuh bersama. 

Mengingat ancaman Covid-19 adalah nyata didepan mata maka pilihan paling cerdas yang bisa kita ambil, walaupun progress pemberian vaksin terus meningkat adalah dengan tetap mentaati berbagai protocol Kesehatan.

Baca juga: Jika Punya Kondisi Ini, Anda Tidak Mungkin Divaksin Corona

 Mengkampanyekan protocol Kesehatan lewat Gerakan 5M harus Kembali lagi lebih digaungkan. Untuk membangun kesadaran bersama, bahwa kita bisa mencegah Covid-19 lewat lima Gerakan sederhana itu.

Mencuci Tangan, dengan menggunakan sabun pada air mengalir. Mencuci tangan dengan sabun minimal selama 20 detik. Atau menggunakan cairan pencuci tangan / hand sanitizer. 

Cuci tangan lebih sering setiap hari terutama sebelum memasak atau makan. Cuci tangan setelah menggunakan kamar mandi, dan juga setelah batuk atau bersin.

Hal lain yang juga harus dilakukan adalah bersegeralah mandi sesaat setelah tiba di rumah dari bepergian.

Memakai Masker. Memakai masker wajib hukumnya. Masker yang dipakai adalah yang sesuai dengan standar Kesehatan. Jika didobel usahakan yang benar-benar efektif. Misalnya menggunakan masker medis bersamaan dengan masker kain.

Tidak disarankan mendobel masker kain dengan masker kain. Atau masker medis dengan masker medis. Masker wajib hukumnya bagi orang sehat maupun sakit. Terutama saat berada di area public, atau  di luar rumah.

Memakai masker juga wajib dilakukan di rumah jika terdapat anggota keluarga yang positif Covid-19, ataupun jika ada anggota keluarga yang memiliki potensi besar tertular.

Baca juga: Untuk Belajar Tatap Muka, Selain Vaksin Guru, Hal Apalagi Yang Sangat Perlu Disiapkan?

Misalnya jika salah satu anggota keluarga memiliki kontak erat dengan pasien positif. Terutama mereka yang karena alasan pekerjaan, melakukan kontak erat dengan pasien positif Covid-19.

Menjaga Jarak. Jarak aman agar droplet dari orang yang berbicara, bersin, ataupun batuk di dekat kita tidak mengenai kita adalah 1 meter. 

Dengan demikian menjaga jarak dengan siapa saja Ketika berada di area public adalah 1 meter. Tidak peduli mengenakan masker atau tidak, baik jika selalu menjaga jarak dengan orang lain.

Menjauhi Kerumunan. Menjauhi kerumunan adalah salah satu cara menjaga jarak minimal dengan orang lain. Jika tidak terhindarkan maka usahakan ambil posisi yang membelakangi banyak orang dalam kerumunan. 

Mengurangi Mobilitas. Virus tidak bergerak. Mobilitas kitalah yang membuat virus menyebar dengan cepat. Mobilitas kitalah yang memindahkan virus dari satu tempat ke tempat lain.

Semakin cepat dan masih mobilitas kita, semakin cepat dan masif pula  virus menyebar. Semakin luas sebaran virus semakin besar peluang ia menginfeksi. Jika mau menghentikan penyebaran virus maka, tunda bepergian. Sesederhana itu.

Vaksin tidak 100%  aman. Gerakan 5M bisa jadi adalah senjata andalan terbaik yang kita miliki.

Foto: Detik.com

Sebarkan Artikel Ini:

5
Leave a Reply

avatar
5 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Vaksin Ternyata Tidak 100  Persen Aman […]

trackback

[…] Baca Juga: Vaksin Ternyata Tidak 100  Persen Aman […]

trackback

[…] Baca Juga: Vaksin Ternyata Tidak 100  Persen Aman […]

trackback

[…] Baca Juga: Vaksin Ternyata Tidak 100  Persen Aman […]

trackback

[…] Baca Juga: Vaksin Ternyata Tidak 100  Persen Aman […]