FOMO : Sebuah Anomali Phubbing

Budaya
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – FOMO adalah sebuah istilah asing. Lebih tepat istilah dari bahasa asing. Sebagai sebuah istilah, seharusnya FOMO masih belia. Sejak pertama kali digunakan oleh Ilmuwan Inggris; Andrew K.Przybylski, setidaknya istilah ini baru masuk kamus Oxford pada tahun 2013 lalu.

Fear of Missing Out (FOMO) atau dalam bahasa diterjemahkan sebagai “takut ketinggalan” adalah istilah yang erat kaitannya dengan berselancar dalam dunia virtual di media sosial.

FOMO didefinisikan sebagai perasaan takut atau cemas seseorang apabila ketinggalan sesuatu yang baru: lagi hits, sesuatu yang lagi ngetren, berita atau gosip terbaru terutama di media sosial.

Baca Juga:

Darurat Kecanduan Gawai pada Anak

Namun FOMO juga digunakan untuk menggambarkan ketakutan akan ketinggalan hal-hal baru di dunia aktual; semisal selera fashion dan pernak-pernik aksesorisnya.

Sebagai sebuah gejala kesehatan mental, FOMO berbanding lurus dengan lamanya waktu yang digunakan seseorang berselancar di dunia maya. Semakin lama seseorang memegang gawai, disinyalir memperparah gejala FOMO.

Orang Indonesia, menurut laporan dari aplikasi Annie bahwa orang Indonesia menghabiskan 5,5 jam setiap hari dengan bermain gawai. Ini menjadi yang tertinggi di dunia (liputan6.com,02/11/2021). Di belakang Indonesia ada Brasil dengan durasi waktu 5,4 jam bermain gawai.

FOMO bukan hanya sekedar ketakutan akan tertinggal sesuatu yang baru, yang lagi tren, lebih parah, FOMO juga menunjukan keinginan yang kuat untuk mengikuti atau menyamai yang lagi trend. Entah itu selera fashion ataupun gaya hidup lain.

Baca Juga:

Phubbing dan Kebutuhan Untuk Mendengarkan

Apalagi, kecenderungan manusia, menurut sciensdaily.com, untuk mengukur standar hidup menurut para artis ternama, youtubers dan influencer, yang tampak di dunia virtual.

Sama seperti phubbing, FOMO juga dikenali antara lain dari : susah lepas dari gawai, lebih tertarik pada kehidupan di dunia maya dibanding dunia nyata, berkeinginan kuat (terobsesi) tampil seperti orang lain yang sedang tren, baik itu yang dilihatnya di media sosial maupun dalam kesehariannya di dunia nyata.

Mereka yang mengalami FOMO, cenderung mengukur kebahagiaan dirinya dengan orang lain. Ia merasa bahwa dirinya bahagia apabila sudah menyamai mereka yang sedang tren atau kebahagiaannya ditentukan oleh penerimaan atau pengakuan dari orang lain terhadap dirinya.

Baca Juga:

Survey Digital Civillity Indeks; Neitizen Indonesia Paling Tidak Sopan se-Asia Tenggara

FOMO bisa dibilang anomali dari phubbing. Jika phubbing adalah ketidak pedulian terhadap orang lain disekitar ketika sedang memegang gawai, maka kebalikan dengan FOMO. FOMO  justru merupakan keinginan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.

Jika phubbing hanya tentang dunia maya, maka FOMO adalah  kebutuhan akan pengakuan dari dunia maya sekaligus dunia nyata. FOMO maupun phubbing adalah bentuk keterasingan seseorang dengan dirinya sendiri. Keduanya merupakan pelarian dari diri sendiri.

FOMO dan juga phubbing adalah kompensasi dari kebutuhan akan perhatian. Rasa haus akan perhatian itulah yang memicu FOMO maupun phubbing.

Phubbing menanggapi rasa haus itu dengan berlari keluar menuju dunia maya. Phubbing tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Segenap jiwa dan raganya tertuju hanya pada dunia maya. Ia tenggelam dalam dunia virtual.

Baca Juga:

Hati-hati, Jejak Digital itu Abadi, Bro!!

Sementara FOMO menarik semua perhatian dari dunia maya kedalam dirinya. Ia menuntut kepedulian dan perhatian dari semua orang, terutama orang-orang dari dunia maya, untuk menegaskan keberadaan dan identitas dirinya.

Sama-sama adalah bentuk nyata dari kecanduan gawai, namun dengan gejala yang saling bertolak belakang satu dari yang lain. Walaupun demikian, hemat saya, mengobati gejala ini, baik FOMO maupun phubbing adalah dengan satu “obat” yang mujarab.

Jika Anda dan saya merasa memiliki gejala baik FOMO maupun phubbing maka, lakukan terapi “obat” itu saat ini juga. Segera letakan gawai Anda. Letakan saat ini juga. Kemudian gunakan waktu dengan diri sendiri, kembalilah kepada diri Anda sendiri, tanpa gawai.

Baca Juga:

Membumikan Tajuk Kesehatan Mental Melalui Media Sosial

Saat sudah sampai kedalam diri sendiri,  lakukan semua hal untuk mengapresiasi dan mensyukuri apapun yang ada pada diri sendiri. Tetapkan tujuan dan berjuang dengan keras untuk mencapainya. Apresiasi dan hargai setiap proses yang tengah dan telah Anda jalani. Apapun hasilnya itu hanyalah sebuah akibat.

Selama Anda setia pada proses, di ujung sana pasti sedang setia menunggu kesuksesan besar. Sukses besar itu adalah kemampuan untuk melihat diri sendiri apa adanya, bukan ada apanya.

Foto dari tamindir.com

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Riska Nurhasanah Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Riska Nurhasanah
Guest

ternyata FOMO itu berbahaya ya, saat ini banyak orang-orang yang mengikuti trend dengan “ikut-ikutan” agar tidak ketinggalan. bahaya Fomo ini memang harus kita hindari dengan tidak terlalu larut di media sosial serta jangan takut untuk ketinggalan trend demi kebaikan diri kita sendiri