Bagaimana Jika Belajar Jarak Jauh Diwacanakan Permanen Setelah  Pandemi Covid-19?  

Opini
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Pandemi Covid-19  setahun lebih sudah banyak membawa dampak  perubahan dalam keseharian manusia, termasuk dalam keadaan mental. Kecemasan dan rasa tidak nyaman dialami sebagian besar orang tua, pelajar, mahasiswa , dan tenaga pendidik.

Selain aspek mental,  pandemi covid-19 juga turut mempengaruhi orientasi pemilihan arah karir. Banyak orang tua kebingungan mendaftar anaknya untuk studi lebih lanjut dalam memperjuangkan pendidikannya. 

Hal ini terjadi atas pertimbangan kualitas pengetahuan yang didapat. Banyak orang tua berpikir bahwa penerapan pembelajaran jarak jauh (daring) tidak akan memberikan edukasi yang maksimal.

Baca juga: Sebelas Bulan Berlangsung Pembelajaran Daring, Dapat Menyebabkan Learning Loss?

Pembelajaran daring menyadarkan kita akan potensi internet yang luar biasa, tanpa batas ruang,  dan waktu. Kegiatan  pendidikan bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun.

Sementara itu, jawaban untuk pertanyaan kapan berakhirnya pandemi covid-19 sudah menjadi ketidakpastian yang sangat pasti. Kita tidak tahu sampai kapan situasi pandemi ini akan segerah pulih dan berdamai dalam ingatan. 

Adanya ketidakpastian ini menjadikan pembelajaran daring menjadi kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi oleh seluruh lembaga pendidikan di Indonesia. Tidak hanya itu, adanya pandemi covid-19 menjadikan kita semakin akrab dengan  revolusi industri 4.0 yakni dalam  pemanfaatan teknologi digital.

Pemanfaatan teknologi menjadi tuntutan kebutuhan  setiap orang. Tidak hanya untuk para pelajar,  namun dirasakan oleh semua kalangan.  Pembelajaran daring ini  menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan tujuan memudahkan pelajar, mahasiswa, dan  pendidik dalam melakukan aktivitasnya. 

Baca juga: Tiga Model Sinergi Orang Tua Dan Guru, Dalam Pembelajaran Daring

Namun bagaimana nasib mereka yang penuh keterbatasan ekonomi, lokasi , teknologi dan akses internet? Akibat perubahan ini, beberapa dari kita yang kurang beruntung tidak bisa melaksanakan pembelajaran daring (online) dengan maksimal. 

Hal ini terjadi karena adanya berbagai macam kendala  seperti akses internet yang susah  karena pemerataan akses jaringan di Indonesia yang tidak merata. Tentu keadaan ini menjadi tantangan tersendiri.

Para pelajar dan  tenaga pendidik di daerah terpencil belum mengerti  menggunakan teknologi,  keadaan ekonomi yang terbatas serta kurangnya fasilitas yang memadai dalam proses pembelajaran online.  

Sekolah-sekolah yang menerapkan pembelajaran secara online tentu tidak bisa menjangkau secara maksimal setiap nilai dan bidang pembelajaran yang ada.

Kenyataan ini bisa ditemui dalam nilai pendidikan karakter, mata pelajaran olahraga, dan kebutuhan evaluasi praktikum. Beberapa bagian penting ini menjadi terabaikan.

Secara virtual, proses pembelajaran terjadi tidaklah begitu maksimal. Hal ini terjadi karena banyak sekali keluhan para pelajar, mahasiswa, hingga para pendidik.

Baca juga: Menuju Pembelajaran Daring Yang Lebih Bermakna Dan Esensial

Segenap stakeholder (pelajar dan pengajar) dalam dunia pendidikan yang melangsungkan pembelajaran secara online mulai merasakan kejenuhan untuk belajar. 

Saya menduga, kejenuhan para pengajar diakibatkan karena kurangnya partisipasi para pelajar maupun mahasiswa ketika pembelajaran daring berlangsung.

Pengajar sulit memastikan apakah pelajar maupun mahasiswa mengikuti pembelajaran dengan serius atau tidak.  

Selain itu, para pelajar maupun mahasiswa yang merasakan kejenuhan juga sering kali mengabaikan penjelasan dari para pengajar.

Ketidakpahaman akan materi yang disampaikan juga seringkali menjadikan mereka dengan sengaja mematikan kamera dan mengerjakan tugas  asal-asalan. 

Banyak juga para pelajar maupun mahasiswa yang jenuh akhirnya menjadi malas, telat bangun dan tidak menghadirkan diri seutuhnya dalam mengikuti pembelajaran secara online.

Sehingga dalam hal ini, kendala internet seakan menjadi senjata yang ampuh dalam membenarkan diri, kalau-kalau ditanya oleh para guru maupun dosen.

Baca juga: Mengapa Peringkat Literasi Kita Nyungsep?

Keadaan ini real dialami oleh kami para pelajar dan mahasiswa. Pendidikan yang seharusnya membentuk karakter positif seperti kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, sepertinya terabaikan. Ada degradasi nilai yang terjadi. Ini sungguh tidak bisa dihindari.

Perubahan yang terjadi karena pembelajaran secara online menjadi paradoks tersendiri. Sistem ini bisa saja  membawa kehidupan namun bisa saja membawa kematian.

Kehidupan karena terhindar dari paparan virus corona dan kematian karena terbunuhnya nilai karakter dalam diri para pelajar maupun mahasiswa.

Kemudahan internet juga telah memberi pilihan sekaligus membentuk karakter cepat saji, hingga pada perilaku bermalas-malasan. Hal ini terjadi karena sajian internetlah yang dijadikan sebagai rujukan untuk segala sesuatu. 

Tentu situasi ini akan menggerus nilai-nilai karakter. Para pelajar dan mahasiswa akan sulit mengembangakan potensi yang dimiliki. Karena begitu lekat dengan internet.

Baca juga: Waspada! Banyak Kejahatan Online Menebeng Corona

Lantas, bagaimana jika pembelajaran daring ini terus berlanjut? atau mungkinkah pembelajaran daring akan diterapkan permanen di Indonesia?

Pemerintah dan segenap elemen pendidikan mungkin bisa mempertimbangkan atau mengambil kebijakan-kebijakan lain. Tujuannya untuk mempertahankan pendidikan di Indonesia agar tetap berjalan baik secara merata.  

Sumber foto:ilookunib.com/Penulis adalah mahasiswi Program Studi Manajemen, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of