Mengapa Peringkat Literasi Kita Nyungsep?

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno membeberkan hasil penilaian Programent for Internaitonal Student Assessment (PISA) terkait tingkat literasi siswa di Indonesia masih rendah.

‘’Terakhir  kemarin tahun 2018 menunjukkan bahwa 70% anak-anak kita di bawah level kompetensi minimum dalam membaca, 71% di dalam matematika, 60% sains,’’ ucap totok dalam Rakornas Bidang Perpustakaan 2021 secara daring, senin ( 22/3/2021). (Tribunnews.com)

Sangat disayangkan jika Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.

Dilansir dari Tribunnews.com, berdasarkan sumber yang dilakukan Program for Internaitonal Student Assessment (PISA) yang dirilis Organizational for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019:

‘’Tingkat literasi Indonesia pada penelitian di 70 negara itu berada di nomor 62,’’ ujar Staf ahli Menteri dalam negeri (Mendagri), Suhajar Diantoro pada Rapat Koordinasi Nasional bidang perpustakaan tahun 2021.

Data lain juga mengejutkan. UNESCO seperti dikutip kominfo.co.id, dijelaskan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan.

Dari 1000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca.

Kita bahkan kalah dari  Thailand dan Bostwana, padahal infrastruktur membaca kita jauh lebih baik dibanding kedua negara tersebut.

Baca juga: Perkembangan Teknologi, Godaan Salin Rekat, Dan Literasi Kita

Lebih lanjut, kepala perpustakaan M. Syarif Bando mengatakan persoalan di indonesia adalah rendahnya tingkat literasi.

Literasi bukan hanya sekadar soal kemampuan membaca dan menulis.

Literasi adalah pengetahuan yang mendalam seseorang terhadap suatu subjek ilmu pengetahuan yamg spesifik.

Pengetahuan yang mendalam ini bisa dilihat dari seberapa ia mempraktikkan pengetahuannya itu untuk kebaikan bersama. Ujung dari literasi adalah membangun peradaban.

Rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia disebabkan karena selama berpuluh-puluh tahun bangsa Indonesia hanya berkutat pada sisi hilir.

Syarif mengatakan sisi hilir yang dimaksud yakni masyarakat yang terus dihakimi sebagai masyarakat yang rendah budaya bacanya.

“Otomatis karena diklaim sebagai bangsa yang rendah budaya bacanya, maka rendah pula indeks literasinya”, ujarnya.

Pada saat yang sama, sadar atau tidak, saat ini kita sudah sangat jarang menyentuh yang namanya buku.

Apa lagi untuk membacanya. Kita malah lebih asik bersosial media. Bukan untuk mengakses berbagai pengetahuan.

Tanpa kita sadari hampir setiap hari kita menghabiskan terlalu banyak waktu di depan gadget.

Waktu-waktu ini lebih banyak untuk mengkonsumsi infotaiment.

Sayangnya banyak konten infotaiment kita lebih berisi gosip dan sensasi.

Jauh dari mendidik. Ini menujukkan bahwa tingkat minat membaca kita sangatlah rendah. Ini sangat memprihatinkan.

Keprihatinan ini mendorong kita untuk bertanya mengapa Indonesia sampai diklaim sebagai masyarakat yang rendah budaya literasinya?

Baca juga: Berliterasi Di Taman Baca Waibalun

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan membaca pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau proses yang dilakukan oleh pembaca untuk menerjemahkan dan membangun makna dari pesan yang disampaikan oleh tulisan atau teks.

Kita semua tahu membaca pastinya ada informasi yang dapat kita peroleh yang fungsinya menambah wawasan yang kita miliki.

Tetapi mengapa  budaya membaca kita masih sangat rendah?

Berdasarkan Studi oleh Lilik Tahmidaten dan  Wawan Krismanto  diketahui bahwa ada beberapa faktor pendorong rendahnya  kemampuan dan budaya membaca siswa di Indonesia.

Pertama:  Salah Presepsi Mengenai kemampuan membaca

Salah persepsi tentang konsep kemampuan membaca pada sebagian masyarakat termasuk siswa dan guru.

Faktor ini mungkin disebabkan karena anggapan yang salah baik orang tua maupun guru terhadap kemampuan membaca itu sendiri.

Orang tua, guru dan  masyarakat pada umunya, menganggap bahwa pengajaran membaca telah berakhir ketika seorang siswa sekolah dasar telah mampu membaca dan menulis permulaan yang bisanya dilaksanakan di kelas I dan II Sekolah Dasar.(Krismanto, Halik, & Syaidiman, 2015.)

Kedua: pengembangan kemampuan membaca masih dianggap sebagai bagian dari tangung jawab  mata pelajaraan bahasa saja.

Kurikulum memang membenarkan bahwa membaca adalah salah satu kompetensi yang harus diajarkan dalam mata pelajaran bahasa.

Namun guru mata pelajaran lain pun, harus ikut serta mengembangkan pemahaman dalam kemampuan membaca.

Sebab semua mata pelajaran mengharuskan siswa memahami materi. Ini peran semua guru mata pelajaran.

Baca juga: Menumbuhkan Minat Baca; Harus Mulai Dari Mana?

Misalnya guru mata pelajaran matematika sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan siswa membaca grafik, tabel dan diagram.

Guru mata pelajaran IPS mengembangkan kemampuan siswa membaca dena, peta, guru mata pelajaran IPA mengembangkan kemampuan membaca prosedur.

Ketiga: proses pembelajaran sekolah dasar masih belum memanfaatkan model, metode, strategi, dan media pembelajaran yang beragam dan sesuai untuk pembelajaran membaca memahami.

Selain itu, metode pembelajaran maupun bahan ajar yang digunakan di sekolah masih belum memfasilitasikan pengajaran membaca pemahaman.

Model pembelajaran masih monoton pada kegiatan membaca bacaan lalu menjawab soal di bawah bacaan atau lembar kerja siswa (LKS), sehingga aktivitas pembelajaran membaca menjadi membosankan dan cendrung tidak menarik.

Ada begitu banyak model, metode stategi dan media pembelajaran membaca pemahaman yang sebenarnya bisa digunakan oleh guru dalam mengajar.

Keempat: belum maksimalnya sarana prasarana dan pelayanan perpustakaan sekolah sebagai pusat pengembangan kemampuan membaca siswa.

Bersumber dari data BPS 2017, secara umum, ketersediaan perpustakaan belum mencapai 100% bahkan kurang dari 80%.

Jika diasumsikan satu sekolah satu perpustakaan, maka berdasarkan data 2  dari 10 SD tidak memiliki perpustakaan.

Angka tersebut turun menjadi 3 pada jenjang SMP dan SMA, bahkan pada jenjang SMK, hanya 6 dari 10 sekolah tersedia perpustakaan (BPS, 2017).

Sehingga bagaimana kita mau mengembangkan kemampuan membaca apalagi membumikan Budaya Membaca di Indonesia.

Baca juga: Membaca Itu Piknik. Kok Bisa?

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi persoalan budaya membaca di Indonesia.

Kita perlu merumuskan ulang paradigma pembelajaran membaca, tidak hanya melalui mata pelajaran bahasa (Indonesia dan Inggris) tetapi menyusun model pembelajaran membaca bagi seluruh mata pelajaran.

Selain itu, kita juga perlu menyediakan sarana prasarana perpustakaan sekolah yang diiringi perbaikan tata kelola dan program kerja perpustakaan sebagai pusat literasi di semua jenjang sekolah.

Tetapi jauh lebih penting lagi, adanya program kemasyarakatan atau komunitas yang mendorong pada peningkatan kesadaran dan peran serta masyarakat tentang pentingnya budaya membaca seperti taman baca masyarakat, jam belajar dan sebagainya.

Jadi semoga dengan pernyataan-pernyataan di atas kita lebih sadar lagi akan pentingnya mengembangkan budaya membaca, terutama lebih kepada anak-anak.

Pada setiap jenjang pendidikan, perlu ada apresiasi nyata terhadap kemampuan membaca.

Bukan hanya pengenalan huruf, akan tetapi sampai pada memahami bacaan.

Kita harus berani menggeser paradigma bahwa anak pintar, bukan hanya soal eksak, tetapi juga soal berbahasa.

Sumber foto: ruangguru.com

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Mengapa Peringkat Literasi Kita Nyungsep? […]