Menumbuhkan Minat Baca; Harus Mulai Dari Mana?

Budaya
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Belajar adalah kegiatan yang akan dilakukan dan harus terus dilakukan seumur hidup. Ini diperlukan agar secara intelektual orang dapat terus berkembang dan ini sangat berkaitan erat dengan sukses karier profesional seseorang.

Ini karena karier profesional seseorang mengharuskan para profesional terus belajar, agar tidak tertinggal oleh kemajuan ilmu pengetahuan, sebagai komponen penting yang mempengaruhi karier. Belajar sesungguhnya hanya dapat dilakukan secara intensif dan efektif, ketika orang mau membaca.

Sementara kini, minat baca mendapat tantangan yang sangat serius misalnya dari budaya menonton. Karena tontonan disajikan dengan sangat menarik, sehingga orang lebih tergerak untuk menonton daripada membaca.

Baca Juga : Elon Musk Mendirikan Sekolah bagi Anaknya agar Mereka Memiliki Daya Juang

Jika habit membaca yang sudah terbentuk saja dapat tergerus oleh budaya menonton, apalagi jika belum terbentuk.

Oleh karena itu budaya membaca harus sedini mungkin ditumbuhkan bahkan ketika anak masih berbentuk janin dalam kandungan. Artikel ini bermaksud menawarkan bagaimana minat baca ditumbuhkan sedini mungkin, jauh sebelum anak dihajar budaya menonton.

Menumbuhkan Minat Baca

Mengajarkan anak membaca akan terlambat dilakukan jika baru dimulai ketika anak dapat mengenal huruf dan dapat membaca. Jadi tidak dimulai dengan pengenalan huruf? Betul. Mengajarkan membaca harus dimulai dengan menumbuhkan minat baca terlebih dahulu.

Mengapa demikian? Karena jika minat baca pada anak sudah tumbuh, anak akan termotivasi untuk belajar mengenal huruf. Karena setelah mengenal huruf, anak tahu bahwa ia akan dapat membaca sendiri. Sesuatu yang ia minati, namun selama ini ia bergantung dengan orang lain yang membacakan buku untuk memuaskan minatnya.

Baca Juga:Finlandia, Negara dengan Mutu Pendidikan Terbaik di Dunia

Setelah dapat mengenal huruf dan dapat membaca sendiri, jika anak telah memiliki minat baca maka membaca akan menjadi kesenangan yang selalu ingin diulang oleh anak setiap kali ia mau.

Kesadaran semacam inilah yang dipraktekkan oleh keluarga Yahudi dalam mendidik anak mereka. Oleh karena itu, ketika anak mereka masih dalam kandungan, ayah atau ibu, membacakan Kitab Taurat dan kisah inspiratif tentang para nabi.

Kelak setelah anak lahir, kebiasaan ini dilanjutkan terus, dan tidak hanya bermanfaat untuk menumbuhkan minat baca, namun juga dalam rangka mengembangkan kemampuan bicara anak.

Para psikolog mengatakan bahwa membacakan buku cerita dengan suara jelas di awal kehidupan anak dapat mengembangkan keterampilan bicara. Anak tidak akan belajar bicara dan akan tidak dapat bicara kecuali dia diajak biacara. Membacakan cerita adalah salah satu caranya.

Baca Juga: Orang Yahudi Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan

Oleh karena itu, para psikolog dan ahli patologi mengingatkan, orang tua perlu bercakap dengan penuh ekspresi dengan suara yang jelas, sampai sang anak berusia 3 tahun. Cara paling baik melakukannya adalah dengan membaca cerita.

Di samping membacakan cerita dapat menumbuhkan minat baca dan mengembangkan keterampilan berbicara, membacakan cerita menurut Mem Fox dapat mengembangkan IQ anak.

Dalam pendapat Mem Fox yang adalah seorang penulis dan professor Literacy Studies, melalui membacakan cerita dengan penuh ekspresi, dan suara jelas dapat mempertajam otak anak, mempertajam imajinasi, dan mengembangkan empati.

Di samping itu, kebiasaan ini pun, kata Mem Fox, kelak menjadi landasan untuk mengembangkan kemampuan konsentrasi anak, daya tahan dalam menyelesaikan masalah secara logis, landasan untuk ekspresi diri secara mudah dan jelas.

Baca Juga: Lima Kesalahan yang Menyebabkan Sarjana Fresh Graduate Kehilangan Peluang Untuk Direkrut Bekerja di Perusahaan Impiannya

Mem Fox bahkan menyatakan bahwa untuk meletakkan landasan yang baik bagi pengembangan minat baca, pengembangan intelektual, dan pengembangan sikap sosial tersebut, orang tua perlu membacakan 1000 cerita sebelum mereka mulai belajar membaca sendiri.

Mem Fox menambahkan, bagi banyak orang tua, membacakan 1000 cerita bagi anak kedengarannya menakutkan. Tapi ketika kita jumlahkan, itu tidak sesulit yang kita bayangkan.

Menurutnya, dengan membacakan tiga judul cerita sehari saja, maka ketika anak  Eduers berusia satu tahun saja, target itu sudah terpenuhi. Apalagi hingga anak berusia 4 atau 5 tahun, sebelum anak masuk sekolah.

Bahkan bagi Mem Fox, semakin banyak bahasa yang didengar anak melalui membacakan buku-buku dan mendengarkan percakapan orang, semakin anak siap secara intelektual dan sosial  memasuki sekolah.

Nampaknya keyakinan seperti ini jugalah yang membuat tokoh politik sesibuk Barack Obama menyempatkan waktunya untuk membacakan cerita kepada anak-anaknya setiap malam menjelang tidur.

Baca Juga : Mengapa Sekolah Kita Perlu Kembali ke Fitrahnya?

Melalui rutinitas tersebut, Obama bahkan membacakan hingga tamat, tujuh seri buku Harry Potter. Tahu kan, setebal apa buku-buku karya JK Rowlings tersebut? Dan kebiasaan ini diakui oleh anak-anak Obama, sebagai aktivitas yang menumbuhkan minat baca.

Jadi, membacakan cerita bahkan ketika anak masih dalam kandungan tidak hanya menumbuhkan minat baca anak, namun juga menumbuhkan anak secara intelektual dan sosial.

Tidak hanya itu, membacakan cerita juga menumbuhkan dan membuat minat baca anak jadi memiliki daya tahan, ketika ia digempur oleh godaan budaya menonton. Dan lebih dari itu, anak akan sungguh memiliki landasan yang kokoh untuk belajar sepanjang hayat.

Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com dengan judul: Membacakan Seribu Judul Cerita, Baru Bisa Menumbuhkan Minat Baca Anak? /  Foto  : nakita.grid.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of