Lima Kesalahan yang Menyebabkan Sarjana Fresh Graduate Kehilangan Peluang Untuk Direkrut Bekerja di Perusahaan Impiannya

Bisnis
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Indeks prestasi kumulatif (IPK) boleh tinggi,  namun tidak otomatis menyebabkan sarjana fresh graduate langsung memperoleh pekerjaan. Bisa jadi peluang mereka justru direbut oleh lulusan lain, yang IPK-nya tidak setinggi mereka.

IPK tinggi memang berfungsi hanya seperti password yang menghantar sang fresh graduate untuk lolos seleksi tahap awal. Namun pemilikan soft skill-lah yang menentukan mereka akhirnya diterima atau tidak diterima.

Pemilikan soft skills akan segera terbukti di tahap yang sangat awal. Jika lulusan tidak membekali diri dengan soft skills, sadar atau tidak, akan kehilangan peluangnya untuk diterima.

Kompas.com mengutip rencanamu.com terkait sarjana fresh graduate dengan IPK tinggi yang kehilangan peluang untuk diterima, akibat kesalahan yang terjadi, baik pada saat proses rekrutmen, ataupun sebelumnya. Kesalahan tersebut mengakibatkan sang sarjana tidak diterima bekerja.

Baca Juga: Mahasiswa, apa Prioritasmu?

Berikut sejumlah kesalahan yang bisa membuat sang fresh graduate kehilangan kesempatan bekerja.

  1. Pasang standar gaji terlalu tinggi

Dari hasil observasi ke bagian SDM dan pemimpin perusahaan, Rencanamu.com menyimpulkan bahwa hampir semua perusahaan menetapkan gaji yang sama untuk fresh graduate, tanpa pandang IPK.

Jadi kalau pelamar memasang standar gaji yang lebih tinggi dan memilih tidak bernegosiasi hanya karena nilai IPK yang lebih tinggi, kemungkinan akan lebih sulit diterima.

Rencanamu.com menyimpulkan, menetapkan gaji di atas rata-rata, membuat kamu bisa kalah bersaing dengan kandidat lain dengan IPK yang tak jauh berbeda, namun bersedia bernegosiasi.

  1. Kurang berpikir panjang pada saat magang

Rencanamu.com melaporkan, pada saat menjalani magang, banyak peserta menolak pekerjaan yang menurut mereka “receh”, dan tidak cocok untuk mereka. Mereka tidak menduga bahwa pekerjaan tersebut adalah cara untuk menguji komitmen peserta magang terhadap pekerjaan yang diberikan, apapun jenisnya.

Jika pada saat magang kamu sudah menolak pekerjaan yang kamu anggap sepele dan tidak cocok untukmu, itu akan menimbulkan kesan buruk. Bisa jadi karena itu, perusahaan akan memberi rekomendasi buruk.

  1. One man show

Semasa kuliah, kamu mungkin tipe mahasiswa yang sangat hebat dalam mengerjakan tugas kampus. Kamu bisa bekerja sendiri mengerjakan tugas kelompok, sehingga kamu tidak terlatih bekerja dalam tim. Namun di kantor, kamu tidak bisa “one man show”.

Baca Juga: Apa Kata Jack Ma Tentang Pentingnya Ujian Nasional dan Pengembangan Soft Skill di Sekolah?

Biasanya perusahaan, melalui wawancara ataupun psikotest, menguji kehandalan kemampuanmu bekerja dalam tim. Jika hasil wawancara atau psikotest membuktikan tidak terasahnya kemampuan ini selama kuliah, kamu bisa ditolak perusahaan yang kamu lamar. Orang yang tidak dapat bekerja dalam tim umumnya rentan timbulkan konflik.

  1. Komunikasi Buruk

Banyak anak pintar secara akademik, mempunyai kemampuan komunikasi yang buruk, karena kurang berlatih berorganisasi. Kata-katanya tidak disaring, merasa paling pintar, menggurui, memaksakan pendapat, lebih sering bertengkar daripada mendengarkan, dan menolak pendapat orang lain yang tidak sejalan.

HR recruiter berpengalaman dapat dengan mudah menggali kemampuan komunikasi sebagai soft skills yang penting, melalui proses wawancara dan psikotest. Jika proses tersebut menyimpulkan buruknya kemampuan komunikasimu, besar kemungkinan kamu tidak diterima.

  1. Perilaku di media sosial

Banyak perusahaan telah mengunakan media sosial untuk memperoleh gambaran tentang kualitas dan siapa sesungguhnya calon karyawan. Para HR recruiter melakukan tugasnya dengan mengunjungi media sosial calon yang sedang dalam proses rekrutmen.

Baca Juga : Mutu Tenaga Kerja Indonesia, Revolusi Industri 4.0, dan Antisipasi Lembaga Pendidikan

Di media sosial, orang cenderung menjadi diri sendiri. Maka, mengunjungi media sosial calon karyawan adalah cara yang tepat untuk menyimpulkan sifat asli calon dalam bersosialisasi.

Saat ini, banyak perusahaan menolak calon karyawan yang tidak bersikap inklusif. Kerap menyebarkan sara, kerap mengujar kebencian, dan berkata kasar di media sosial. Karena jika diterima, perilaku seperti ini bisa saja menjadi pemicu konflik di tempat kerja.

Oleh karena itu, perusahaan biasanya tidak menerima calon karyawan dengan konten media sosial seperti itu.

Jika ditelusuri lebih jauh, lima kesalahan tersebut terjadi karena sang fresh graduate tidak memiliki soft skills. Soft skills adalah keterampilan yang wujudnya tidak kelihatan, namun menentukan efektivitas hidup individu secara sosial. Pemilikannya bukan merupakan hasil dari proses seketika. Pemilikan soft skills diupayakan tahap demi tahap secara berkesinambungan, bahkan sejak sekolah dasar. (Tulisan ini sebelumnya tayang si depoedu.com. Kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto: solusik.com)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of