Mutu Tenaga Kerja Indonesia, Revolusi Industri 4.0, Dan Antisipasi Lembaga Pendidikan

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Tingkat pendidikan masyarakat Indonesia setali tiga uang dengan kualitas angkatan kerja Indonesia. Jika data dari Badan Pusat Statistik menggambarkan bahwa proporsi penduduk Indonesia umur 15 tahun ke atas memiliki ijazah tinggi (S1, S2, S3) hanya 8,8%, sedangkan penduduk yang memiliki ijazah SMA sebanyak 26,4%; ijazah SMP 21,2%; dan Ijazah SD sebanyak 43,7%, maka data tersebut sekaligus menggambarkan mutu angkatan kerja kita.

Bambang Brojonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan, dalam banyak kesempatan mengingatkan bahwa memasuki revolusi industri 4.0, harus terjadi pergeseran trend mutu angkatan kerja Indonesia. Menurutnya, saat ini angkatan kerja Indonesia dominan berpendidikan SMP ke bawah, yakni sebesar 64,9%.

Kondisi lebih miris lagi jika kita membandingkan antara jumlah dan mutu angkatan kerja Indonesia dengan negara lain. Jika dibandingkan dengan negara seperti Denmark, jumlah angkatan kerja Indonesia berpendidikan sarjana yang hanya 8,8% tersebut, mempunyai kemampuan setara lulusan SMA di Denmark.

Seperti dilansir oleh Merdeka.com, tenaga kerja lulusan pendidikan tinggi di Indonesia kenyataannya setara dengan lulusan SMA di Denmark. Seorang berijazah sarjana lulusan universitas di Indonesia dan seorang berijazah SMA di Denmark, dalam dunia kerja ternyata mempunyai kualitas yang sama.

Jadi yang bermasalah bukan cuma tingkat pendidikan angkatan kerja kita, tetapi juga mutu pendidikan mereka. Pada akhirnya, kondisi ini jelas berpengaruh pada produktivitas mereka sebagai tenaga kerja.

Revolusi Industri 4.0

Revolusi industri 4.0 ditandai dengan perkembangan teknologi yang terintegrasi dengan jaringan internet, atau internet of thingsbig datacloud computingartificial intelligence, hingga machine learning. Jika pada revolusi industri 3.0 tenaga kerja dibutuhkan terkait mesin produksi, maka pada revolusi industri 4.0 tenaga kerja dibutuhkan dalam perannya sebagai inovator.

Saat ini, upaya inovasi hingga melahirkan produk canggih yang bermanfaat bagi publik, selalu merupakan hasil kerja tim besar, yang melibatkan banyak keahlian spesifik. Oleh karena itu, sumber daya manusia yang dibutuhkan bukan saja mereka yang memiliki pengetahuan mumpuni, melainkan juga yang memiliki soft skills seperti kreativitas, kemampuan berkolaborasi dan bekerja dalam tim, communication skillsproblem solving skillscritical thinking, serta disiplin tinggi dan kemampuan menghadapi tekanan.

Penguasaan soft skills di atas akan memperkuat  kapasitas modal sumber daya manusia untuk kebutuhan revolusi industri 4.0. Sebaliknya, jika tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas modal sumber daya manusia, kemajuan teknologi justru akan mengganggu, bahkan mengancam keberadaan manusia.

Di samping itu, penguasaan soft skills adalah bagian dari pembiasaan tahap demi tahap. Soft skills bukan sesuatu yang dapat dikuasai dalam waktu seketika. Selain itu, upaya penguasaan ini hanya bisa berhasil dilakukan secara kolaboratif oleh semua lini lembaga pendidikan.

Antisipasi Lembaga Pendidikan

Satu-satunya instrumen yang dibutuhkan untuk mengupayakan sumber daya manusia yang bermutu adalah lembaga pendidikan yang antisipatif, yang terdiri dari keluarga serta sekolah hingga perguruan tinggi, secara berkesinambungan.

Oleh karena itu, bagi pasangan muda, pemerintah harus memberi dukungan agar mereka dapat menyiapkan hidup keluarga, menyiapkan diri dengan baik untuk menjadi orang tua, melalui serangkaian kursus persiapan perkawinan, dengan sejumlah modul.

Ilmu yang dapat membekali pasangan muda dalam hal ini antara lain berkaitan dengan perkembangan anak serta pendidikan untuk mereka dalam setiap tahapnya; keterampilan komunikasi, termasuk kemampuan menyikapi konflik dalam hidup rumah tangga; juga keterampilan mengelola keuangan keluarga.

Bagi ibu dari keluarga pra-sejahtera dan sejahtera yang memasuki masa kehamilan, pemerintah perlu memberikan subsidi untuk memastikan janin dalam kandungan memperoleh asupan makanan bergizi guna memastikan bayi yang lahir kelak menjadi anak yang cerdas.

Setelah anak lahir, pemerintah perlu membuat regulasi untuk memberi dukungan paling tidak hingga anak memasuki usia 2 tahun. Tetap menjamin asupan makanan bergizi dan memastikan pada usia  tersebut anak tetap berada dalam asuhan orang tuanya. Oleh karena itu, bagi ibu pekerja, pemerintah perlu mengevaluasi ketentuan mengenai cuti hamil dan cuti melahirkan, untuk menjamin pendidikan anak hingga anak berusia 2 tahun.

Ini adalah investasi yang sangat berharga untuk menjamin lahirnya generasi muda cerdas. Ini adalah tahap yang sangat penting untuk meletakkan landasan yang efektif bagi lembaga pendidikan formal.

Langkah berikut yang harus dikerjakan pemerintah adalah menyelenggarakan pengajaran yang bermutu. Pengajaran yang bermutu adalah pengajaran yang melibatkan sebanyak mungkin indra murid dalam prosesnya.

Murid tidak hanya mendengarkan penjelasan, melainkan juga mengeksplorasi gagasan baru, mencoba apa yang dipelajari dengan melakukan, kemudian merumuskan, melaporkan apa yang dirumuskan sekaligus mempertanggungnjawabkan apa yang dilaporkan. Di sini murid menjadi center of process.

Format pengajaran untuk mewadahi gagasan ini adalah pengajaran siswa aktif seperti proyek lintas bidang studi. Melalui metode semacam ini, murid tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi soft skills seperti kreativitas, keterampilan komunikasi, memecahkan masalah, bekerja sama, ketahanan menghadapi tekanan, dan disiplin murid pun terbentuk. Ini adalah soft skillsyang dibutuhkan pada era revolusi industri 4.0.

Pengajaran dengan metode semacam ini perlu didorong sejak Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi karena pada mulanya, skills adalah pengetahuan yang diyakini manfaatnya. Keyakinan akan manfaat ini akan menyebabkan pengulangan, pengulangan menimbulkan kebiasaan, kebiasaan yang konsisten itulah skills.

Di samping itu masing-masing lembaga pendidikan tidak sibuk dengan dirinya sendiri, tetapi mengembangkan tradisinya, paralel dengan lembaga pendidikan formal di atasnya. Jika di SMP murid dituntut untuk mandiri, maka SD harus melatih kemandirian tersebut. Jika di SMA murid dituntut memiliki public speaking yang baik, maka public speaking harus sudah dilatihkan di SMP. Ini adalah upaya untuk menciptakan kesinambungan. Kesinambungan membutuhkan kesiapan.

Jika dunia kerja membutuhkan communication skillsproblem solving skillscritical thinking, kreativitas, kerja sama, disiplin tinggi dan daya tahan terhadap tekanan, maka perguruan tinggi harus melatih penguasaan skills tersebut. Oleh karena itu, pimpinan lembaga pendidikan tidak hanya menguasai kurikulum di levelnya, tetapi juga menguasai kurikulum level di atasnya.

Ini adalah cara menggeser trend angkatan kerja Indonesia. Akan membutuhkan proses yang panjang dan harus segera dimulai. Jika tidak, kemajuan teknologi pada era industri 4.0 justru mengancam keberadaan manusia Indonesia. Teknologi tidak menjadi sarana yang mendatangkan kemakmuran. *Tulisan ini pernah ditayangkan di www.depoedu.com. Ditayangkan kembali atas izin penulis.* (Foto ilustrasi : fajar.co.id)

 

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Mutu Tenaga Kerja Indonesia, Revolusi Industri 4.0, Dan Antisipasi Lembaga Pendidikan […]

trackback

[…] Baca Juga: Mutu Tenaga Kerja Indonesia, Revolusi Industri 4.0, Dan Antisipasi Lembaga Pendidikan […]