Mengapa “Komunitas Baca Masdewa” Harus Dimiliki Oleh Semua Desa di Flores Timur?

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Sebenarnya sudah cukup lama berencana untuk menulis tentang ini. Keinginan itu menjadi lebih kuat ketika gagasan mengenai pendidikan kontekstual mengemuka. Telah hadir beberapa seri diskusi virtual dengan tema besar pendidikan kontekstual yang diselenggarakan media ini.

Berangkat dari keawaman pemahaman, saya memaksakan diri untuk mengartikan pendidikan kontekstual sebagai proses belajar untuk mencari, mencoba hingga menemukan alternatif solusi bagi berbagai persoalan.

Tidak hanya persoalan dalam ruang-ruang kelas, namun lebih dari itu, menjawab berbagai persoalan sekolah besar kehidupan bermasyarakat

Ketika memikirkan pendidikan kontekstual, contoh paling nyata yang pertama kali terlintas dipikiran saya adalah Komunitas Baca Masyarakat Desa Watololong (Masdewa).

Baca Juga:  Komunitas Baca “Masdewa”, Contoh Nyata Pendidikan Kontekstual

Bagi saya komunitas ini telah melampaui pemikirannya sendiri. Ini yang justru menurut saya menjadi sesuatu yang begitu luar bisa.

Maka tidak berlebihan jika saya dengan sangat yakin mengusulkan bahwa, komunitas seperti ini layak hadir di setiap desa di Flotim.

Mengapa demikian?

Pertama, Komunitas Baca Masdewa hadir sebagai alternatif solusi.

Komunitas Baca Masdewa hadir dilatari oleh  keprihatinan penggagasnya Agustinus Puru Bebe terhadap generasi muda di desanya yang kerap berjudi dan mabuk-mabukkan.

Ulah sebagian generasi muda ini bahkan membuat gerah masyarakat hingga sampai melibatkan aparat desa. Mereka sampai ditegur aparat desa karena mabuk-mabukan.

Baca Juga: Menumbuhkan Minat Baca; Harus Mulai Dari Mana?

Namun kini rumah yang dulunya menjadi tempat mereka kumpul untuk mabuk, kini menjadi tempat kumpul untuk membaca. Tempat untuk belajar.

Sebagai komunitas yang menghimpun anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, Komunitas Baca Masdewa telah mencegah potensi kenakalan remaja seiring uisa pertumbuhan mereka.

Pada usia remaja, anak akan sedang mencari perhatian dan penerimaan dari rekan sebayanya. Ia akan menempuh apapun untuk diterima dan merasa hebat dalam kelompoknya.

Berbagai kegiatan yang dilakukan Komunitas Baca Masdewa, adalah cara mereka mengajak anak beraktifitas positif sekaligus memberi kesempatan mereka untuk diterima menjadi bagian dari kelompok komunitas.

Apalagi sambutan positif dari orang tua dan masyarakat luas menjadi bukti bahwa anak-anak dalam komunitas ini diapresiasi atas setiap prestasi yang mereka raih, seberapapun kecil dan sepele sebuah pencapaian itu.

Baca Juga: Belajar Tentang Pemberdayaan Masyarakat dari Masril Koto dengan Bank Tani-nya

Penguatan positif seperti ini mendorong anak terbiasa untuk berprestasi. Kedepan, anak-anak  bakalan tidak memilih menjadi nakal agar menjadi hebat dan diterima di antara teman sebayanya.

Kedua, para anggota komunitas diajak untuk terlibat menjadi solusi. Dari mengikuti  laman facebook komunitas ini, saya beberapa kali menemukan kegiatan yang menurut saya sangat menarik.

Misalnya para anggota komunitas terlibat aktif menjaga kebersihan lingkungan dengan berbagai kegiatan bersih-bersih di banyak lokasi berbeda di desa mereka.

Ketiga, Mendorong para anggota komunitas untuk saling tolong menolong. Suatu ketika saya menemukan postingan di laman fecebook mereka, anggota komunitas kerja bakti mengumpulkan pasir dan batu sebagai bahan bangunan untuk anggota yang membutuhkan.

Di tengah moderenitas dunia yang membawa konsekuensi setiap orang menjadi lebih individualistis, gerakan untuk membangun kepedulian sesama anggota komunitas seperti ini pasti sangat membesarkan hati.

Baca Juga: Ruh Gemohing dan Sosialisme Marx

Gemohing sebagai kearifan lokal ditutur wariskan lewat tindakan nyata mereka.

Keempat, tidak hanya mewarisi semangat gemohing, lewat mempelajari, berlatih hingga mementaskan tarian daerah menandakan bahwa Komunitas Baca Masdewa tetap berpijak pada budayanya.

Identitas kultural mereka tetap menjadi landasan pijak walaupun mereka harus diajak terbang tinggi menggapai berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini.

Buku-buku bacaan barangkali membawa mereka melalang buana ke tengah moderenitas dunia yang tak berujung, namun tapak kaki mereka tetap mengakar  pada tradisi dan nilai budaya warisan leluhur.

Kelima, kedaulatan ekonomi. Berbagai kegiatan yang mereka selenggarakan harus didukung dengan logistik yang memadai.

Panggilan untuk segera menyelesaikan tulisan ini justru ketika sekali lagi melihat gerakan “Beloma Puan” yang mereka lakukan.

Pangan Lokal “Beloma Puan”siap di Pasarkan Komunitas Baca Masdewa / Foto dari Facebook Puru Bebe

Mengenai kacang goreng dan sapu lidi yang mereka buat dan pasarkan sudah diulas dalam tulisan sebelumnya, kemudian kehadiran “Beloma Puan”yang mereka gagas ini menunjukan bahwa semangat kemandirian selalu menjadi roh komunitas ini.

Baca Juga: Upaya Membangun Kearifan Lokal dalam Pendidikan

Makanan khas yang dimasak dalam bambu ini menjadi ajang promosi pagan lokal yang tentu memiliki pangsa pasar yang baik  di tengah masyarakat

Kedaulatan ekonomi tentu memiliki konsekuensi yang tidak sederhana. Sebagai komunitas, kemandirian tentu menjadikan Komunitas Baca Masdewa memiliki level yang berbeda dari komunitas atas nama Kelompok Belajar Masyarakat (KBM) yang banyak ada di Flores Timur.

Inilah sedikit alasan mengapa Komunitas Baca Masdewa menjadi contoh yang harus ada di setiap desa. Lima hingga 10 tahun kedepan, remaja-remaja kita lebih tertarik pada membaca dari pada berjudi, minum mabuk atau kenakalan remaja lainnya, demi sekedar mendapatkan pengakuan.

Tidak hanya itu, pewarisan budaya tentu menjadi kebutuhan yang sama pentingnya bagi generasi berikutnya. Budaya populer global sebagai konsekuensi dari berbagai kemajuan teknologi informasi yang sedemikian cepat perlu di tandingi melalui komunitas yang mengisi aktifitasnya dengan mewarisi nilai budaya lokal.

Baca Juga: Pendidikan Kontekstual dan Gerakan Konservasi Lingkungan: Mencari Penggerak Perubahan Kolektif untuk Konservasi Lingkungan

Lebih lagi generasi kita harus dibiasakan untuk berpikir dan bertindak produktif, jika tidak kita hanya akan menjadi pasar yang konsumtif bagi berbagai produk budaya luar.

Dan saya percaya bahwa  10 tahun lagi wajah Flores Timur pasti akan berbeda jika komunitas seperti Komunitas Baca Masdewa ini ada di setiap desa di Flores Timur.

Foto : Agustinus Puru Bebe dan Anggota Komunitas Baca Masdewa / Foto dari facebook Puru Bebe

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of