Fenomena Politik dan Peran Pemuda

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Politik bagi saya adalah hal yang sederhana. Jika boleh didefinisikan, politik menurut saya adalah berikthiar untuk mencapai kehidupan yang sejahtera. Kesejahteraan bukan untuk diri sendiri tapi untuk masyarakat luas.

Dengan begitu maka politik sebagai media untuk menyentuh masyarakat yang belum merasakan hidup sejahtera.

Masyarakat yang sejahtera yakni masyarakat yang paling tidak kebutuhan pokoknya bisa terpenuhi dan bisa hidup aman dan damai.

Berdasarkan indikator kesejahteran ini saya melihat bahwa masih ada faktor-faktor penghambat yang membuat masyarakat belum bisa hidup sejahtera.

Infrastrukur jalan, akses untuk menuju ke perkebunan, persawahan dan menuju ke pasar, dibanyak titik, masih memprihatinkan. Sementara masyarakat tetap melakukan pembayaran pajak kendaraan roda dua dan roda empat.

Disadari bahwa menentukan siapa yang menggunakan politik sebagai media untuk kesejahteraan masyarakat tidak semudah membalikan telapak tangan.

Baca Juga: Menanti realisasi janji politik anggota DPRD NTT periode 2019-2024

Banyak orang berlomba menjadi aktor politik dan mendalami bagaimana menggunakan politik dengan sebaik-baiknya. Mulai dari belajar teorinya politik kemudian menggunakan teori untuk menganalisa fenomena politik yang sedang terjadi.

Hasil dari analisa ini untuk menawarkan solusi yang hebat tidak lain tidak bukan untuk kesejahteraan masyarakat.

Namun banyak juga yang menggunakan cara-cara kotor, untuk mengakses kekuasaan politik. Mereka yang memiliki uang banyak, bisa dengan politik uang. “Serangan fajar” untuk memikat para pemilih.

Selain itu ada juga orang yang ingin menjadi aktor politik hanya sekedar untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan.

Salah satu contoh umum di Indonesia yang tidak saya sebutkan secara eksplisit. Mungkin sebagai sindiran lain yang lebih tepat, yang pernah terjadi. Banyak artis yang tiba-tiba menjadi aktor politik, tidak memiliki latar belakang ilmu politik, namun langsung digiring masuk menjadi calon anggota DPR hanya untuk mendulang suara bagi partai politik.

Praktek ini tentu tidak sehat bagi perkembangan demokrasi kita kedepan. Apakah mereka sanggup terlibat akktif dalam tugas dan tanggung jawab mereka sebagai wakil rakyat? Apakah mereka punya cukup kapasitas dan kapabilitas untuk terlibat dalam penyusunan berbagai regulasi?

Sering dijumpai fenomena politik menjadi alat untuk mencapai kekuasaan atau jabatan tertentu. Mereka yang mendapatkan kekuasaan dan menggunakan kekuasaan itu untuk kepentingannya sendiri dan segelintir orang atau kelompoknya.

Politisi seperti ini adalah mereka yang tidak menjiwai arti politik yang sederhana yakni sebagai upaya untuk mencapai kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Baca Juga: Pendidikan Karakter dan Upaya Melawan Perilaku Korupsi

Banyak juga politisi yang sungguh memahami, dalam terori, bahwa politik adalah media untuk kesejahteraan masyarakat banyak, namun karena terlena dengan jabatan yang strategis untuk meraup keuntungan.

Mereka membelokan arti politik sesungguhnya yang ia ketahui dan mulai memainkan akrobat politiknya.

Kita bisa melihat visi dan misi yang di kampanyekan waktu kampanye yang sangat memukau, ia mulai tidak fokus dan malah membuat hal lain yang sebetulnya tidak penting dan jauh dari visi misinya sendiri.

Untuk politisi, baik eksekutif maupun legislatif yang seperti ini, maka peran pemuda dan mahasiswa sebagai agen perubahan harus bisa memaikan peran strategis untuk mengingatkan mereka.

Peran pemuda dan mahasiswa harus lebih getol untuk terus menuntut mereka sebagai pemangku jabatan politik, agar setiap saat mereka lebih sadar akan tugas dan tanggungjawabnya untuk mensejahterakan masyarakat umum.

Bukan hal yang berlebihan ketika pemuda dan mahasiswa memberi keritikan atau sampai turun ke jalan dalam aksi demonstrasi.

Maka sangat disayangkan ketika ada yang tidak suka bahkan marah kepada pemuda yang turun ke jalan untuk menyampaikan pendapat lewat aksinya itu. Seharusnya apa yang mereka perjuangkan didukung oleh semua lapisan masyarakat.

Namun kita juga harus menolak dengan tegas apabila aksi mereka diikuti oleh perilaku kriminal atau pengrusakan. Kita juga tentu tidak mendukung ketika mereka menggunakan kekuatan fisik.

Baca Juga: Mahasiswa, apa Prioritasmu?

Namun aksi mereka “menjotos jidat” pejabat yang suka korupsi, kolusi dan nepotisme itu lewat apa yang mereka suarakan harus kita dukung.

Saya dengan etika orang Lamaholot seutuhnya akan selalu sepakat dengan aksi demonstrasi yang damai.

Walau dengan kata-kata orator yang menusuk di kalbu dan kadang kedengarannya seperti kasar sekali namun tetap mengedepankan tradisi orang Lamaholot yang mencintai dan menyayangi saudaranya.

Tidak hanya turun dalam aksi protes di jalan, yang juga penting dilakukan adalah dengan terus belajar berbagai disiplin ilmu yang sedang kita geluti.

Pengetahuan dan keterampilan yang bisa kita sumbangkan secara langsung maupun tidak langsung untuk kesejahteraan masyarakat.

Sebagai kompenen bangsa, tugas mensejahterakan masyarakat adalah tanggung jawab kita semua.

Pemuda dan mahasiswa lawan terus kebijakan yang tidak berpihak terhadap masyarakat dan tuntut terus hak masyarakat yang belum sempat terrealisasi dari janji-janji politik.

Tuhan dan Lewotanah menyertaimu selalu dalam melakukan perjuangan demi kepentingan umum. Yakinlah bahwa usahamu tidak akan sia-sia di umurmu yang masih muda. Semoga Panjang Umur Perlawanan. (Foto dari akun Facebook Rifaiz Lamahoda)

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Fenomena Politik dan Peran Pemuda […]