Etik, Estetika dan Biopower : Menjumpai Sastra Indonesia di Tengah Pandemi

Hobi
Sebarkan Artikel Ini:

“Bahasa adalah Rumah. Di rumahnya manusia tinggal. Mereka yang berpikir dan mereka yang menciptakan dengan kata-kata adalah penjaga rumah ini.” 𝗠𝗮𝗿𝘁𝗶𝗻 𝗛𝗲𝗱𝗲𝗶𝗴𝗴𝗲𝗿

Eposdigi.comPengantar : Seorang perempuan tua berusia 59 tahun asal Witihama, Adonara mengalami guncangan hebat setelah ia menyaksikan jagung yang ia tanam dua bulan lalu, berakhir menyedihkan disapu Badai Seroja pada tanggal empat April 2021.

Ia duduk meratapi jagung-jagung menyedihkan itu sembari mengingat betapa kehidupan telah membuat ia celaka dua kali.

Sebelum kematian jagung-jagung itu, di awal Maret tahun 2020, ia berhenti berdagang setelah apa yang ia tonton melalui salah satu siaran televisi nasional memberitakan kehadiran pandemi Covid-19.

Di depan televisi yang sama, ia duduk sambil mengerutkan kening.

Ia tidak mengenal apa yang disebut oleh media tentang Covid. Ia mendengar jumlah kematian seperti yang dilaporkan oleh pembawa acara di televisi itu.

Keputusan lekas ia ambil, ia akan berhenti jualan di pasar untuk sementara waktu dan memilih pergi ke kebun untuk mengurus lahan-lahan yang kesepian guna menyambung hidup.

Baca Juga: Teh dan Pengkhianat: Permajasan Hingga Penulisan Hasil Riset

Keputusan itu tidak menumbuhkan jagung. Ia menumbuhkan air mata serta kesedihan mendalam. Keputusan yang telah ia buat menghasilkan sebuah perjumpaan baru bagi dirinya, sebuah kegelisahan yang selalu ia kenang di hari-hari selanjutnya.

Ketika kami berbicara melalui saluran telpon, perempuan tua itu menceritakan model perjumpaan yang kemudian menghasilkan keluh kesah dan kesia-siaan.

Cerita itu membawa saya pergi pada sebuah model refleksi yang lain tentang tubuh di dalam pertarungan berbagai wacana. Tubuh kita selalu berjumpa dengan siapa saja.

Ia berjumpa dengan kebahagiaan, kesedihan, suasana mencekam atau bahkan sekarang yang kita alami hingga memunculkan berbagai dilema dalam diri kita adalah berjumpa dengan pandemi.

Apa yang tidak pernah kita bicarakan tentang perjumpaan? Apakah di tengah situasi pandemi, membicarakan perjumpaan adalah sesuatu yang menakutkan bagi kita? Atau barangkali kita perlu alasan guna berjumpa?

Kita perlu lebih banyak tenaga guna menelusuri jalan berbatu, terlempar keluar dari diri kita, mencari ‘tubuh’ Indonesia yang ringkih di tengah situasi kita.

Tulisan ini berusaha menjadi semacam jalan lain kita membicarakan sesuatu yang tidak pernah kita bicarakan tentang perjumpaan dan pandemi. Tentu dengan satu dan lain cara, kita membaca kembali hubungan Etik, Estetik dan Biopower dalam medan kesusastraan Indonesia.

Baca Juga: Besipae dan Imajinasi tentang NTT

Tulisan ini juga menghadirkan berbagai ilustrasi karya-karya sastra kita guna menjadi pembanding kehadiran sastra kita di tengah gempuran ekonomi politik global. Tentu tulisan ini akan melihat teks tidak sebagai sebuah teks dalam pengertian harafiah.

Kita akan melihat teks dalam kerangka wacana dengan maksud bahwa  kita bisa merekonstruksi fungsi teks, bukan menurut kaidah pembentukan konsepnya, tetapi menurut tujuannya, strategi yang mengaturnya, dan program aksi politik yang diusulkannya. (Foucault, 1978)

Merefleksikan Kembali Dimensi Etik dan Estetik dalam Karya Sastra

Dewi Ayu hidup pada masa kolonial. Ia tahu betapa sulit menjadi perempuan di masa itu. Ia tidak punya pilihan selain menjadi seorang pelacur.

Tentu jalan menjadi seorang pelacur tidak kelihatan mudah baginya, terutama di hadapan lelaki yang selalu punya gairah ingin menyetubuhi perempuan paling cantik di Halimunda itu.

Tetapi tepat di wilayah itulah Dewi Ayu berusaha melawan setiap kemapanan bahwa seorang perempuan harus mempunyai suami, menjadi ibu dari dua atau tiga anak.

Atau ia justru harus tetap berada di dapur sebagai ruang dimana menampung segala penderitaan dan keluh kesah disaksikan oleh tungku tiga batu.

Baca Juga: Besi Pare Tonu Wujo – Dewi Sri Orang Flores Timur Versi Muhan

Di masa kolonial, menjadi pelacur adalah satu dan lain cara dari perlawanan seorang perempuan. Tidak sedikit orang-orang seperti Dewi Ayu berusaha pergi pada berbagai upaya membongkar standar tentang perempuan seperti yang telah dirumuskan sekaligus diwarisi oleh kolonial Belanda.

Tidak sedikit pula dari mereka yang tidak berdaya karena ancaman dan krisis sosial yang kapan saja dapat mereka alami dari masyarakat sekitar.

Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan menjadi dekat dengan kita justru bukan pada dimensi ketubuhan Dewi Ayu, atau profesi Dewi Ayu sebagai seorang pelacur.

Selain dimensi estetik yang tergambar dalam gaya bercerita, dimensi etik yang hadir melalui berbagai problematisasi di dalam karya itu membuat ia tidak hanya menjadi karya sastra, melainkan ia semakin memiliki nilai etik.

Leila S. Chodri misalnya, melalui novel Pulang, kita dapat memeriksa bahwa kehadiran dimensi etik dan estetik yang melebur dalam diri Dimas Suryo, Nugroho, Tjai, dan Risjaf berhasil melukiskan dengan baik bagaimana PKI menjadi wabah yang harus dibasmi.

Kita menemukan PKI di tangan Leila justru tidak sebagai bentuk kekejaman rezim. Melampaui itu, ia hadir sebagai masa lalu di hadapan masa kini, guna merefleksikan apa yang telah bangsa kita lakukan terhadap sejarah masa lalu.

Dua dimensi besar dalam karya sastra memungkinkan kita pergi pada berbagai situasi dalam hidup kita, dan tetap merasa relevan bukan karena kasus pembunuhan tertentu atau bukan karena kita tak pernah selesai dengan setiap sejarah bangsa ini.

Baca Juga: Ilalang Tanah Gersang *

Tetapi justru kita dapat belajar dari bagaimana dimensi sosial politik bisa kita lebur bersama di dalam setiap karya sastra.

Pramoedya Ananta Toer melalui tetralogi Pulau Buru tidak sedang memberitahu pada kita tentang kolonialisme semata. Ia ikut memberikan dimensi etik dalam karyanya dengan kehadiran tokoh Minke, guna merekonstruksi wajah pribumi.

Kita melihat kehadiran tokoh Minke sebagai sebuah bentuk penggambaran visual masa lalu bukan tentang keterjajahan semata, melainkan ada wilayah ekonomi politik, sosial dan semangat nasionalisme.

Di dalam sastra, kita tidak hanya berjumpa dengan berbagai catatan sejarah yang diolah sedemikian rupa membentuk lautan luka dan harapan. Di dalam sastra kita kemudian diberikan kesempatan bertemu gereja dan Tuhan dengan cara yang berbeda.

Melalui tangan Hans Hayon, gereja diterjemahkan tidak hanya sebagai sebuah kumpulan cerita pendek. Gereja di ubah menjadi sebuah medan refleksi antara dimensi etik dan estetik.

Di tangannya, Tuhan Mati di Biara, berubah menjadi cara kita mengenal kematian adalah cara kita mengenal Allah.

Tuhan Mati di Biara berubah menjadi Tuhan dalam dimensi esensialnya, ternyata tidak mudah diterjemahkan oleh manusia dalam medan kuantum kehidupannya.

Baca Juga: Mencari Sang Pangeran dari Timur yang Sebenarnya

Tuhan melalui gereja seakan mengambil jarak sangat jauh dari realitas kehidupan manusia.

Karya-karya ini menjadi penting untuk dibaca bukan karena dimensi estetiknya melainkan karena mengandung dimensi etik di dalam setiap pembentukan karya.

Kemampuan sastra mempertanyakan segala sesuatu berangkat dari berbagai peristiwa persis ketika sastra berdiri di setiap momen, bukan dalam dimensi liberasi melainkan dalam dimensi emansipatoris.

Dimensi liberasi hadir hanya sebagai bentuk memberikan jawaban bagi setiap individu dalam setiap problem keindividuannya.

Ia tidak hadir sebagai kemampuan merumuskan masalah bersama karena sastra dilihat hanya berdiri sendiri tanpa mampu dihubungkan dengan keadaan sosial politik, ekonomi politik dan geopolitik.

Dimensi emansipatoris menjadi penting dalam setiap karya sastra. Dimensi ini tidak untuk menyeret sastra pada berbagai jawaban tentang pertanyaan yang dihadirkan.

Melainkan mempertanyakan setiap pertanyaan, menggugat setiap jawaban dan berdiri di tengah realitas memberikan perpektif berbeda dalam melihat berbagai peristiwa.

Baca Juga: How to Be a Leader

Tepat di wilayah inilah kita kemudian patut lebih gelisah dari sebelumnya, bahwa sastra kita berada persis dalam dilema antara kebutuhan estetik oleh penerbitan, kebutuhan akan cara mengatasi dilema kehidupan, jauh lebih besar daripada mempertanyakan setiap peristiwa dalam dilema-dilema itu melalui dimensi etik.

Sastrawan kita kehilangan tenaga melihat pandemi hadir sebagai biopower, pendisiplinan tubuh sosial, atau sebagai wabah yang membuka kembali kotak pandora sastra Indonesia.

Kita menemui sastra yang ringkih, sastra yang menyedihkan dan sastra yang enggan berjumpa dengan pembaca melalui karya-karya yang dilahirkan oleh para penulis kita. Bersambung…

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of