Mencari Sang Pangeran dari Timur yang Sebenarnya

Hobi
Sebarkan Artikel Ini:

Judul              : Pangeran dari Timur

Penulis           : Iksaka Banu dan Kurnia Effendi

Penerbit         : Bentang

Tahun Terbit : 2020

Eposdigi.com – Buku setebal 594 halaman  ini konon dikerjakan selama 20 tahun. Tak heran saat membaca buku ini, pembaca disuguhi berbagai hasil riset serius dari kedua penulisnya.

Terbagi dalam 45 bab, buku ini sebenarnya memaparkan dua kisah yang berbeda. Kisah pertama adalah kisah hidup Raden Saleh, dan kisah kedua tentang masa pergerakan yang diwakili pergulatan hidup tokoh Syamsudin, Ratna Juwita, Syafei, dan Pit Liong.

Kedua cerita ini berselang-seling. Hal ini membuat pembaca bingung jika tidak mencermati latar waktu yang dituliskan dalam tiap bab. Kisah Raden Saleh dimulai dari masa kecilnya dan berakhir saat Raden Saleh tutup usia. Sedangkan kisah pergerakan dimulai dengan pertemuan tokoh Syam dan Ratna.

Baca Juga: Mengenal Nilai Budaya Luhur Dalam Serat Centhini – Jilid I

Dengan adanya dua kisah dalam satu buku, pembaca sebenarnya bisa memilih membaca berurutan satu kisah terlebih dahulu.

Misalnya, membaca dari awal hingga tuntas kisah Raden Saleh. Kemudian, baru membaca dari awal kisah masa pergerakan. Namun, novel ini pun tetap bisa dinikmati dengan membaca bab per bab berurutan.Novel ini dibuka dengan kisah pertemuan Syamsudin dan Ratna Juwita. Pada pertemuan itu, keduanya berdiskusi mengenai aliran seni rupa. Pembahasan tentang aliran seni rupa tersebut terasa sangat berat bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan dan minat yang memadai.

Sedikit berbeda ketika membaca kisah masa pergerakan di bagian selanjutnya. Hal ini mungkin dikarenakan cara berkisahnya yang relatif lebih ringan. Kekhasan Iksaka Banu yang meletakkan hasil riset pada dialog muncul pada saat tokoh membahas suatu hal.

Sedangkan Kurnia Effendi yang piawai merangkai diksi memberi nuansa jalinan cerita yang terasa ringan dan jauh dari kesan sedang membaca buku sejarah.

Buku ini jelas memberi porsi paparan yang cukup banyak di bidang seni dan kebudayaan. Hal itu, salah satunya, muncul saat Raden Saleh diminta melukis putra Raja Kwaku Dua dari Kerajaan Ashanti. Jan Verveer menceritakan Belanda menggunakan pendekatan budaya untuk bisa menjalin kerja sama dengan Kerajaan Ashanti.

Baca Juga: Gelembung Terakhir Rahwana: Quo Vadis, Hendra?

Di sisi lain, berbagai kritik juga disampaikan dalam buku ini. Kritik mengenai pemikiran tentang perjuangan, misalnya. Dituliskan di halaman 302, Syamsudin menyampaikan pada Syafei bahwa nasionalisme dan rasa merdeka tidak selalu diperjuangkan dengan perang.  Menurutnya, bekerja sebaik-baiknya bisa membawa kehormatan dan pengakuan akan kemampuan seseorang.

Sesuai dengan judulnya, ada lima kisah dimana julukan Pangeran dari Timur ini dimunculkan. Julukan itu pertama kali muncul dan diberikan oleh Ida von Reinsberg-Duringsfeld kepada Raden Saleh di halaman 156.

Di halaman 444, dikisahkan Ratna Juwita dan Pit Liong mencari kostum untuk pementasan Tiga Raja dari Timur. Pada saat itulah Pit Liong mengenakan salah satu kostum dan Ratna mengatakan bahwa Pit Liong adalah Pangeran dari Timur. Sementara itu, di halaman 573, Ratna Juwita yang tengah teringat pada Syafei berpikir bahwa pujaan hatinya itu merupakan Pangeran dari Timur yang sebenarnya.

Baca Juga: Teh dan Pengkhianat: Permajasan Hingga Penulisan Hasil Riset

Lain halnya di halaman 578, dituliskan Pit Liong membuka kembali peti barangnya dan menemukan kostum yang pernah dipakai di depan Ratna Juwita. Pada saat itulah dia merasa bahwa dirinya adalah Pangeran dari Timur.

Julukan itu muncul kembali di halaman 588 dalam surat Kwasi Boakye, pangeran Kerajaan Ashanti, yang mengabarkan kematian Raden Saleh pada Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Jadi, siapakah Pangeran dari Timur yang sebenarnya? Apakah julukan itu tepat jika diberikan pada Raden Saleh, Pit Liong, atau justru pada Syafei?

Tampaknya penulis memberikan kebebasan pada pembaca terkait hal ini. Pembaca akan memiliki simpulannya masing-masing setelah membaca tuntas novel ini.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari buku ini. Novel ini tidak hanya bicara dengan apik tentang kisah hidup Raden Saleh saja. Pangeran dari Timur ini juga membicarakan topik lain yang saling berkaitan dengan seni, budaya, politik, dan tentu saja semua peristiwa yang terjadi pada latar waktu cerita tiap bab.

Namun demikian, novel ini juga memiliki beberapa bagian yang terasa kaku. Hal ini dikarenakan ada bab tertentu yang berisi kutipan surat atau koran.

Baca Juga: Ilalang Tanah Gersang 

Penyajian kisah yang demikian memang menunjukkan bahwa novel ini digarap berdasarkan data dan riset yang komprehensif. Masalahnya, pembaca tentu mengharapkan seluruh kisah dapat disajikan dan terjalin dengan luwes. Di sisi lain, kesalahan ketik atau adanya kalimat yang bertentangan bisa diperbaiki di cetakan selanjutnya.

Terlepas dari beberapa kekurangannya, karya fiksi sejarah ini berhasil memberikan gambaran pada pembaca tentang Raden Saleh juga tentang masa pergerakan. Beberapa lukisan Raden Saleh juga peta Digul (1935—1942) melengkapi novel tebal ini.

Novel ini jelas bukan novel yang mudah dibaca, setidaknya untuk saya –pembaca tanpa latar pendidikan, pengetahuan, dan minat yang memadai di bidang seni rupa-.

Namun, novel ini sangat patut dihargai. Hal itu bukan semata-mata karena didasarkan pada riset yang begitu serius, tetapi juga karena novel ini berhasil menyajikan fakta sejarah dengan baik.

Pada titik tertentu pembaca dapat memanfaatkan novel ini untuk melakukan konfirmasi dan berdampak pada peningkatan pengetahuan.

Penulis adalah Dosen Universitas Katolik Musi Charitas Palembang.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of