Ilalang Tanah Gersang *

Hobi
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Kata-katanya sederhana. Ia menggambarkan dengan begitu apa adanya. Ya! Tanpa dibuat-buat. Ceritanya mengalir begitu saja, mengajak pembaca – bagi yang tidak mengenal Witihama – menyelami wilayah itu dan para tokoh yang terlibat dalam cerita ini.

Tentang peran seorang ibu. Deran – sang ibu sama seperti kebanyakan perempuan yang mengambil alih tanggung jawab kepala keluarga. Entah karena ditinggal mati suami atau ditinggal merantau.

Deran mewakili kaumnya yang harus membanting tulang. Mengolah kebun garapan milik orang lain. Sementara sepulangnya dari kebun menghabiskan waktu istirahatnya dengan mengurus rumah tangga.

Atau para pemudanya yang begitu “solider” dalam rokok dan tuak. Seolah ia menjadi pusat segala dinamika. Dua benda itu melambangkan jarak pertemanan. Semakin sering ia dibagi semakin erat solidaritas di antara mereka.

Tentang tarik ulur antara tanggung jawab adat dengan sisi komersial dari hewan piaraan. Kambing dan Babi hewan ternak piaraan utama masyarakat di sana lebih berarti tanggung jawab adat.

Jika gilirannya tiba, dan entah kapan pun waktunya, harapan akan segepok uang sebagai kompensasi logis dari segala jerih lela membesarkan hewan piaraan itu, mengalah pada tuntutan adat. Semua orang gelisah akan hal demikian, namun nyaman menepuk dada.

Bangga akan tanggung jawab besar adat tradisi masyarakatnya yang dapat tertunaikan. Walaupun itu berarti menggesaer sekian jauh kebutuhan lain – biaya pendidikan anak – misalnya.

Tentang nilai ekonomis tanah kebun warisan keluarga besar. Yang tak akan dilirik oleh siapapun selagi masih menjadi lahan tidur. Ia yang kemudian menjadi rebutan, saling klaim hak atasnya ketika sudah ada sesuatu yang memiliki nilai ekonomis tumbuh di atasnya.

Tentang merantau yang menjadi pilihan demi harapan akan perubahan hidup. Dan kemudian Negeri Jiran Malaysia yang menjadi pilihan sebagian besar pemudanya. Tentu berangkat ke sana tanpa dibekali keterampilan yang memadai. Apalagi urusan legal formal selayaknya tenaga kerja asing.

Ibunya yang janda. Solidaritas dengan teman sebayanya. Tentang tanah kebun warisan orang tuanya yang diklaim sebagai hak  adik ayahnya. Menjadi buruh serabutan dan tentang gajinya.

Tentang harapan akan kehidupan yang lebih baik yang kemudian membawanya kembali ke kampung halamannya. Ia membawa harapan dalam genggaman. Yang kemudian ia wujudkan dalam bentuk sebuah rumah dan keberhasilan studi anaknya.

Kehidupan yang dialami Daruk, tokoh utama dalam novel ini mewakili kehidupan yang dijalani  sebagia besar masyarakat Witihama. Alur cerita dengan lebih banyak satir membawa kita menyelami sambil menyelidiki dinamika kehidupan di sana. Mempertanyakan ruang batin siapa saja yang menjalaninya. Dengan jujur dan apa adanya.

* Judul tulisan ini adalah sama dengan sebuah novel yang ditulis oleh Kopong Bunga Lamawuran. Ia adalah pemuda dari Witihama – Flores Timur – NTT. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain Novel Rumah Lipatan (2012) dan antologi cerpen Perzinahan di Rumah Tuhan (2017).

Digiers dapat menghubunginya melalui akun Facebook : Ambuga Lamawuran atau melalui WA 0853 3358 5828.

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Ilalang Tanah Gersang  […]