Bagian I: Ketika Leluhur Menjadikan Perkawinan Sebagai Jembatan Persaudaraan. “Kita bisa ambil perempuan dari suku ini, tetapi kita kasih perempuan ke suku itu.”
Eposdigi.com – Kalimat itu mungkin sudah puluhan bahkan ratusan kali kita dengar dari orang tua, kakek, nenek, atau para tetua adat di Wailolong.
Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin terdengar biasa saja. Namun, bagi mereka yang ingin memahami adat lebih dalam, kalimat sederhana itu sesungguhnya menyimpan sebuah “kode rahasia” tentang bagaimana leluhur membangun kampung ini.
Banyak anak muda mengenal nama klannya sendiri. Mereka tahu mereka berasal dari Daton, Hurint, Waton, Ritan, atau Doren. Akan tetapi, tidak sedikit yang belum memahami mengapa satu klan mengambil perempuan dari klan tertentu, sementara kepada klan lain justru mereka memberikan anak perempuannya.
Baca Juga:
Wua Malu: Ketika Sirih Pinang Menjadi Bahasa yang Lebih Tua dari Kata-kata
Apakah semua itu terjadi secara kebetulan? Jawabannya adalah tidak.
Di balik setiap perkawinan adat, leluhur telah menyusun sebuah jaringan hubungan yang sangat rapi. Jaringan itu bukan hanya mengatur siapa menikah dengan siapa, tetapi juga membangun persaudaraan, memperluas ikatan kekeluargaan, dan menjaga keseimbangan kehidupan seluruh kampung.
Itulah sebabnya, memahami hubungan perkawinan adat bukan sekadar mempelajari aturan menikah. Kita sedang belajar membaca cara berpikir para leluhur dalam membangun masyarakat yang saling terhubung.
Tulisan ini disusun berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan oleh para tetua adat Wailolong. Tujuannya bukan untuk menggantikan pengetahuan para tetua, melainkan menjadi bahan belajar bagi generasi muda agar semakin mengenal dan mencintai warisan budayanya sendiri.
Apabila terdapat perbedaan ingatan atau variasi penyebutan di antara para tetua, hal itu merupakan bagian dari kekayaan tradisi yang patut dihormati dan didiskusikan dengan semangat persaudaraan.
Apa Itu Belake dan Opu?
Dalam sistem perkawinan adat Wailolong dikenal dua kedudukan penting. Belake (Blake/Bailake) adalah pihak pemberi perempuan, yaitu keluarga asal istri.
Di Wailolong, Pihak Belake sering kita sapa dengan Mama/Maman/Mamang atau Dadin/Adin. Pasangan (istri mereka), kita sapa dengan Tia.
Baca Juga:
Prinsipnya Benar Tapi “Salah”: Membaca Labirin Takdir dan Paradoks Cinta dalam Adat Lamaholot
Sedangkan Opu adalah pihak penerima perempuan, yaitu keluarga tempat perempuan membangun rumah tangga. Pasangan Opu adalah Nona/Ona.
Namun, Belake dan Opu bukanlah hubungan yang menunjukkan siapa lebih tinggi atau lebih rendah.
Keduanya adalah hubungan saling menghormati, saling menjaga, dan saling memikul tanggung jawab adat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hubungan ini juga mengikuti pola yang umumnya bersifat satu arah. Jika suatu klan telah menjadi Belake bagi klan lain, maka hubungan tersebut tidak dibalik begitu saja. Dengan demikian, jaringan perkawinan terus meluas, sehingga semakin banyak klan yang terhubung sebagai satu keluarga besar.
Leluhur tidak membangun persaudaraan dengan kata-kata, tetapi dengan hubungan perkawinan yang terus menyambungkan Lango Belen (Rumah Besar/Rumah Klan) yang satu dengan yang lainnya.
Baca Juga:
Adonara Tanah Mahar Gading: Si Kecil Unik Yang Memesona Untuk NKRI
- Daton Ama Blolon: Penjaga Mata Air Persaudaraan.
Sebagai salah satu rumpun Daton yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah Wailolong, Daton Ama Blolon menempati posisi yang strategis dalam jaringan perkawinan adat.
Dalam tatanan ini, Ama Blolon menerima perempuan dari Hurint Ama Weruin, Hurint Hadu Boleng, dan Hurint Mela Makin. Ketiga klan tersebut menjadi Belake, yakni klan asal perempuan yang menghadirkan kehidupan baru melalui perkawinan.
Sebaliknya, perempuan dari Ama Blolon membangun rumah tangga pada Waton Bunga Retu, Waton Sina Jawa Keton Makin, Ritan Harut Makin, Ritan Suba Makin, Ritan Sina Makin, serta Doren. Dari hubungan-hubungan inilah lahir ikatan persaudaraan baru yang terus berkembang dari generasi ke generasi.
Jika diperhatikan, posisi Ama Blolon memperlihatkan bagaimana leluhur tidak pernah membiarkan satu klan berdiri sendiri. Setiap perkawinan menjadi jalan untuk memperluas persaudaraan dan memperkokoh hubungan antar kelompok.
Dalam budaya Lamaholot, perempuan bukan sekadar “berpindah rumah”. Ia membawa serta kasih sayang, martabat keluarga, dan menjadi jembatan yang menyatukan dua klan menjadi satu keluarga besar.
Baca Juga:
Mahar Gading Gajah lambang “Harga Diri” Perempuan Lamaholot?
- Daton Ama Raja: Merawat Persaudaraan Melalui Jalur Kehidupan.
Pada rumpun Daton Ama Raja, perempuan datang dari Hurint Ama Weruin dan Hurint Mela Makin. Dari kedua Belake inilah hubungan kekeluargaan terus dipelihara dengan penghormatan dan tanggung jawab adat.
Sementara itu, perempuan Ama Raja menikah ke Hurint Hadu Boleng, Waton Bunga Retu, Waton Sina Jawa Keton Makin, Ritan Harut Makin, Ritan Suba Makin, Ritan Sina Makin, dan Doren.
Pola ini menunjukkan bahwa Ama Raja menjadi salah satu penghubung penting antar rumpun. Melalui perkawinan, persaudaraan tidak berhenti pada satu garis keturunan, melainkan terus melebar, memperkuat kebersamaan seluruh warga kampung.
Leluhur tidak membangun kampung dengan pagar yang tinggi. Mereka membangunnya dengan persaudaraan yang luas.
Baca Juga:
Ibu dan Tanah: Hermeneutika Fenomenologi Atas Makna Konflik Dalam Budaya Adonara
- Daton Ama Rere: Menjaga Keseimbangan Warisan Leluhur.
Rumpun Daton Ama Rere menerima perempuan dari Hurint Ama Weruin dan Hurint Mela Makin sebagai Belake. Hubungan ini telah diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari keseimbangan adat yang dijaga bersama.
Sebaliknya, perempuan Ama Rere menikah ke Hurint Hadu Boleng, Waton Bunga Retu, Ritan Harut Makin, Ritan Suba Makin, Ritan Sina Makin, dan Doren. Setiap perkawinan melahirkan hubungan baru yang memperluas jalinan kekeluargaan antar klan.
Dari pola ini kita belajar bahwa leluhur tidak pernah memandang perkawinan hanya sebagai urusan dua orang. Bagi mereka, setiap perkawinan adalah peristiwa sosial yang menghubungkan sejarah, tanah kelahiran, lango belen (rumah besar), dan masa depan anak cucu.
Sebuah perkawinan mungkin berlangsung sehari. Namun, persaudaraan yang lahir darinya dapat bertahan melampaui generasi.
Baca Juga:
Mengapa Kita Perlu Memahami Semua Ini?
Mungkin ada yang bertanya, “Mengapa anak muda perlu mempelajari semua ini?” Jawabannya sederhana. Karena adat bukan hanya milik para tetua. Adat adalah identitas kita.
Ketika kita memahami hubungan Belake dan Opu, sesungguhnya kita sedang belajar mengenali siapa keluarga kita, bagaimana leluhur membangun persaudaraan, dan mengapa Wailolong tetap berdiri sebagai satu kampung yang dipersatukan oleh ikatan adat.
Mengenal adat bukan berarti hidup di masa lalu. Sebaliknya, itu adalah bekal agar kita melangkah ke masa depan tanpa kehilangan akar.
Bersambung pada Bagian II: Rumpun Hurint — Simpul Kehidupan yang Menyatukan Banyak Lango Belen.
Leave a Reply