Ketika Satu Gading Menjadi Banyak: Belis, Martabat, dan Etika dalam Perkawinan Adonara

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Jika KODA adalah jiwa yang memberikan makna kepada gading, maka jumlah gading dalam perkawinan adat Adonara tidak dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan matematika atau nilai ekonomi.

Mengapa seorang perempuan mendapat satu gading, sementara perempuan yang lain dapat dikaitkan dengan dua, tiga, atau bahkan lebih?

Jawabannya tidak sesederhana “karena harga perempuan berbeda”. Akan tetapi jumlah gading merupakan hasil dari sejarah sosial dan hubungan antarmanusia yang berlangsung dalam sebuah perkawinan. 

Di dalamnya terdapat strata sosial, etika dalam perundingan adat, model perkawinan, kehormatan keluarga, dan kehormatan suku.

Karena itu, untuk memahami belis gading, kita harus melihat proses yang melahirkan kesepakatan, bukan hanya benda yang akhirnya diserahkan.

Baca Juga:

Bala di Bala, KODA di Bala: Ketika Kata Menjadi Gading

Strata Sosial dan Beban Gading. 

Dalam kehidupan adat Adonara, struktur sosial mempunyai pengaruh terhadap jumlah gading yang harus disiapkan oleh pihak laki-laki.

Semakin tinggi kedudukan sosial suatu keluarga atau suku, semakin besar pula tuntutan adat yang dapat muncul dalam perkawinan. Akibatnya, seorang perempuan yang lahir dari keluarga dengan strata sosial tertentu dapat membawa konsekuensi belis yang lebih besar.

Di satu sisi, hal ini merupakan bagian dari struktur sosial yang diwariskan oleh masyarakat. Namun di sisi lain, ketika struktur tersebut berhadapan dengan logika ekonomi modern, persoalan menjadi semakin rumit. Gading yang semula merupakan simbol adat dapat berubah menjadi beban ekonomi.

Seorang laki-laki dan keluarganya mungkin tidak lagi melihat gading sebagai simbol penghormatan dan hubungan antar suku, tetapi menghitungnya berdasarkan nilai uang yang harus dikeluarkan. alam keadaan seperti itu, perempuan dapat berada dalam posisi yang sangat tidak nyaman.

Baca Juga:

Kenapa Harus Gading: Sebuah Gugatan dan Refleksi Rasa

Ada perempuan Adonara yang kemudian memilih untuk tidak menikah, atau memilih menikah dengan orang dari luar Adonara, karena khawatir perkawinannya akan menjadi beban bagi calon suami dan keluarganya.

Yang lebih menyakitkan adalah ketika setelah menikah, gading yang telah diberikan kemudian secara sadar atau tidak sadar digunakan sebagai alasan untuk memperlakukan perempuan seolah-olah mempunyai nilai tukar ekonomi.

Di sinilah belis dapat berubah menjadi sumber luka. Padahal perempuan yang dibawa ke dalam keluarga baru seharusnya memperoleh kehormatan, bukan utang moral yang terus-menerus ditagihkan.

Karena itu, kita harus berhati-hati membedakan antara: belis sebagai simbol penghormatan dan belis sebagai harga perempuan. Keduanya sangat berbeda. Tobo Baun Ukut KODA: Tempat Harga Diri Dipertaruhkan.  Penentuan belis tidak terlepas dari tobo baun ukut KODA.

Tobo baun bukan sekadar duduk bersama untuk menentukan jumlah gading. Ia merupakan ruang sosial tempat dua keluarga bertemu, berbicara, menjaga bahasa, memperlihatkan sikap, dan membangun kesepakatan.

Baca Juga:

Mahar Gading Gajah lambang “Harga Diri” Perempuan Lamaholot?

Di sinilah etika menjadi bagian dari belis. Jika pihak laki-laki datang dengan sikap hormat, menjaga bahasa, menghargai keluarga perempuan, dan mampu menempatkan dirinya secara baik dalam pertemuan adat, maka hubungan kedua pihak dapat menjadi lebih cair.

Dalam suasana demikian, kesepakatan mengenai KODA dan jumlah gading dapat dicapai bersama.

Namun apabila pihak laki-laki tidak menjaga etika, meremehkan keluarga perempuan, atau menunjukkan sikap yang melukai harga diri mereka, maka persoalan tidak lagi sekadar menyangkut jumlah gading. Yang disentuh adalah martabat.

Karena itu, secara adat dapat terjadi peningkatan jumlah gading sebagai bentuk koreksi terhadap sikap yang dianggap tidak menghormati pihak perempuan.

Dalam bahasa sederhana: Etika yang baik dapat meringankan jumlah gading; etika yang buruk dapat memperberat jumlah  gading. Ini menunjukkan bahwa gading tidak hanya mempunyai nilai material. Ia mempunyai nilai etis.

Jumlah gading dapat menjadi semacam cermin dari kualitas hubungan yang dibangun dalam proses adat.

Baca Juga:

Moeda Kapotoe – Riang Kemie : Gadis Yang Melarikan Diri (Bagian Kedua)

Model Perkawinan dan Konsekuensi Gading. 

Selain strata sosial dan etika dalam tobo baun ukut KODA, model perkawinan juga dapat memengaruhi kesepakatan belis.

Dalam perkawinan yang berlangsung secara terhormat dan melalui proses adat yang baik, jumlah gading pada dasarnya mengikuti kesepakatan yang lahir dalam tobo baun ukut KODA.

Di sana terdapat ruang bagi kedua pihak untuk berbicara, mempertimbangkan kemampuan keluarga, menjaga kehormatan masing-masing, dan mencari jalan yang dapat diterima bersama. Namun keadaan berbeda dapat muncul dalam model kawin lari.

Dalam tradisi yang berlaku, ketika seorang perempuan pergi bersama seorang laki-laki tanpa melalui proses perkawinan sebagaimana mestinya, keluarga pihak laki-laki mempunyai kewajiban untuk segera menyampaikan amet kepada keluarga perempuan bahwa anak perempuan mereka telah bersama anak laki-laki dari keluarga tersebut. Waktu menjadi penting.

Keterlambatan penyampaian dapat dipandang sebagai persoalan etika dan penghormatan terhadap keluarga perempuan. Karena itu, keterlambatan tersebut dapat berpengaruh terhadap kesepakatan belis.

Demikian pula pada perkawinan yang terjadi karena kehamilan sebelum perkawinan.

Dalam keadaan demikian, persoalannya bukan hanya hubungan dua individu. Peristiwa tersebut dapat menyentuh harga diri keluarga dan suku perempuan.

Jika komunikasi antara kedua keluarga tidak dibangun dengan baik, tuntutan belis dapat meningkat sebagai bagian dari upaya menjaga atau memulihkan kehormatan pihak perempuan.

Dengan demikian, jumlah gading dalam konteks tertentu bukan sekadar angka. Ia dapat menjadi bahasa adat untuk menyampaikan penghormatan, ketidakhormatan, tanggung jawab, bahkan koreksi terhadap perilaku.

Baca Juga:

Gunung, Perempuan dan Ata Diken Lamaholot

Dari Satu Gading Menjadi Banyak.

Ada satu hal yang perlu direnungkan. Dalam pemahaman awal yang hidup dalam sebagian ingatan masyarakat, belis dapat berupa satu batang gading. Lalu mengapa dalam perkembangannya jumlah tersebut dapat menjadi dua, tiga, atau lebih? Perubahan ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan masyarakat itu sendiri.

Ketika struktur sosial berkembang, ketika perbedaan status semakin jelas, ketika pola hubungan antar suku berubah, dan ketika perkawinan semakin kompleks, maka simbol belis pun mengalami perkembangan.

Dengan demikian, bertambahnya jumlah gading bukan semata-mata berarti bahwa nilai perempuan bertambah.

Justru kita perlu membacanya sebagai sejarah perubahan hubungan sosial masyarakat Adonara. Gading yang awalnya merupakan simbol kemudian berhadapan dengan struktur sosial.

Struktur sosial kemudian berhadapan dengan kehormatan. Kehormatan berhadapan dengan etika. Dan semuanya kemudian berhadapan dengan ekonomi. Di sinilah kita harus waspada.

Ketika logika ekonomi menjadi semakin dominan, jumlah gading dapat kehilangan hubungan dengan makna awalnya.

Satu gading dapat berubah menjadi dua, dua menjadi tiga, dan seterusnya; tetapi pertanyaan yang lebih penting bukan berapa jumlahnya, melainkan apakah KODA masih hidup di balik jumlah tersebut.

Baca Juga:

Membaca “Kode Rahasia” Peta Perkawinan Adat 13 Lango Belen di Desa Wailolong, Ile Mandiri

Perempuan Tidak Bertambah Nilainya, Karena Gading Bertambah.

Ini adalah batas etis yang harus ditegaskan. Jika seorang perempuan dikaitkan dengan satu gading, bukan berarti ia lebih rendah daripada perempuan yang dikaitkan dengan tiga gading. Dan jika seorang perempuan berasal dari strata sosial tinggi sehingga membutuhkan lebih banyak gading, bukan berarti martabat kemanusiaannya lebih tinggi.

Martabat perempuan tidak pernah dapat dihitung dengan batang gading. Jumlah gading adalah bagian dari struktur dan mekanisme sosial adat, sedangkan nilai manusia berada pada tingkat yang berbeda.

Karena itu, jangan sampai simbol yang dahulu dimaksudkan untuk menghormati perempuan justru berubah menjadi alat untuk mengobjektifikasi perempuan. Sebab ketika pihak laki-laki merasa telah “membayar mahal”, sangat mungkin muncul kesadaran keliru bahwa ia telah “membeli” perempuan.

Di titik itulah budaya berubah menjadi transaksi. Dan ketika perkawinan dimulai dengan logika transaksi, kebahagiaan keluarga dapat ikut dipertaruhkan.

Baca Juga:

Koda dan Integritas Ata Lamaholot

Mengembalikan Gading kepada KODA.

Karena itu, tantangan kebudayaan Adonara hari ini bukan sekadar mempertahankan jumlah gading. Yang lebih penting adalah mengembalikan gading kepada KODA. KODA harus kembali menjadi jiwa dari setiap kesepakatan.

Jika gading adalah simbol penghormatan, maka jangan biarkan ia berubah menjadi harga. Jika gading adalah simbol persatuan dua suku, jangan biarkan ia menjadi sumber permusuhan.

Jika gading adalah simbol tanggung jawab, jangan biarkan ia menjadi alasan untuk menuntut. Jika gading adalah amanah leluhur, jangan biarkan ia menjadi komoditas yang habis diperdagangkan dan

Jika gading adalah simbol perempuan, jangan pernah biarkan perempuan diperlakukan sebagai komoditas.

Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah perkawinan terhormat bukanlah banyaknya gading yang berpindah tangan, tetapi kualitas KODA yang lahir dari pertemuan dua keluarga.

Gading dapat dihitung. Tetapi kehormatan tidak dapat dihitung. Gading dapat diserahkan. Tetapi cinta tidak dapat diserahkan sebagai pembayaran. Gading dapat menjadi simbol. Tetapi KODA-lah yang membuat simbol itu tetap hidup.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita tidak lagi bertanya: “Berapa gading untuk seorang perempuan?” Tetapi bertanya: “Seberapa kuat KODA kita untuk menghormati perempuan yang menjadi bagian dari kehidupan kita?”

Di situlah kita menemukan kembali roh kebudayaan. “Bala di bala, KODA di bala”. Gading adalah gading, Tetapi KODA juga adalah gading. Dan selama KODA masih hidup, gading tidak akan pernah sekadar menjadi benda.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of