Moeda Kapotoe – Riang Kemie : Gadis Yang Melarikan Diri (Bagian Kedua)

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Perjalanan P. J. Hoeberechts, SJ., belum selesai. Setelah dari Lewoneda, ia masih harus meneruskan perjalanan ke kampung-kampung di pegunungan Ilimandiri. 

Tetapi sebelum berangkat, ada satu persoalan yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.  Seorang gadis dari Moedakapoetoe meminta pertolongan. Dan kisahnya bukan kisah biasa.  Gadis itu berasal dari Moedakapoetoe. Keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang laki-laki dari Wailolon. Mas kawin bahkan sudah dibayar. Tetapi gadis itu tidak mau menikah.

Hoeberechts menulis: “Een meisje van Moedakapoetoe was door haar familie verloofd aan een man van Wailolon. Het meisje had een afschuw van dien jongen en verzette zich tegen het huwelijk.”

“Seorang gadis dari Moedakapoetoe telah dijodohkan keluarganya dengan seorang laki-laki dari Wailolon. Gadis itu sangat tidak menyukai pemuda tersebut dan menolak perkawinan itu.”

Ia sudah memohon. Sudah meminta agar perkawinan itu dibatalkan. Tetapi tidak ada yang berubah. Mas kawin berupa gading telah dibayar. Dan karena itu, menurut keluarganya, perkawinan tersebut harus tetap berlangsung.

Baca Juga:

Mei 1909: Dari Larantoeka Menuju Lewoneda (Bagian Pertama)

“De bruidsschat, een olifantstand, was reeds betaald, en het huwelijk zou en moest doorgaan.” “Mas kawin berupa gading gajah telah dibayar, dan perkawinan itu harus tetap dilangsungkan.”

Akhirnya gadis itu memilih jalan yang sangat berani. Ia melarikan diri dari rumah. Tetapi pelarian itu justru membuat hidupnya semakin berbahaya. Setelah meninggalkan keluarganya, gadis itu dianggap seperti orang yang tidak lagi memiliki perlindungan.

Hoeberechts menggunakan istilah: “Vogelvrij verklaard.” “Dinyatakan tidak lagi mendapat perlindungan.”

Ia harus berkeliaran di hutan. Dan celakanya, orang lain pun dilarang menolongnya.

“Wee den onverlaat, die het wagen zou haar eten of kleeren te geven of huisvesting te verschaffen.” “Celakalah orang yang berani memberinya makanan, pakaian, atau tempat untuk berlindung.”

Bayangkan keadaan gadis itu. Ia tidak ingin menikah. Ia melarikan diri. Tetapi setelah itu ia juga tidak mempunyai tempat untuk pulang. Ia mencari keluarganya. Ditolak. Kemudian ia pergi kepada katekis di Lewoneda. Dan di sanalah ia memohon pertolongan.

Hoeberechts menulis: 

“Zij bad en smeekte den catechist haar niet te verstooten, en mij te boodschappen, dat ze bij de Zusters alhier op school wilde.” “Ia memohon agar katekis tidak menolaknya, dan meminta agar saya diberi tahu bahwa ia ingin bersekolah bersama para Suster.”

Baca Juga:

Selembar Dokumen yang Merubah Takdir Larantuka

Permintaannya ternyata sangat sederhana. Ia hanya ingin sekolah. Ia ingin pergi ke Larantoeka. Ia ingin tinggal bersama para Suster. Dan katekis itu tidak menolaknya. Ia melindunginya.

Lalu kabar itu disampaikan kepada Hoeberechts. Hoeberechts tidak langsung membawa gadis itu pergi. Ia terlebih dahulu menemui Civiel Gezaghebber, pejabat sipil Larantoeka.

 Pejabat itu mengatakan bahwa gadis tersebut berhak bersekolah bersama para Suster. Tetapi untuk mencegah masalah, ia memberikan perlindungan. Empat polisi bersenjata disiapkan. Hari itu hari minggu.

“Vier gewapende politiedienaren, die, zoo noodig, het meisje zouden beschermen.” “Empat orang polisi bersenjata disiapkan untuk melindungi gadis itu jika diperlukan.”

Senin, polisi bergerak menuju pegunungan.

“Reeds Maandag trokken de politiedienaren naar de bergen met bevel te Riang Kemië te overnachten.” “Pada hari Senin para polisi itu sudah berangkat menuju pegunungan dan diperintahkan bermalam di Riang Kemië.”

Lalu datanglah Selasa.Hoeberechts kembali ke Moedakapoetoe. Dan di sana ia menemui radja. Ia mencoba berbicara tentang gadis itu.

“Radja, is er een meisje uit de kampong weggevlucht?” “Radja, apakah ada seorang gadis yang melarikan diri dari kampung?”

Baca Juga:

Bagian V: Doren – Simpul Besar Persaudaraan Wailolong : Semakin luas persaudaraan, semakin besar pula tanggung jawab untuk merawatnya

Radja diam. Hoeberechts bertanya lagi.Tetap diam. Kemudian ia meminta salah seorang anak pegunungan yang ikut bersamanya mengajukan pertanyaan yang sama. Dan jawaban yang datang bukan kata-kata. Laki-laki pegunungan itu menangis.

“Als eenig antwoord begon de ruwe bergman te weenen.” “Sebagai satu-satunya jawaban, lelaki pegunungan yang keras itu mulai menangis.”

Hoeberechts mengerti.Ia tidak bertanya lagi. Kadang-kadang air mata sudah mengatakan lebih banyak daripada kata-kata. Ia melanjutkan perjalanan menuju Lewoneda. Di rumah katekis Lewoneda, Hoeberechts bertemu dengan gadis itu.Ia bertanya apakah gadis tersebut sungguh ingin bersekolah bersama para Suster.

Jawabannya ya. Polisi sudah berada di tempat. Maka Hoeberechts meminta katekis dan saudaranya membawa gadis itu menuju Riang Kemië, di bawah perlindungan polisi.

“Ik liet den catechist en zijn broer haar onder de hoede der gewapende macht naar Riang Kemië brengen.”

“Saya meminta katekis dan saudaranya membawa gadis itu menuju Riang Kemië di bawah perlindungan pasukan bersenjata.”

Ketika Hoeberechts sendiri tiba di Riang Kemië, ia memberikan perintah berikutnya. Gadis itu harus dibawa ke Larantoeka. Dan akhirnya… ia selamat.

“En thans woont het veilig en tevreden bij de Eerw. Zusters Franciscanessen.” “Dan sekarang ia tinggal dengan aman dan bahagia bersama para Suster Fransiskan.”

Satu kisah selesai. Tetapi perjalanan belum selesai Hoeberechts meninggalkan Lewoneda. Hampir seluruh penduduk keluar untuk mengucapkan salam. Tujuannya kini Riang Kemië. Sebuah kampung yang berjarak sekitar tiga per empat jam perjalanan dari Lewoneda. Tetapi matahari sedang sangat terik.

“Het was nu ongeveer elf uur, de zon wierp haar stralen bijna loodrecht naar omlaag.” “Saat itu kira-kira pukul sebelas, matahari memancarkan sinarnya hampir tegak lurus ke bawah.”

Baca Juga:

Kenapa Harus Gading: Sebuah Gugatan dan Refleksi Rasa

Tanah begitu panas. Sampai terasa menembus sepatu dan kaus kaki. Dan bagi anak-anak yang berjalan tanpa alas kaki, panas itu tentu jauh lebih berat.

“En dan die arme jongens op hun bloote voetjes.” “Apalagi anak-anak itu yang berjalan dengan kaki telanjang.”

Di sepanjang jalan ada beberapa kelompok permukiman yang termasuk wilayah Lewohala. Tetapi rombongan tidak berhenti lama. Mereka ingin segera sampai.

Akhirnya… Di Riang Kemië, anak-anak katekismus sudah menunggu. Anak laki-laki. Anak perempuan. Kepala-kepala kampung. Mereka datang menyambut sang pastor. Hoeberechts kemudian masuk ke tempat istirahatnya. Tetapi jangan bayangkan hotel seperti yang kita kenal sekarang. 

“Hotel”-nya hanyalah bangku dari bambu yang dibelah, berada di bawah atap jerami.

Di belakangnya hanya ada dinding dari daun. Di sana tergantung salib, gambar Hati Kudus, Maria dan Santo Yosef.

“Een zit- of ligbank van gespleten bamboe onder een strooien afdak, dat door zes bamboestokken gedragen wordt.” “Sebuah bangku untuk duduk atau berbaring dari bambu yang dibelah, berada di bawah atap jerami yang ditopang enam batang bambu.”

Tetapi Hoeberechts justru merasa sangat bahagia.

“Toen ik ging liggen, verzeker ik u, dat ik de koning te rijk was met mijn primitieve inrichting.” “Ketika berbaring, sungguh saya merasa seperti seorang raja dengan perlengkapan saya yang sangat sederhana itu.”

Kalimat itu mungkin terdengar lucu. Tetapi sebenarnya ada sesuatu yang menyentuh di sana. Setelah berjalan jauh di bawah matahari, sebuah tempat berteduh sederhana sudah terasa seperti istana. Di sekelilingnya, anak-anak berdiri menjaga. Mereka memperhatikan segala sesuatu yang dilakukan sang pastor.

“Mijn catechismuskinderen houden nu trouw de wacht.” “Anak-anak katekismus saya kini setia berjaga.”

Baca Juga:

Membaca “Kode Rahasia” Peta Perkawinan Adat 13 Lango Belen di Desa Wailolong, Ile Mandiri

Anak-anak itu mengenakan pakaian yang diberikan oleh Hoeberechts. Bahkan lebih dari 300 baju kecil pernah dibagikannya kepada anak-anak. Ia mendapat bahan kain dari seorang dermawan perempuan di Nijmegen, Belanda.

“Daardoor was ik in staat onlangs op mijn patroonsfeest bij wijze van prijs over de 300 baadjes uit te deelen.” “Karena itu, pada pesta pelindung saya baru-baru ini saya dapat membagikan lebih dari 300 baju sebagai hadiah.”

Bagi anak-anak pegunungan, sepotong pakaian bukanlah barang kecil. Itu adalah sesuatu yang berharga. Saat makan siang tiba, Hoeberechts membeli seekor ayam. Harganya hanya 30 duit, senilai sekitar 25 sen Belanda. Ayam itu dimasak bersama beras yang dibawa dari Larantoeka. Itulah makanan rombongan hari itu.

Tetapi ketika Hoeberechts membuka kotak rotinya… mata orang-orang langsung tertuju kepadanya.

“Een snee brood is toch zoo’n lekkernij voor die arme menschen!” “Sepotong roti benar-benar merupakan makanan yang sangat istimewa bagi orang-orang miskin itu!”

Ia membagikan sedikit kepada anak-anak. Mereka tidak meminta banyak. Sedikit saja sudah cukup.

“Als ze maar iets hebben, al is het nog zoo weinig, dan zijn ze tevreden.” “Asalkan mereka mendapat sesuatu, meskipun sangat sedikit, mereka sudah merasa puas.”

Bahkan ketika sepotong makanan jatuh ke tanah… anak-anak itu berlomba mendapatkannya.  Hoeberechts menyaksikan kemiskinan itu dari dekat. Bukan dari laporan. Bukan dari cerita orang lain. Dengan matanya sendiri.

Setelah makan, Hoeberechts mengambil brevirnya. Orang-orang tetap duduk di dekatnya.

Baca Juga:

Bagian IV: Rumpun Ritan – Penjaga Keseimbangan Persaudaraan

Tetapi mereka tidak mengganggu. Mereka sudah tahu:

“Als de toewan dat mooie boek opent, hij geheel met O. L. Heer bezig is.” “Ketika Tuan membuka buku indah itu, ia sedang sepenuhnya berbicara dengan Tuhan.”

Hari semakin sore. Ibu ibu membawa anak-anak untuk dibaptis. Setelah matahari terbenam, lonceng Angelus dibunyikan, mereka berdoa Rosario bersama-sama di udara terbuka.

“Niet alleen de catechismuskinderen, maar ook vele volwassenen zijn bij het bidden tegenwoordig.” “Bukan hanya anak-anak katekismus, tetapi banyak orang dewasa juga hadir dalam doa.”

Hoeberechts kemudian menulis sesuatu yang sangat menyentuh:

“Moge God mijne woorden doen doordringen tot diep in het hart van mijn toehoorders en ze daar rijke vrucht doen dragen.” “Semoga Tuhan membuat kata-kata saya menembus jauh ke dalam hati para pendengar saya dan menghasilkan buah yang berlimpah di sana.”

Tetapi malam itu belum berakhir. Karena setelah katekismus, orang-orang sakit mulai berdatangan. Luka. Penyakit. Orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Hoeberechts bersama dua pembantunya mengobati mereka.

Dan setelah semua pekerjaan selesai…para pembantunya mengajari anak-anak menyanyikan lagu Maria. Malam semakin larut. Para lelaki semakin banyak. Hoeberechts mulai berbicara dengan mereka. Ia ingin mengetahui kehidupan mereka. Apa yang mereka percaya. Apa yang mereka pikirkan.

Percakapan semakin menarik. Ia terus berbicara. Sampai akhirnya ia melihat jam. Jarum pendek sudah menunjukkan: Pukul Sebelas malam. 

Baca Juga:

Bagian III: Rumpun Waton – Ketika Perempuan Menjadi Jembatan yang Menyatukan Persaudaraan

“Eens werd het zelfs zoo laat, dat ik niet weinig schrok, toen ik op mijn uurwerk keek; de kleine wijzer stond op elf.” “Percakapan itu berlangsung begitu lama hingga saya terkejut ketika melihat jam; jarum pendek sudah menunjukkan pukul sebelas.”

Dan dari percakapan malam itulah Hoeberechts mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Masyarakat pegunungan itu mengenal sebuah kata: “Lera Woelan.” Pada awalnya ia mengira kata itu berarti matahari dan bulan. Tetapi ternyata tidak sesederhana itu. Mereka membedakan: “Lera Woelan” — Tuhan. “réra woelan” — matahari dan bulan.

Dan ketika Hoeberechts bertanya tentang  Lera Woelan…jawaban mereka membuatnya terkejut. Mereka mengatakan bahwa Lera Woelan menciptakan Adam dan Eva. Mereka juga mengenal nama Sem, Cham dan Japheth.

Mereka mempunyai cerita tentang penyebaran manusia.Bahkan mereka mempunyai cerita tentang Tuhan yang menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia.

“Zij hebben ook gehoord van de verspreiding van het menschdom.” “Mereka juga telah mendengar tentang penyebaran umat manusia.”

Lalu muncul pertanyaan besar dalam benak Hoeberechts: Dari mana mereka mengetahui semua itu? Dari masyarakat pesisir? Dari orang-orang Portugis?

Mereka mengatakan: bukan. Menurut cerita mereka, pengetahuan itu telah diwariskan sejak zaman yang tidak mereka ingat lagi. Dan yang lebih mengejutkan lagi, menurut Hoeberechts, cerita serupa juga dikenal di kampung-kampung lain di sekitar Ilimandiri.

Di depan Korke, mereka bahkan memiliki batu-batu kecil yang dianggap suci dan digunakan dalam upacara. Batu-batu itu dipercaya sebagai bagian yang mereka terima dari Lera Woelan.

“Deze steenen zijn voor hen iets heiligs, en ze doen dienst bij al hun feesten en godsdienstplechtigheden.” “Batu-batu ini adalah sesuatu yang suci bagi mereka dan digunakan dalam pesta-pesta serta upacara adat mereka.”

Dan kisah itu belum berhenti. Mereka juga mempunyai cerita tentang kejatuhan manusia, Tuhan yang menjadi manusia, dan keselamatan. Hoeberechts sendiri mengakui rasa herannya:

“Mijn verwondering was groot.” “Keheranan saya sangat besar.”

Baca Juga:

Bagian II: Rumpun Hurint – Simpul Kehidupan yang Menyatukan Banyak Lango Belen

Bagaimana masyarakat pegunungan yang ia temui mengenal kisah-kisah tersebut? Ia tidak menemukan jawaban pasti. Dan mungkin justru di situlah letak daya tarik catatan ini.Karena lebih dari seratus tahun kemudian, pertanyaan itu masih membuat kita berhenti dan berpikir: Dari mana sebenarnya pengetahuan tentang Lera Woelan, Adam dan Eva, serta Tuhan yang menjadi manusia itu berasal?

Malam semakin larut. Hoeberechts akhirnya menyuruh para tamunya pulang. Ia kembali ke “hotel”-nya yang sederhana. Di sana ia tidur bersama rombongannya. Seorang pastor di atas kasur sederhana. Anak-anak tidur di atas bilah-bilah bambu. Di bawah atap yang sewaktu-waktu bisa membiarkan air hujan masuk. Dan perjalanan dua hari itu…,masih belum selesai. Bersambung ke bagian 3: Wailolon–Leloba hingga Okka.

SUMBER TULISAN: 249: Hoeberechts, “Een tweedaagsche tocht om den Ilimandiri,” dalam Berichten uit Nederlandsch Oost-Indië voor de leden van den Sint-Claverbond, 1909, bagian I (Niet in den handel), ’s-Gravenhage: T. C. B. ten Hagen, hlm. 242–249.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of