Mei 1909: Dari Larantoeka Menuju Lewoneda (Bagian Pertama)

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Ketika seorang pastor menembus tanah yang dahulu ditakuti.  Nama pastor itu P. J. Hoeberechts, SJ.

Pada suatu pagi di bulan Mei 1909, dari Postoh, Larantoeka, Hoeberechts bersiap meninggalkan kota. Ia bukan hendak berjalan-jalan. Ia hendak menempuh perjalanan selama dua hari mengelilingi Ilimandiri.

Tujuannya sederhana, tetapi tidak mudah: mengunjungi kampung-kampung di pegunungan, menemui umat, mengajar anak-anak, membaptis mereka yang telah dipersiapkan, mengunjungi orang sakit, dan melihat sendiri bagaimana pekerjaan misi yang telah dimulainya berkembang.

Ia menulis: “Een tweedaagsche tocht om den Ilimandiri zal beginnen. Na de H. Mis gebruik ik een kop koffie en een stuk brood; het overige brood wordt voor de reis bewaard.”

“Sebuah perjalanan dua hari mengelilingi Ilimandiri akan dimulai. Setelah Misa Kudus saya minum secangkir kopi dan makan sepotong roti; sisanya saya simpan untuk bekal perjalanan.”

Begitulah perjalanan itu dimulai. Tidak ada kendaraan. Tidak ada jalan raya. Tidak ada hotel. Hanya tiga ekor kuda, beberapa anak pegunungan yang bersekolah di Postoh, dan bekal sederhana.

Baca Juga:

Selembar Dokumen yang Merubah Takdir Larantuka

“De drie paarden staan reeds gereed. Zes bergjongens, die te Postoh school gaan, vergezellen mij.”

“Tiga ekor kuda telah siap. Enam anak pegunungan yang bersekolah di Postoh ikut bersama saya.”

Bekalnya pun sangat sederhana. “Sigarenkistjes met rijst gevuld en eenige gedroogde vischjes.” “Kotak-kotak rokok yang diisi beras dan beberapa ikan kering.”

Beberapa kue, tembakau dan obat-obatan melengkapi perjalanan. Mereka berangkat. Mereka melewati Lebau, kemudian Tabalik. Semakin jauh dari Postoh, perjalanan semakin berat.

Jalan mulai menanjak. Kuda-kuda tidak sanggup lagi membawa mereka. Hoeberechts akhirnya turun dari kudanya. Kuda-kuda dikirim kembali ke Postoh. Ia harus berjalan kaki.

“Nu begint het eigenlijk stijgen. De paarden kunnen niet verder en worden naar Postoh teruggezonden.”

“Sekarang pendakian yang sebenarnya dimulai. Kuda-kuda tidak dapat melanjutkan perjalanan dan dikirim kembali ke Postoh.”

Baca Juga:

Sekolah Perawat Di Larantuka Flores Timur

Di hadapan mereka berdiri Ilimandiri. Gunung. Batu. Rumput tinggi. Dan jalan yang seakan tidak pernah dibuat untuk dilalui seorang pastor dengan pakaian panjang.

Namun ia terus berjalan. Karena yang ia cari bukan sekadar kampung. Ia mencari manusia. Setelah perjalanan panjang, mereka sampai di Moedakapoetoe. Di sanalah tinggal radja, kepala wilayah pegunungan tersebut.

Tetapi kedatangan Hoeberechts tidak membuat orang-orang menyambut. Justru sebaliknya. Mereka lari.

“Zoodra men ons ziet, gaat alles wat beenen heeft, aan den haal.”

“Begitu melihat kami, semua yang mempunyai kaki segera melarikan diri.”

Bayangkan itu. Seorang pastor datang. Tetapi orang-orang tidak datang mendekat. Mereka berlari menjauh. Bukan karena Hoeberechts membawa senjata. Bukan karena ia datang untuk berperang. Mereka hanya belum mengenalnya. Dan sesuatu yang tidak dikenal sering kali memang membuat manusia takut.

Hoeberechts tidak mengejar mereka. Ia menunggu. Ia duduk di korke, tempat berkumpul masyarakat. Kemudian ia mengeluarkan tembakau. Memberikan sedikit kepada orang-orang. Menyalakan rokok. Membagikan kue.  Perlahan-lahan orang yang tadi berlari mulai kembali.

“Een pruim tabak en een sigaretje nemen echter het eerste wantrouwen weg.”

“Sedikit tembakau dan sebatang rokok perlahan menghilangkan rasa curiga yang pertama.”

Baca Juga:

Dari Keluhan Menjadi Harapan: Membawa Filosofi Pelayanan Tzu Chi Untuk Menjawab Harapan pelayanan Kesehatan di Flores Timur

Mungkin bagi kita itu tampak sederhana. Tetapi bagi Hoeberechts, itulah awal sebuah hubungan. Ia tidak memulai dengan ceramah panjang. Ia memulai dengan duduk bersama mereka.

Hoeberechts kemudian mencoba mengajak anak-anak belajar katekismus. Tetapi muncul persoalan besar: Bahasa. Ia berbicara Melayu. Masyarakat pegunungan berbicara bahasa mereka sendiri. Maka mereka harus belajar memahami satu sama lain.

Hoeberechts menulis: “Beide partijen moeten weten te geven en te nemen. Zoo leert men elkander langzamerhand verstaan.”

“Kedua belah pihak harus tahu bagaimana memberi dan menerima. Dengan demikian, perlahan-lahan mereka belajar saling memahami.”

Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi sebenarnya sangat dalam. Karena untuk mendekati manusia lain, kadang-kadang kita harus berhenti merasa paling tahu.

Kita harus mau mendengar. Mau belajar. Mau menunggu. Dan Hoeberechts memilih jalan itu.

Baca Juga:

Bagian II: Rumpun Hurint – Simpul Kehidupan yang Menyatukan Banyak Lango Belen

Dari Moedakapoetoe, perjalanan berlanjut menuju Lewoneda.

Di sinilah suasana mulai berubah. Orang-orang mulai keluar dari rumah. Anak-anak mulai mendekat. Para ibu membawa anak-anak mereka. Dan kemudian terdengar suara yang sangat khas dari masa itu:

Hoeberechts menulis,  “Toewan, ana pi serani kai” “Tuan, anak ini sudah kristen”

Lalu terdengar lagi: “Tabacco, Toewan!” “Tembakau, Tuan!”

Anak-anak meminta kue. Orang-orang meminta tembakau. Tetapi di balik kue dan tembakau itu ada sesuatu yang jauh lebih penting: Kepercayaan mulai tumbuh.

Hoeberechts tidak datang hanya untuk memberi sesuatu. Ia datang untuk mengajar dan tinggal bersama mereka.

Ada sebuah tempat di Lewoneda yang oleh Hoeberechts disebut “duivelshuis”—rumah pomali. Tetapi apa yang terjadi di tempat itu beberapa waktu kemudian? Tempat tersebut justru menjadi tempat pengajaran iman.

Ia menulis: “In het duivelshuis worden nu de groote waarheden van ons heilig Geloof verkondigd. De kinderen komen er dagelijks bijeen voor de catechismus.”

Baca Juga:

Bagian V: Doren – Simpul Besar Persaudaraan Wailolong : Semakin luas persaudaraan, semakin besar pula tanggung jawab untuk merawatnya

“Di rumah yang disebut rumah pomali itu kini disampaikan kebenaran-kebenaran besar dari iman kami. Anak-anak berkumpul di sana setiap hari untuk belajar katekismus.”

Dulu mungkin tempat itu dipandang dengan rasa takut. Sekarang anak-anak duduk di sana. Mendengarkan. Belajar. Bertanya. Dan perlahan-lahan mengenal sesuatu yang baru.

Pekerjaan itu tidak selesai dalam satu hari. Tidak juga dalam satu bulan. Hoeberechts harus sabar. Ia harus terus datang. Terus mengajar. Terus membangun kepercayaan.

Dan akhirnya beberapa anak perempuan dibawa untuk belajar bersama para Suster Fransiskan di Larantoeka. Hoeberechts melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar beberapa anak yang bersekolah. Ia melihat masa depan Lewoneda.

Ia menulis: “Deze meisjes en mijn catechismusjongens zullen de kern vormen van de nieuwe christen-gemeente Lewoneda.”

“Anak-anak perempuan ini dan anak-anak laki-laki katekismus saya akan menjadi inti komunitas Kristen baru Lewoneda.”

Baca Juga:

Bagian IV: Rumpun Ritan – Penjaga Keseimbangan Persaudaraan

Sebuah komunitas baru sedang tumbuh. Bukan melalui suara keras. Bukan dalam satu malam. Tetapi melalui anak-anak kecil, katekismus, kesabaran, dan kepercayaan.

Di Lewoneda, Hoeberechts kemudian mendengar kisah tentang seorang gadis dari Moedakapoetoe. Ia telah dijodohkan dengan seorang laki-laki. Mas kawin sudah dibayar.

Tetapi gadis itu tidak mau.

Ia melarikan diri. Dan karena itu, ia menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar pertengkaran keluarga. Gadis itu mencari perlindungan. Ia ingin belajar. Ia ingin menentukan jalan hidupnya sendiri.

Hoeberechts akhirnya harus kembali ke Mudakapoetoe. Ia harus menemui radja. Harus berhadapan dengan keluarga. Bahkan harus meminta bantuan aparat. Dan dari sinilah perjalanan memasuki kisah yang jauh lebih mengharukan.

Seorang gadis yang melarikan diri dari perkawinan. Empat polisi bersenjata. Dan setelah itu, Hoeberechts membawa gadis malang itu ke Riang Kemië.

Baca Juga:

Prinsipnya Benar Tapi “Salah”: Membaca Labirin Takdir dan Paradoks Cinta dalam Adat Lamaholot

Di sana, pada suatu malam, ia akan mendengar kisah tentang Lera Woelan, Adam dan Hawa, Sem, Ham, dan Yafet—sebuah kisah yang membuatnya sendiri bertanya-tanya:

Dari mana orang-orang pegunungan itu mengenal cerita tentang Tuhan yang menjadi manusia?  Kisah itu kita lanjutkan di bagian 2. 

Sumber: 

  1. Hoeberechts, “Een tweedaagsche tocht om den Ilimandiri”, dalam Berichten uit Nederlandsch Oost-Indië voor de leden van den Sint-Claverbond, 1909, hlm. 232–253. Diterbitkan oleh T. C. B. ten Hagen, ’s-Gravenhage.
  2. J. Hoeberechts, SJ., — Pastoor te Larantoeka op Flores.

Kutipan Belanda di atas diambil dari teks sumber dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 

Foto Ilustrasi diambil dari Akun FB Penulis

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of