Eposdigi.com – Mengutip hasil survei yang dilakukan di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara menyebutkan, sebanyak 60 persen mahasiswa ITB merasa salah program studi. Namun fenomena salah program studi bukanlah masalah spesifik ITB, melainkan merupakan masalah nasional di Indonesia.
Kesimpulan yang kurang lebih sama juga muncul dari survei Indonesia Career Center Network. Survei tersebut menyimpulkan bahwa 87 persen mahasiswa Indonesia dalam mengambil program studi, tidak sesuai dengan bakat dan minat mereka. Angka ini mencakup mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.
Ini membuktikan bahwa masalah ketidaksesuaian antara pilihan program studi di perguruan tinggi dan bakat minat mahasiswa merupakan masalah sistemik dari dunia pendidikan di Indonesia, yang berdampak tidak hanya pada proses selama studi, melainkan juga berdampak pada karier dan masa depan mereka.
Baca Juga:
Manifesto Pendidikan dari Guru Besar ITB dan Momentum Perubahan di Bidang Pendidikan
Dampak salah pilih program studi
Salah satu dampak terhadap proses selama studi misalnya terjadi penurunan motivasi belajar. Padahal motivasi belajar adalah kunci penting keberhasilan belajar mahasiswa. Ini biasanya terjadi di awal masa studi, ketika mereka mulai menyadari ketidaksesuaian antara bakat dan minat dengan pilihan program studi.
Kondisi ini jelas akan berpengaruh pada cara menghadapi proses belajar dan cara menyelesaikan tugas. Selanjutnya akan berdampak pada prestasi belajar mereka. Dalam beberapa kasus, ada mata kuliah yang harus diulang berkali-kali. Dampak lainnya adalah mereka mengalami stres dan tekanan psikologis karena ketidaksesuaian ini.
Dampak psikologis berupa stres dan tekanan psikologis adalah salah satu efek yang paling serius dari kesalahan memilih program studi ini. Mereka mengalami tekanan beban akademik, merasa bersalah pada orang tua, bingung dengan masa depan, dan banyak yang kehilangan rasa percaya diri.
Baca Juga:
Proses studi seperti ini pada akhirnya juga berpengaruh pada aspek hubungan sosial dengan orang lain di sekitar mereka. Dalam banyak kasus, mereka akhirnya menarik diri dari pergaulan padahal seharusnya masa kuliah adalah masa membangun jaringan sosial yang bisa bermanfaat untuk kehidupan karier di masa depan.
Dampak lainnya adalah masa studi mereka menjadi lebih lama dan itu berarti mereka membutuhkan biaya yang lebih banyak. Dalam situasi ini banyak mahasiswa yang memutuskan untuk pindah ke program studi yang lebih sesuai. Namun banyak di antara mahasiswa yang akhirnya mengambil resiko drop out.
Ini adalah dampak paling ekstrim. Mereka yang mengambil resiko ini biasanya merasa sudah tidak sanggup melanjutkan, atau merasa sia-sia melanjutkan kuliah, karena toh pada akhirnya bertentangan dengan minat dan bakat mereka.
Sedangkan bagi yang dapat menyelesaikan kuliah, dampaknya setelah lulus dari perguruan tinggi, para sarjana tersebut bekerja pada bidang yang tidak linier dengan bidang yang mereka pelajari di perguruan tinggi. Ini misalnya terkonfirmasi oleh data dari Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek).
Baca Juga:
Kemendikti Saintek Perlu Adil dalam Regulasi Jumlah Kuota Mahasiswa Baru bagi PTN Maupun PTS
Data dari Kemendikti Saintek menunjukkan bahwa 80 persen lulusan sarjana dari perguruan tinggi akhirnya bekerja di bidang yang tidak linier dengan ilmu yang mereka pelajari di perguruan tinggi. Ketika memasuki dunia kerja, orang-orang ini memerlukan waktu beradaptasi yang lebih lama.
Menelusuri akar masalah
Saya lebih memilih untuk menelusuri dan merumuskan akar masalah terlebih dahulu, karena merumuskan akar masalah akan memudahkan upaya menemukan solusi. Jika akar masalah sudah ditemukan, mengupayakan solusi akan lebih fokus dan lebih mudah diupayakan.
Hulu dari permasalahan mahasiswa salah memilih program studi adalah proses pendidikan kita yang lebih fokus mempelajari fenomena alam dan sosial melalui bidang studi yang dipelajari, daripada membantu murid mengenal diri sendiri, baik melalui apa yang dipelajari, maupun cara belajar.
Harusnya para murid didampingi untuk mengenal dirinya sendiri baik melalui pendampingan langsung untuk pengenalan diri termasuk melalui cara belajar yang melibatkan para murid secara aktif dalam proses belajar tersebut. Seharusnya dalam pembelajaran langsung, para murid diajak mengenal diri sendiri, termasuk bakat dan minat mereka.
Baca Juga:
Tantangan Utama Belajar Teknologi Kecerdasan Buatan Untuk Pelajar dan Mahasiswa
Sedangkan melalui cara belajar yang melibatkan para murid secara aktif, dalam pengalaman yang berulang dan intens dan membantu mereka dengan refleksi, akan membuat para murid mengenali diri mereka, termasuk bakat dan minat mereka. Pada tataran proses, pembelajaran langsung seharusnya dilakukan oleh guru Bimbingan Konseling.
Sedangkan pembelajaran yang melibatkan murid secara aktif dilakukan oleh semua guru bidang studi, baik sendiri-sendiri maupun secara lintas bidang studi, dalam proses belajar mengajar reguler setiap hari. Dua proses ini saling melengkapi, diiringi proses refleksi yang membuat murid tidak hanya memahami fenomena alam dan sosial, melainkan juga diri sendiri.
Hingga kini, dari kurikulum ke kurikulum, dua proses ini tidak berjalan dengan baik. Di hampir semua sekolah ada unit bimbingan dan konseling, namun unit ini tidak menjalankan tugasnya secara maksimal karena berbagai hambatan. Bahkan guru Bimbingan dan Konseling kerap diberi tugas yang membuat tugas pokok mereka menjadi tidak efektif.
Baca Juga:
Dunia Kerja Sedang Susah, Mahasiswa Sebaiknya Bersiap Secara Serius
Misalnya guru Bimbingan dan Konseling hanya diberi tugas menjadi guru piket, atau guru pengganti ketika ada guru yang tidak masuk. Atau guru Bimbingan dan Konseling memang tidak kompeten menjalankan tugasnya membantu para murid mengenali dirinya, termasuk bakat dan minatnya.
Untuk menunjang efektivitas tugas pendampingan langsung tersebut, guru Bimbingan dan Konseling melakukan riset yang mendalam untuk merumuskan perkembangan program studi di perguruan tinggi dan membantu murid memahami program studi tersebut. Pengenalan diri dan program studi penting dalam memilih program studi di perguruan tinggi secara efektif.
Proses ini tidak dilakukan secara intensif di hampir semua jenjang pendidikan kita, bukan hanya di SD, tetapi juga di SMP dan SMA. Harusnya secara berjenjang dan berkesinambungan proses ini dilakukan sejak dari SD, sesuai dengan learning readiness-nya para murid.
Pengenalan diri, pengenalan program studi dan karier menjadi landasan yang penting dalam memilih program studi di perguruan tinggi. Dengan demikian, unit Bimbingan dan Konseling harusnya menjadi unit kerja yang sangat penting di sekolah. Kita berharap hal ini segera menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Baca Juga:
Belajar Dari BINUS: Mahasiswa Bersiap Untuk Memasuki Dunia Kerja
Sedangkan dalam hal memberi kesempatan murid aktif dalam proses belajar mengajar, selama ini tidak berjalan secara intensif. Banyak guru menganggap jika murid diberi kesempatan untuk aktif, materi pembelajaran mereka tidak akan tuntas di akhir tahun ajaran. Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar gurulah yang aktif.
Pendekatan yang diandalkan guru dalam proses ini adalah pendekatan transfer dengan keaktifan murid yang terbatas. Padahal jika murid diberi kesempatan untuk aktif, berinteraksi secara aktif, baik secara sosial maupun secara intelektual, diikuti dengan proses refleksi, para murid selain memahami fenomena alam dan sosial, mereka juga kenal diri.
Pengenalan diri dan pemahaman fenomena alam dan sosial inilah yang akan menjadi landasan bagi para murid untuk memilih program studi di perguruan tinggi. Nampaknya dengan pemberlakuan kembali Tes Potensi Akademik yang sangat akademis, berlaku kembali di zaman Abdul Mu’ti, hambatan pembelajaran murid aktif akan terjadi kembali.
Baca Juga:
Menurut hemat saya, dua akar masalah ini kita harapkan segera menjadi perhatian dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dan Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi. Tanpa perhatian terhadap dua akar masalah ini, salah satu masalah penting pendidikan, tidak akan terselesaikan.
Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto ilustrasi digenerate oleh AI
Leave a Reply