Tantangan Utama Belajar Teknologi Kecerdasan Buatan Untuk Pelajar dan Mahasiswa

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Depoedu.com – Kehadiran teknologi kecerdasan buatan di tengah-tengah masyarakat terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa benar-benar harus diwaspadai. Sebagai bagian dari perkembangan teknologi, pelajar dan mahasiswa tidak hanya mengenali ragam teknologinya melainkan juga harus mampu menggunakannya dalam menyelesaikan masalah.

Misalnya dalam hal teknologi kecerdasan buatan, mereka harus mengenal model bahasa besar (LLM) yang dilatih untuk memahami, menafsirkan, dan menghasilkan bahasa manusia dalam bentuk aplikasi seperti ChatGPT dan Bing AI atau LaMDA dalam bentuk aplikasi seperti Google Bard.

Tidak hanya itu, mereka juga harus dilatih menggunakannya hingga fasih, agar mereka memiliki kompetensi yang memang dibutuhkan pada zaman perkembangan teknologi kecerdasan buatan ini. Namun pembelajaran teknologi tidak hanya menyangkut penguasaan teknis saja.

Baca Juga:

UNESCO Terbitkan Dokumen Panduan Penggunaan Kecerdasan Buatan di Sekolah. Ini Isinya.

Selain paham dan fasih menggunakan kecerdasan buatan dalam menyelesaikan masalah, para pelajar dan mahasiswa harus dilengkapi dengan etika (pengetahuan etis) dan sikap etis dalam menggunakan teknologi tersebut. Dengan demikian mereka dapat menggunakan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab, sejak masa masih sekolah.

Kini yang menonjol diketahui dari kecerdasan buatan sebagai teknologi baruadalah manfaatnya dalam memudahkan pekerjaan manusia, dalam hal menerjemahkan bahasa, membuat teks atau tulisan sehingga memudahkan komunikasi, memudahkan  membuat teks dengan memanfaatkan informasi dalam jaringan.

Namun penelitian mulai membuktikan dampak buruknya bagi manusia, terutama ketika kecerdasan buatan disalahgunakan oleh penggunanya. Hal ini mengakibatkan teknologi yang diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia justru merusak manusia, sehingga manusia bukannya bertumbuh menjadi semakin manusiawi, melainkan mengalami kemunduran.

Baca Juga:

Belajar Dari BINUS: Mahasiswa Bersiap Untuk Memasuki Dunia Kerja

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) seperti dilansir pada laman Kompas.id, melaporkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT dalam penulisan memiliki konsekuensi buruk pada otak, karena menyebabkan erosi keterampilan berpikir kritis.

Dalam penelitiannya, tim tersebut merekrut 54 sukarelawan yang dibagi dalam 3 kelompok. Mereka semua diminta menulis esai berdurasi 20 menit, tentang topik filantropi. Satu kelompok menggunakan ChatGPT, kelompok kedua menggunakan Google search dan kelompok ketiga tidak menggunakan baik ChatGPT ataupun Google search. Setiap sukarelawan dipasangi perangkat elektroensefalogram (EEG) untuk memantau aktivitas otak seperti keterlibatan kognitif, serta beban kerja mental saat mereka menulis. Para peneliti juga melakukan analisis pemrosesan bahasa alami dan mewawancarai peserta.

Untuk tiga sesi pertama analisis EEG menunjukan perbedaan yang jelas dalam konektivitas otak. Kelompok yang tidak menggunakan teknologi menunjukkan aktivitas jaringan otak yang terkuat dan paling luas. Kelompok pengguna google search menunjukkan tingkat keterlibatan otak sedang, sedangkan pengguna chatGPT menunjukan aktivitas otak paling lemah.

Baca Juga:

Empat Kualitas Dasar Untuk Membangun Personal Brand Mahasiswa

Sesi keempat penelitian sebagai sesi terakhir diikuti oleh hanya 18 dari 54 peserta sebelumnya. Mereka yang menggunakan ChatGPT pada sesi sebelumnya, di sesi ini tidak menggunakan chatGPT. Sebaliknya, yang di sesi sebelumnya tidak menggunakan chatGPT, di sesi ini menggunakan chatGPT.

Di sesi ini kelompok pertama menunjukkan konektivitas saraf yang lebih lemah, sedangkan kelompok kedua yakni mereka yang tadinya tidak menggunakan teknologi dan di sesi ini menggunakan chatGPT, tetap menunjukkan daya ingat yang lebih tinggi.

Kondisi yang sama juga terungkap dalam sesi wawancara. Kelompok pengguna teknologi chatGPT atau google search lebih kesulitan mengutip esai mereka sehingga penampilan mereka lebih buruk daripada kelompok yang tidak menggunakan teknologi. Mereka lebih mampu merespon pertanyaan di antaranya dengan mengutip apa yang mereka tulis di esai.

Hendaknya hasil penelitian ini membuat kita melihat sisi sebaliknya dari kehadiran teknologi kecerdasan buatan seperti chatGPT, google Bard, atau Bing AI. Bahwa penggunaan kecerdasan buatan ternyata berdampak buruk pada otak karena menyebabkan kemunduran keterampilan berpikir kritis.

Baca Juga:

Anggota Komisi XI DPR RI Mempertanyakan Keanehan Distribusi Anggaran Pendidikan dalam APBN

Dalam konteks proses belajar para pelajar dan mahasiswa, sikap etis harus menjadi bagian penting yang dibentuk pada proses ini. Mereka belajar menggunakan kecerdasan buatan  untuk penguasaan kompetensi. Jika setelah dikuasai lalu digunakan untuk menyelesaikan tugas kuliah, itu adalah indikator kegagalan proses belajar teknologi.

Karena mereka secara tidak bertanggung jawab menggunakan kompetensi mereka untuk merusak diri mereka sendiri. Ini adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu juga merupakan tindakan yang tidak etis, apalagi terhadap diri sendiri.

Inilah salah satu tantangan penting dari proses belajar di zaman pesatnya perkembangan teknologi. Keberhasilan proses belajar tidak hanya diukur dari penguasaan kompetensi, tetapi juga dari tumbuhnya sikap etis terutama sikap tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi untuk perkembangan pribadi dan kemaslahatan kemanusiaan. 

Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of