Mengapa Masyarakat Suara Flotim Mempersoalkan BDS?

Bisnis
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Tulisan ini hadir sebagai tanggapan atas hebohnya masyarakat Suara Flotim menyoal BDS. Saya sangat penasaran. Sebenarnya apa yang menjadi pemicu semacam polemik itu? Hingga tulisan ini dibuat, saya belum menemukan trigger dari diskusi terkait BDS ini.

Dari diskusi yang berhasil saya temukan, dan tentu saja sangat terbatas informasinya, barangkali hanya kurang dari 1 persen dari keseluruhan diskusi itu, saya berkesimpulan bahwa yang menjadi persoalan adalah “siapa”. Bukan apa itu BDS, atau mengapa Flotim membutuhkan BDS atau apapun yang secara esensial menyerupai BDS.

Bisa jadi saya salah. Dan saya berharap demikian. Mungkin karena saya tidak terlalu serius berusaha untuk menemukan. Karena maksud tulisan ini tidak bermaksud untuk memicu lagi debat lebih panjang terkait BDS.

Baca Juga:

SDM, BUMDes dan Tantangan Koperasi Merah Putih

Dalam pencarian digital, tidak sulit kita temukan bahwa BDS – Business Development Services adalah setiap upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja keseluruhan sebuah unit bisnis dalam jangka panjang. Kinerja itu meliputi profitabilitas, akses pasar, daya saing, strategi, aspek manajerial, marketing dan berbagai aspek teknis lain.

Upaya upaya untuk meningkatkan kinerja keseluruhan unit bisnis meliputi konsultasi manajemen, pelatihan sumber daya manusia, standarisasi kualitas produk, penyusunan SOP, riset pasar, pengembangan strategi pemasaran, termasuk dukungan finansial.

Dan saya percaya bahwa masyarakat Suara Flotim yang menjadikan BDS sebagai – katakanlah- sebuah polemik, pasti memahami esensi dari BDS ini sendiri. Alih-alih fokus pada menjadikan  siapa sebagai polemik, kenapa kita tidak mengusahakan secara serius fokus kita pada “apa dan mengapa” kemudian “bagaimana” meningkatkan kinerja apapun unit usaha di sekitar kita.

Baca Juga:

Mengapa Harus Koperasi Merah Putih?

Pertanyaan yang paling menggelitik saya adalah, kenapa Flores Timur membutuhkan BDS? Tentu ini pertanyaan yang sangat reflektif. Mengingat bahwa amanat undang-undang, sumber dana, dan semua suprastruktur, yang memungkinkan, sudah belasan tahun disediakan bagi sebuah unit bisnis bernama BUMDes yang hadir di halaman rumah kita masing-masing.

Artinya, kita memiliki lebih dari 200 unit bisnis bernama BUMDes – Badan Usaha Milik Desa – ini, di Flores Timur. Idealnya seperti itu. Nyatanya?

Para sahabat yang diam di Flores Timur tentu lebih paham persoalan di lapangan. Pertanyaan kemudian adalah Apakah BDS ini hadir untuk meningkatkan kinerja BUMDes, atau membantu Koperasi Desa Merah Putih untuk meningkatkan kinerja bisnisnya?

Baca Juga:

SDM dan Menyemai Asa Sinergi BUMDes dengan Koperasi Merah Putih

Menggali Akar Masalah

Unit bisnis bernama BUMDes itu bukan unit bisnis abal-abal. Atau unit bisnis asal jadi, atau unit bisnis yang dibentuk hanya untuk formalitas belaka. Unit bisnis bernama BUMDes itu adalah unit bisnis yang dikelola secara profesional, sebagai jantung perekonomian di desa.

Dan dalam refleksi saya pribadi, – karena itu bisa saja tidak sama dengan yang bukan saya – bahwa tantangan terbesar kita adalah persoalan sumber daya manusia. Mengapa sumber daya manusia?

Desa memiliki potensi. Pasti. Desa memiliki uang. Ini juga pasti. Ada dasar hukum membentuk BUMDes. Ini juga pasti. Dengan semua dukungan itu, seandainya kita memiliki SDM yang mumpuni, wajah Flores Timur pasti menunjukan pesona yang berbeda dengan yang kita lihat hari ini. Kenyataan ini pahit, namun bukan untuk kita muntahkan.

Baca Juga:

Lagi, Tentang Ide Unit Bisnis Koperasi Merah Putih di Flores Timur

Harus Mulai Dari Mana?

Jika kita hanya fokus pada meningkatkan sumber daya manusia, segala dimensi, mengejar berbagai ketertinggalan yang poli dimensi itu, maka berapa lama waktu yang kita butuhkan? Alih-alih menunggu SDM kita siap, barangkali kita bisa mulai sambil belajar menuju kesiapan itu. Learning by doing. Kira-kira begitu.

Apakah learning by doing ini berarti membuka peluang kita untuk melakukan kesalahan dan belajar dari sana? Tidak juga. BUMDes itu institusi bisnis serius. Karena itu BUMDes harus dikelola secara profesional. Profesionalisme itu ditujukan lewat mitigasi risiko.

Menyiapkan SDM, Menggali Potensi di Desa, Menyusun SOP, Memperkuat aspek manajerial, Standarisasi Kualitas Produk, Menemukan dan Menciptakan Pasar, dan hal teknis lain harus dilakukan secara simultan.

Baca Juga:

Ayo Flotim, Ambil Manfaat Sebanyak Mungkin Dari Koperasi Merah Putih

Ini bisa jadi tantangan yang tidak ringan, sebab kita menggarap banyak hal secara bersamaan. Karena itu kita membutuhkan fokus dan niat baik yang terhimpun oleh banyak kalangan, dari berbagai latar belakang, yang memberi kontribusi positif.

Maka pertanyaan kemudian adalah, Maukah kita masyarakat Flores Timur menyatukan niat baik kita untuk mendorong peningkatan kinerja BUMDes atau Koperasi Desa Merah Putih kita? Ini bukan lagi soal kita bisa atau belum bisa. Hal sederhana berupa kita mau atau tidak mau.

Setelah itu, Kita Bergerak Kemana?

Saya berkesimpulan bahwa kita di Flores Timur membutuhkan BDS. Tidak harus dari mereka yang terlembagakan, diangkat dengan SK Bupati, sebab itu tidak penting.

Baca Juga:

Koperasi Merah Putih dan Masa Depan Arak Tradisional Flores Timur

Kebutuhan kita adalah menjadi atau memberikan BDS sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Alih-alih mempersoalkan, mari kita menjadi bagian dari solusi, bahkan jika itu hanya niat baik yang terlintas di alam pikir.

Kita mungkin harus mulai dari BDS, ini yang kita butuhkan di awal, tapi langkah serius kita kedepan adalah bergerak sinergis menuju SBD. Barangkali kita kembali besok untuk melihat kenapa kita harus bergerak menuju SBD. Bersambung…..

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of