Flores Timur: Mendorong BDS Menuju SBD

Bisnis
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Diskusi Mengenai BDS yang baru mendapat SK dari Pemerintah Flores Timur itu rupanya masih terjadi di tengah masyarakat SUARA FLOTIM. Walaupun tidak seramai sebelum-sebelumnya namun diskusi terkait ini rupanya masih saja “seksi” untuk ditelisik sementara netizen penghuni SUARA FLOTIM.

Masih sama seperti dugaan awal saya pada tulisan sebelumnya, rupanya diskusi itu masih saja ‘sibuk’ pada melihat siapa. Bukan ‘apa’ atau ‘bagaimana.’ Ini agak mengkhawatirkan saya pribadi sebab bisa jadi kita sangat sibuk menyoal yang artifisial, lalu lalai terlibat pada yang esensial.

Tulisan ini tentu saja bukan bagian dari reaksi atas ‘penolakan’ katakanlah oleh sementara warga SUARA FLOTIM atas BDS. Saya tidak ingin terjebak pada yang artifisial versi saya itu. Walaupun saya memahami sungguh kenapa Flores Timur membutuhkan pendamping yang lebih fokus untuk kemajuan Flores Timur.

Baca Juga:

Mengapa Masyarakat Suara Flotim Mempersoalkan BDS?

Saya suka ada narasi di SUARA FLOTIM soal, mengatasi kekurangan Birokrasi dengan menambah birokrasi baru. Seola BDS adalah sebuah lembaga – birokrasi baru – yang tentu saja memiliki konsekuensi anggaran. Tapi ya, sudahlah. Toh “kepada para penolak, Anda bisa saja menerima konsekuensi bahwa apapun penjelasan itu mereka tidak akan percaya”.

Jadi mari kita kembali ke laptop. Saya ingat persis bahwa ide mengenai Business Development Services memiliki banyak nama lain sebelumnya. Jauh di tahun-tahun yang lalu, muncul wacana bagimana di setiap kecamatan perlu semacam “proyek” percontohan untuk membangun sebuah unit usaha ekonomi produktif – BUMDes – yang nantinya ‘pilot project’ ini bisa menjadi media belajar siapa saja.

“Pilot Project” semacam ini tentu lahir dari banyak kegelisahan bahwa dana desa yang besar itu, dukungan regulasi, ternyata belum cukup menjadi dukungan bagi kita untuk membangun ekonomi di desa melalui BUMDes.

Baca Juga:

SDM dan Menyemai Asa Sinergi BUMDes dengan Koperasi Merah Putih

Kita terlambat jauh. Apalagi kini pemerintah pusat kemudian memunculkan program baru bernama Koperasi Desa Merah Putih, alih-alih focus pada mengembangkan BUMDes sebagai motor penggerak ekonomi di desa.

Dalam hal filosofi bisnis, saya tentu lebih nyaman jika unit unit usaha produktif di desa dikelola dengan semangat koperasi. Semangat Gotong Royong. Semangat Gemohing. Namun sekali lagi kita masih membutuhkan pendampingan, agar Koperasi Desa Merah Putih kita yang belum kemana mana ini, jangan sampai mengalami nasib sama seperti  BUMDes di desa-desa kita.

Dalam sebuah tanggapan diskusi di SUARA FLOTIM, saya menulis bahwa semua orang Flores Timur memiliki tanggung jawab dan panggilan moral untuk menjadi BDS – Supporting system – untuk mendorong tumbuh kembangnya unit usaha produktif di desanya masing-masing, entah itu BUMDes ataupun KdMP.

Baca Juga:

Lagi, Tentang Ide Unit Bisnis Koperasi Merah Putih di Flores Timur

Tanggungjawab dan panggilan moral ini, semata-mata   untuk memastikan bahwa kita semua memberi kontribusi positif untuk desa kita masing-masing, melalui BUMDes dan KdMP. Dalam konteks Flores Timur, BDS adalah sebuah upaya yang seharusnya didukung oleh semua pihak.

BDS menjadi andalan kita untuk meningkatkan semua output kinerja bisnis dari semua lembaga ekonomi yang ada di desa, entah BUMDes ataupun KdMP. Pendampingan dengan semua prasyarat, pendampingan dalam semua dimensi yang memungkinkan untuk meningkatkan kinerja Perusahaan.

Dalam tulisan sebelumnya bahwa bahwa BDS – Business Development Services adalah setiap upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja keseluruhan sebuah unit bisnis dalam jangka panjang. Kinerja itu meliputi profitabilitas, akses pasar, daya saing, strategi, aspek manajerial, marketing dan berbagai aspek teknis lain.

Baca Juga:

Ayo Flotim, Ambil Manfaat Sebanyak Mungkin Dari Koperasi Merah Putih

Kita berharap bahwa DBS bisa memberi  konsultasi manajemen, pelatihan sumber daya manusia, standarisasi kualitas produk, penyusunan SOP, riset pasar, pengembangan strategi pemasaran, termasuk dukungan finansial, agar unit unit bisnis di Flores Timur bisa bergerak maju. Meraih untung.

Namun tidak berhenti hanya pada kinerja keuangan saja. Laba yang tinggi adalah output. Sesuatu yang diharapkan setelah BDS. Namun dalam konteks Flores Timur BDS tidak lagi cukup. Setelah kita mendapatkan Laba tinggi, berikutnya adalah mengupayakan agar laba usaha yang tinggi itu bisa memberi perubahan yang menyeluruh kepada warga di desa. Dari output menjadi outcome.

Karena itu BDS adalah nama. Sementara pelaksanaannya, dalam konteks Flores Timur adalah Social Business Development – SBD. Upaya sangat serius kita adalah menciptakan lingkungan yang ideal agar unit-unit usaha di desa : BUMDes dan KdMP kita, dapat memperoleh laba setinggi mungkin (output) sekaligus memiliki dampak sosial bagi masyarakat di desa (outcome) tanpa meninggalkan kearifan lokal.

Baca Juga:

Koperasi Merah Putih dan Masa Depan Arak Tradisional Flores Timur

Karena itu, apapun unit usaha kita di desa, harus bisa melibatkan sebanyak mungkin masyarakat di desa, mulai dari perencanaan, selama pelaksanaan, dan memastikan agar hasil dari unit-unit usaha tersebut, bisa berdampak langsung pada kesejahteraan yang terdistribusi secara luas dan berkeadilan.

Foto ilustrasi dari : sbdsocialbusuness.org

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of