Menyisir Keragaman di Pesisir Wuring

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

“Tak ada keributan atau keribetan di Wuring…”

Eposdigi.com – Dian mentari mulai pecah di atap kepala tatkala satu per satu langkah kami tertata di jalan setapak hotel ini. Tak lama, ketika mobil yang kami tumpangi lekas menyusuri kaki dirgantara, masing-masing kami diam dengan tanya yang sesak mengerumuni benak.

Dermaga mana yang hendak kami datangi masih menjadi misteri. Sekadar membayangkan bagaimana rupa kampung yang mahsyur itu, kami ribut memendam rasa penasaran. Yang jelas, ini bukan perjalanan biasa.

Wuring. Sebuah kampung yang anteng di pesisir Kota Maumere. Barisan rumah panggung khas rakyat Bajo menyambut kami. Beberapa warga asyik bercengkerama di bale-bale sementara anak-anak tumpah di bahu jalan, juga nanti di bentangan samudra yang luas.

Baca Juga: Pendidikan Kontekstual dan Gerakan Pemberdayaan Perempuan

Gee Mario, seorang pegiat Komunitas Kahe yang mendampingi kami, menghentikan laju motornya telak di depan sebuah warung bakso.

Siapa yang mengira bahwa pemilik warung tersebut ialah pemilik garis kehidupan yang ulet, yang demi mendengar kisahnya, kami tahu bahwa kehidupan ini punya beragam cara untuk membuat kita mengerti mengapa kita ada di sini.

Seorang pria paruh baya dengan peci merah yang melekati kepalanya nongol dari balik dinding warung bakso itu. Air mukanya ramah menyongsong kami.

“Haji Mona,” demikian ia memperkenalkan diri.

Usai dituntaskannya perkara dapur, ia mengundang kami mengunjungi rumah seorang kawannya, yang kemudian kami sapa sebagai Kak Mega. Kami menjejaki jembatan bambu dan kayu yang barangkali usianya tak lagi muda.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA)

Andai jembatan itu mampu berbicara, mungkin ia punya aneka cerita yang ditangkapnya di Kampung Wuring.

Garis wajah Kak Mega yang terbalut masker hangat menerima kehadiran kami. Tiada yang sanggup menerka bagaimana kehidupan akan mempertemukan setiap kita, bukan?

Termasuk kami yang sebelumnya tak pernah menduga kapan dan di mana segala perjumpaan ini bakal terjadi. Dengan beralaskan tikar, kami beradu pandang seraya mengulum tutur.

Perbincangan kami berangkat dari pergumulan mereka. Ya, mereka. Boleh jadi, akan ada yang bertanya, siapakah mereka yang tertulis dalam naskah ini?

Mereka, yang kami namai sebagai “saudara” adalah mereka yang enggan menyerahkan diri untuk menyerah pada kehidupan, kendati kehidupan punya pelbagai cara untuk membunuh mereka.

Haji Mona dan Kak Mega adalah bagian dari mereka yang sedari tadi menjadi bagian penting dari perjalanan kami. Keduanya ialah awak Perwakas alias Persatuan Waria Kabupaten Sikka.

Baca Juga:  Benarkah Masyarakat Adonara Murni Patrilineal?

Mereka adalah waria dari Kampung Wuring yang membidani kelahiran paguyuban waria tersebut. Mereka adalah pejuang tangguh kehidupan yang paham persis bagaimana bertahan sebagai penyintas sepanjang hidup mereka.

Dua puluh tiga tahun silam, Perwakas berdiri di Kota Maumere. Bersama Yayasan Cinta Kehidupan yang  digawangi Lamber Dore Purek, Perwakas menjadi organisasi waria pertama di Nusa Bunga.

“YCK merangkul kami dan kelompok rentan lainnya untuk membentuk paguyuban bersama sebagai wadah kami untuk saling mendukung dan berbagi,” tutur Haji Mona yang adalah pilot perdana Perwakas.

Riuh suara gelombang sesekali bersahutan di kejauhan, sedang beberapa ekor burung camar mengudara dengan bebas. Kak Mega dan Haji Mona melayang ke masa lalu, memutar kembali rekaman kehidupan yang membawa mereka tiba pada dermaga hari ini.

Perihal mendadani diri dengan menebar kebaikan adalah kompas perjalanan yang tak luput mereka tinggalkan.

Haji Mona adalah waria terpandang yang cukup disegani di kampung itu. Siapa yang tak kenal tabiatnya. Penata rias handal itu sudah melalang buana dan banyak makan garam.

Baca Juga: Ini 13 Perempuan Calon Kepala Desa di Flores Timur

Bahkan setelah keputusannya menanggalkan penampilan feminin yang dahulu kerap dikenakannya, tak lantas membuatnya kehilangan tempat di hati masyarakat. Ia justru kian dikenal, dengan kepiawaiannya yang mumpuni.

Sebagai waria, Haji Mona dan Kak Mega paham betul bagaimana masyarakat luas acapkali melontarkan stigma diskriminatif terhadap mereka. Hujatan, cacian, bahkan aksi tak menyenangkan kadangkala mendatangi mereka.

“Februari kemarin, kami dilempar oli oleh orang tak dikenal, ketika kami sedang beramah-tamah di kediaman salah seorang teman,” ujar Haji Mona.

Sekali pun nyaris tak bisa melarang tiap orang untuk membungkan segala cibiran akan mereka, Haji Mona dan Kak Mega tak lantas membiarkan kehidupan merenggut jati diri mereka.

Dengan berani, mereka tetap berdiri di atas kaki sendiri, bersama seluruh waria lain yang terjun bebas ke berbagai bidang pekerjaan, dengan keunikan mereka masing-masing.

“Ada yang buka kios. Ada yang jadi penata rias seperti Kak Haji. Ada yang jadi penenun. Nelayan juga ada, bahkan ada yang jadi kepala TK-PAUD di Nangahure,” imbuh Kak Mega yang menyiratkan binar kebanggaan di balik kacamatanya.

Baca Juga: Seperti Maudy Ayunda, Mengapa Perempuan Harus Berpendidikan Tinggi?

Sontak kami tertegun. Adalah suatu rahasia akbar bab impresi waria di tengah masyarakat yang masih cenderung dilaburi beragam stigma tak menyenangkan. Namun di balik segala kepahitan yang mampir itu, mereka tetap bertekun dalam perbuatan.

Suatu nilai yang tak ternilai, yang tak akan pernah kami dapatkan di belahan bumi mana pun, kecuali di kolong atap ini, ketika kehangatan memeluk kami erat.

Bersama Perwakas, Haji Mona dan rekan-rekannya melebarkan sayap sampai ke belahan pulau yang lain. Mereka berkunjung dari satu kabupaten ke kabupaten lain, merangkul sesama waria yang terpinggirkan oleh titah masyarakat yang entah muncul dari mana.

Kehadiran Perwakas tak cuma menjadi bukti dukungan bagi mereka yang tersudutkan, namun juga menjadi pemantik yang ampuh. Di sejumlah kota, misalnya Ende dan Larantuka, paguyuban waria setempat lahir pasca visitasi Perwakas

Baca Juga: Rambut Rebonding, Celana Umpan dan Martabat Perempuan Adonara

Gee Mario tetap menyertai kami ketika via dolorosa Perwakas masih berkumandang di telinga kami. Komunitas Kahe, komunitas lokal di Kota Mumere yang fokus pada urusan kesenian dan kebudayaan,  tempat Gee bernaung, rupanya punya rekam jejak yang apik dengan Perwakas.

Sejak bergiat bersama pada perayaan 50 tahun Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero pada 2018 lalu, Komunitas Kahe aktif membangun relasi berkelanjutan, khususnya dengan waria dari Kampung Wuring.

Bagi Gee, Wuring adalah kampung yang tak hanya kaya akan histori dan tradisi. Kampung reklamasi itu nyaris sama sekali tak bersentuhan dengan penolakan terhadap para waria. Malah warga sekitar dengan tangan terbuka enggan menyangkal eksistensi mereka.

Haji Mona pun menuturkan hal serupa. Buatnya, Wuring adalah kampung istimewa. Tak ada keributan atau keribetan di Wuring. Mereka semua berdampingan satu sama lain setiap hari.

“Dulu sebelum ada Perwakas, kami selalu dilibatkan dalam kegiatan posyandu di Wuring. Kami juga membantu para ibu di PKK dan anak-anak muda di sini. Kami semua hidup bersama, tanpa ada gesekan apapun,” timpal Kak Mega.

Pada Februari lalu, Perwakas, utamanya waria di Kampung Wuring terlibat dalam sebuah project bersama Komunitas Kahe. Bertajuk “Siselo Susurang”, festival sosial budaya gelaran Kahe itu mengundang banyak mata tertuju kepada Wuring, termasuk kepada waria yang tinggal di sana.

Bukan baru sekali memang Perwakas mendulang atensi. Sederet prestasi yang santer digondol Perwakas membuat mereka sontak menjadi buah bibir di mana-mana.

Baca Juga: Sikkapedia; Merekam Warisan Budaya Sikka

Komunitas Kahe melihat Perwakas sebagai tak sekadar paguyuban waria. Perwakas adalah gudang talenta yang menyimpan keunikan tersendiri. Keramahan Perwakas yang tak segan menerima siapa saja yang menandangi mereka menjadikan Perwakas tempat yang nyaman untuk tinggal.

 Kenyamanan itu pula yang turut kami rasakan. Kepada semua yang datang, Perwakas menghidangkan kehangatan. Kepada semua yang pulang, Perwakas menyodorkan kenangan yang karib.

Mengupas potensi Perwakas memang bukan bab yang kecil. Kelompok kasidah Perwakas misalnya yang sudah jadi langganan tetap instansi Pemerintah Daerah setempat.

Bersama kelompok PKK Wuring, waria setempat pernah menggaet kejuaraan tingkat kabupaten, yang mengantarkan mereka sampai ke level provinsi hingga kancah nasional. Mengagumkan, bukan?

Menjelang siang, kami beranjak. Haji Mona menjadi pemandu yang menggiring kami menyusuri jalanan kampung nan ayu. Anak-anak dengan berani menantang luasnya samudra. Mereka pun tak kalah ramah menyongsong kami yang sibuk mengambil gambar dan video di sana.

Baca Juga : Keaslian budaya kampung adat Wae Rebo bisa hilang tergerus moderenitas

Rasanya belum puas kami menimba pengalaman dari sumur kehidupan Haji Mona dan Kak Mega. Namun kami tetap bergembira boleh melewati hari dengan cerita ini.

Waria bukan virus bak Covid-19. Berhadapan dengan mereka, kita tak perlu mengenakan “masker”. Justru kepada merekalah, kita mesti menanggalkan masker dan menyodorkan senyuman, meluruhkan jarak dan tak perlu mencuci tangan.

Kepada mereka, tiap kita mesti menerobos batas, membiarkan diri kita lepas dari jeratan stigma yang terlampau mengikat. Kepada mereka, kita tak harus menutup pintu.

Dari pesisir Wuring, kami menyisir keragaman yang eksotis. Di sanalah, di bawah kolong langit yang anggun itu, kami belajar bahwa we need none’s approval to show who we are.

Foto: Dokumen pribadi penulis

 

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of