Eposdigi.com – Beberapa bulan terakhir, nama Joko Widodo kembali mendominasi ruang publik. Hampir setiap hari ada saja isu yang mengaitkan dirinya. Ada yang memuji, ada yang mengkritik, bahkan ada yang terus menjadikannya sasaran utama dalam berbagai perdebatan politik.
Fenomena ini menarik. Sebab, secara formal Jokowi sudah tidak lagi menjabat sebagai Presiden. Namun dalam prakteknya, ia masih menjadi salah satu tokoh yang paling sering dibicarakan di Indonesia.
Pertanyaannya sederhana: siapa sebenarnya yang menjaga agar nama Jokowi tetap menjadi topik utama?
Baca Juga:
Jawabannya mungkin terdengar paradoks. Bukan hanya para pendukungnya, tetapi juga mereka yang paling keras mengkritiknya.
Dalam dunia politik modern saat ini, perhatian adalah mata uang yang sangat berharga. Tokoh yang terus dibicarakan, baik dalam nada positif maupun negatif, cenderung tetap memiliki tempat dalam kesadaran publik.
Selama nama seseorang terus hadir dalam percakapan masyarakat, ia belum benar-benar meninggalkan panggung politik.
Inilah yang [tidak disadari banyak pihak, terkhusus yang kontra Jokowi] telah terjadi pada Jokowi.
Baca Juga:
Pesan Presiden Jokowi dan Efektivitas Respon Birokrasi Pendidikan Kita
Sejarah Menunjukkan Jokowi Tidak Asing dengan Serangan Politik
Sejak masih menjabat Wali Kota Solo, kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta, hingga memimpin Indonesia selama dua periode, Jokowi berkali-kali menghadapi kritik, kampanye negatif, dan berbagai bentuk serangan politik.
Sebagian kritik tentu merupakan bagian yang wajar dan penting dalam demokrasi. Namun tidak sedikit pula kontroversi yang justru membuat namanya semakin dikenal luas.
Terlepas dari apakah seseorang setuju atau tidak dengan kebijakan-kebijakannya, satu hal sulit dibantah: berbagai serangan politik masih tidak berhasil menghilangkan pengaruh Jokowi dalam ruang publik.
Sebaliknya, dalam banyak kesempatan, perhatian terhadap dirinya justru semakin besar.
Baca Juga:
Efek yang Sering Terjadi dalam Politik
Ada satu dinamika yang sering muncul dalam politik: ketika seorang tokoh terus-menerus diserang, sebagian masyarakat yang sebelumnya netral mulai mempertanyakan apakah serangan tersebut masih proporsional.
Pada titik tertentu, kritik yang dianggap berlebihan dapat memunculkan simpati dari sebagian publik. Mereka bukan selalu pendukung tokoh tersebut, tetapi merasa bahwa serangan yang terus-menerus tidak lagi produktif.
Fenomena seperti ini bukan hanya terjadi pada Jokowi. Dalam berbagai negara demokrasi, tokoh politik yang terus menjadi sasaran sering kali memperoleh konsolidasi dukungan dari kelompok yang merasa mereka diperlakukan tidak adil.
Bukan karena semua kritik itu salah, melainkan karena persepsi publik terhadap intensitas dan cara penyampaiannya juga ikut berpengaruh.
Baca Juga:
Demokrasi yang Bising: Ketika Ruang Publik Dikuasai Algoritma
Popularitas Tidak Selalu Dibangun oleh Pendukung
Banyak orang beranggapan bahwa popularitas hanya dibangun oleh para pendukung. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Media sosial bekerja dengan logika perhatian. Semakin sering sebuah nama disebut, semakin besar peluang algoritma mendorong nama itu muncul kembali di berbagai platform.
Artinya, setiap unggahan, komentar, video, atau perdebatan yang terus mengangkat nama Jokowi—baik untuk mendukung maupun menyerang—ikut memperpanjang umur percakapan tentang dirinya.
Tanpa disadari, pihak yang paling vokal mengkritik pun dapat ikut menjaga relevansi politik tokoh yang mereka kritik.
Baca Juga:
Hari Ini Pemilu, Proses Demokrasi Kita Masih Panjang, Di Mana Posisi Kepentingan Bangsa?
Demokrasi Membutuhkan Kritik, Bukan Polemik Tanpa Akhir
Tentu saja kritik terhadap pemerintah maupun mantan pemimpin adalah bagian penting dari demokrasi. Kritik diperlukan agar kekuasaan tetap dapat diawasi.
Namun kritik akan lebih bermanfaat jika diarahkan pada kebijakan, data, dan solusi, bukan sekadar mempertahankan polemik yang berulang tanpa menghasilkan gagasan baru.
Jika tujuan sebagian pihak adalah membuat Jokowi tdk lagi menjadi pusat perhatian, strategi yang terus-menerus menempatkan namanya sebagai topik utama justru bisa menghasilkan efek yang berlawanan.
Dalam politik, perhatian adalah sumber daya. Dan sering kali, perhatian terbesar justru datang dari lawan politik.
Baca Juga:
Merawat Idealisme dan Kebebasan Berpikir sebagai Fondasi Pendidikan Demokrasi
Mungkin karena itu, ada baiknya energi publik mulai diarahkan pada perdebatan mengenai masa depan Indonesia, kualitas kebijakan, dan tantangan yang sedang dihadapi bangsa. Demokrasi akan lebih sehat jika ruang publik dipenuhi adu gagasan, bukan hanya adu tokoh.
Sebab pada akhirnya, tokoh politik boleh datang dan pergi. Tetapi kualitas demokrasi ditentukan oleh seberapa dewasa masyarakat memilih isu yang layak untuk terus diperbincangkan dan diamplifikasikan.
Foto ilustrasi dibuat dengan bantuan AI
Leave a Reply