Karena Pakaian Seragam, Taliban Kembali Batalkan Izin bagi Anak Gadis untuk Bersekolah

Internasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban dalam wawancara dengan Associated press, tanggal 15 Januari 2022, mengumumkan kepada publik bahwa anak perempuan kelas VI dan anak gadis akan segera kembali ke sekolah setelah tanggal 21 Maret 2022.

Waktu itu ia mengatakan, pendidikan untuk anak perempuan dan anak gadis adalah masalah kapasitas, karena tempat belajar untuk anak perempuan dan anak laki-laki harus terpisah.

Mujahid ketika itu menegaskan bahwa pemerintah akan segera menyelesaikan masalah kapasitas tersebut sehingga anak perempuan dan para gadis segera kembali ke sekolah menengah dan universitas.

Sejak pengumuman tanggal 15 Januari tersebut, anak gadis Afghanistan menunggu-nunggu informasi hingga pada tanggal 16 Maret Kementerian Pendidikan Afghanistan mengatakan, semua murid perempuan akan kembali bersekolah pada hari Rabu, 28 Maret 2022.

Taliban Tidak Mengijinkan Murid dan Guru Perempuan Kembali ke Sekolah?

Pengumuman ini disambut antusias oleh anak perempuan Afghanistan. Namun Rabu, 28 Maret pagi, seorang juru bicara Kementerian Pendidikan Taliban mengumumkan kepada wartawan bahwa sekolah belum dapat dibuka untuk anak gadis sampai rencana komprehensif dan islami selesai disusun.

“Semua murid perempuan di sekolah menengah akan tetap libur sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Mereka akan kembali ke sekolah begitu ada keputusan terkait seragam sekolah yang sesuai dengan Hukum Islam dan tradisi Afghanistan,” jelas pejabat tersebut.

Pengumuman ini sangat mengecewakan, tidak hanya bagi para murid perempuan, orang tua mereka, aktifis perempuan, dan komunitas internasional.

Baca juga : Benarkah Sekolah Kita Sedang Mengalami Darurat Kekerasan?

Seperti dilansir BBC, pagi itu, di banyak sekolah para murid bahkan sudah berada di sekolah. Ketika mereka sibuk membersihkan debu yang menempel di meja belajar mereka, beberapa guru mengumumkan bahwa sekolah harus tutup Kembali.

Para murid shock mendengar kabar itu. Beberapa murid bahkan mulai menangis. “Kami hanya ingin belajar untuk menyiapkan diri untuk melayani masyarakat. Negara macam apa ini? Apa dosa kami?” kata Fatima, salah satu dari murid-murid tersebut.

Fatima tampak putus asa, ia pun mempertanyakan komitmen Taliban. “Kalian selalu bicara tentang Islam. Apakah Islam mengajarkan untuk menyakiti perempuan seperti ini?”

Paus Fransiskus Minta Maaf Atas Kekerasan Di Sekolah Katolik Pada Masa Lalu Di Kanada

Reaksi juga datang dari orang tua. BBC mengutip pernyataan seorang Ayah yang mengatakan bahwa putrinya tak berhenti menangis dan sangat kecewa begitu mengetahui Pemerintah Taliban tak membolehkan mereka kembali bersekolah.

“Jika sesuatu terjadi pada anak saya, saya tak akan pernah memaafkan Taliban,” ujar Ayah tersebut.

Sedangkan aktifis Mahouba Seraj, pendiri Jaringan Perempuan Afghanistan, seperti dikutip BBC mengatakan, dirinya tak habis mengerti mengapa Taliban berubah pikiran. Ia mempertanyakan mengapa mereka tiba-tiba membatalkan membuka sekolah karena urusan seragam?

Baca juga : Universitas Islam Internasional Indonesia Jadi Kiblat Riset Islam Moderat

“Bukankah selama ini seragam murid perempuan tidak menjadi masalah, karena semua murid mengenakan hijab, dan proses belajar mengajar di sekolah menengah telah dipisah antara laki-laki dan perempuan?” tanya Mahouba.

Reaksi keras lain datang dari Sekjen PBB Antonio Guteres. Ia menggambarkan Langkah Taliban tersebut sebagai tindakan yang sangat merusak bagi anak perempuan dan masa depan Afghanistan.

Bagi Guteres, kegagalan otoritas Taliban membuka sekolah untuk anak perempuan ini adalah pelanggran komitmen yang berulang dan sangat mengecewakan. Oleh karena itu Guteres mendesak agar Taliban segera membuka kembali sekolah untuk anak perempuan.

Arab Saudi Mengembangkan Kurikulum Baru untuk Menumbuhkan Toleransi

Pembatalan pembukaan sekolah bagi anak gadis yang berulang ini memperkuat sikap skeptis komunitas internasional pada kesungguhan Taliban. Janji-janji Taliban semakin tidak dipercaya oleh komunitas internasional.

Ini akan mendatangkan kesulitan tersendiri bagi Taliban ke depan. Karena pembatalan ini akan membuat komunitas internasional semakin menunda bantuan internasional bagi Taliban.

Padahal hingga saat ini, karena krisis politik, ekonomi negeri ini hampir lumpuh. Taliban sangat mengandalkan Bantuan luar negeri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat sudah sangat kesulitan. Apalagi jika bantuan internasional tak kunjung datang.

Foto:bbc.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of