Netizen Jurnalism; Berkat atau Kutuk?

Warga Peduli
Sebarkan Artikel Ini:

“…mengapa guru honorer tidak boleh tanya di medsos..”

Eposdigi.com – Baru-baru ini, dalam rangka 10 tahunnya, netizen group facebook “Suara Flotim” di’tantang’dalam sebuah lomba menulis feature tentang infrastruktur di Flores Timur.

Dalam tanggapan terkait lomba ini, Boro Beda Darius menulis “setelah ini, akan diadakan pelatihan untuk netizen jurnalisme”.

Lain peristiwa,  dalam  sebuah kesempatan pada acara besar organisasi guru, seorang pejabat tinggi di Kabupaten Flores Timur justru “menghimbau”agar para guru “jangan tanya di medsos” terkait pembayaran honor guru honorer. (kupang.tribunnews.com/2021/11/27)

Hemat saya, baik Boro Beda Darius maupun pejabat tinggi ini, sedang mengungkapkan sebuah topik yang sama yaitu peran serta warga masyarakat yang menyampaikan berbagai informasi lewat berbagai platform media sosial.

Baca Juga: Guru, Menulis dan Mendorong Perubahan

Hari ini, melesat begitu pesat berbagai kemajuan teknologi informasi sudah membuat warga dunia tidak lagi dapat memisahkan diri dari kemajuan teknologi ini.

Kita sering membahasakan media sosial sebagai “dunia maya”, namun kini kita semua lebih nyata hidup intim melekat dengan yang viirtual dibandingkan dengan perjumpaan kita dengan yang nyata.

Nyatanya kita lebih terpengaruh oleh “yang maya”. Bahkan “yang maya” ini sangat sulit dipisahkan dari kehidupan kita saat ini.

Boleh dibilang saat ini sudah tidak ada lagi “dunia maya”. Saat ini, baik yang virtual maupun reality sama-sama adalah dunia nyata. Kita hidup di tengah dunia virtual dan dunia reality. Kita menghidupi keduanya.

Baca Juga: Menulis Menjadikanmu Abadi

Netizen jurnalisme yang disampaikan oleh Boro Beda Darius menurut saya adalah “isme”-nya jurnalistik warga. Ketika masyarakat berpartisipasi aktif mengumpulkan, melaporkan, menganalisa dan menyebarluaskan berbagai realitas ke dalam dunia virtual.

Kerja jurnalistik yang dilakukan oleh warga masyarakat awam ini merupakan bagian dari bentuk komunikasi massa. Sama seperti kerja para wartawan profesional dalam mengumpulkan, melaporkan, menganalisa dan menyebarluaskan realitas yang terjadi di tengah masyarakat.

Aktifitasnya sama. Bedanya hanyalah satu dilakukan oleh masyarakat biasa, lainnya dilakukan oleh para pekerja profesional. Kerja profesional ini hanya dilakukan oleh mereka yang tergabung dalam organisasi profesi untuk tujuan ini. Kita mengenal mereka sebagai wartawan.

Profesionalitas ini tentu diikuti oleh berbagai kode etik yang mengikat secara hukum dan etika. Sementara warga masyarakat yang bukan pekerja profesional tidak diikat oleh kode etik profesi ini.

Perbedaan profesionalitas inilah yang melahirkan banyak sikap skeptis, terutama pada kerja junalistik oleh warga masyarakat awam.

Baca Juga: Mempersiapkan Generasi Bijak Digital

Banyak yang ketakutan atau sangsi mengenai akurasi peristiwa dan sumber informasi. Bisa saja realitas yang dikumpulkan dan disebarluaskan oleh warga masyarakat awam adalah informasi yang tidak benar (hoax).

Informasi yang tidak benar, tidak sesuai fakta, ini bahkan bisa diproduksi dalam berbagai format. Tidak hanya dalam bentuk tulisan, namun juga dalam bentuk foto dan audiovisual.

Sebagai sebuah paham, kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh warga masyarakat awam harus didukung, sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dalam masyarakat yang demokratis.

Terutama ketika kerja jurnalistik warga berfungsi sebagai “jurnalisme anjing penjaga” (watchdog jurnalism), di mana kerja jurnalistik yang dilakukan harus menjunjung tinggi nilai-nilai berita, yang independen dan mementingkan kebenaran.

Jurnalisme warga menjadi jawaban atas kontrol media mainsterm oleh otoritas tertentu. Kontrol atas berita ini bisa saja menghilangkan independensi berita oleh media massa yang dijalankan oleh para profesional.

Bukan berarti jurnalisme warga bebas nilai. Jurnalisme warga harus tunduk pada kewajiban moral untuk hanya mengumpulkan dan menyebarluaskan berita yang aktual dan faktual.

Baca Juga: Terbukti; ‘Kita’ Paling Tidak Sopan Bersosial Media

Tidak hanya aktual dan faktual berita yang menjadi fokus, tapi jurnalisme warga harus bisa memberi dampak yang merubah masyarakat menjadi lebih baik.

Maka lomba menulis feature mengenai infrastruktur di Flores Timur adalah bagian dari jurnalisme warga. Dan apa yang disampaikan oleh Boro Beda Darius mengenai pelatihan netizen jurnalisme menjadi kebutuhan yang tidak boleh lagi ditunda saat ini.

Pelatihan ini tidak hanya soal forma penulisan berita yang baik dan benar, namun lebih dari itu adalah mengenai tanggung jawab moral (netiket) berinternet secara baik dan etis, menjunjung tinggi sopan santun dalam berkomunikasi.

Jurnalisme warga adalah jurnalistik yang anti hoax, anti ujaran kebencian, tanpa sadistik, tidak rasial, menghormati martabat perempuan, perlindungan terhadap korban, mengedepankan asas praduga tak bersalah, perlindungan pada anak, mempromosikan dan menjaga kehayatian ekosistem alam.

Baca Juga: Harvard University, Tolak Calon Mahasiswa karena Komentar Rasis di Media Sosial

Oleh karena itu netizen jurnalisme adalah kerja junalistik yang berpihak. Termasuk di dalamnya adalah “tanya di medsos” oleh para guru honorer, yang suka atau tidak suka, disadari atau tidak, kita masih belum banyak berpihak pada kesejahteraan mereka.

Maka jurnalisme warga dalam batasan tertentu tidak lagi independen. Namun keberpihakan jurnalistik warga adalah  hanya  pada kepentingan masyarakat banyak.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of