Guru, Menulis dan Mendorong Perubahan

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

“.. selamat Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-76…”

Eposdigi.com – Kami percaya bahwa pendidikan yang baik bukan hanya merubah seseorang namun bisa membawa kemajuan bagi sebuah bangsa. Tidak hanya itu, pendidikan bisa membangun peradaban dunia menjadi lebih baik.

Pendidikan yang baik, bukan semata menyiapkan seseorang, yang secara sepsifik dapat menangani sebuah pekerjaan. Entah pekerjaan itu bersifat teknis, berhadapan dengan alat dan bahan, atau pekerjaan itu berhubungan dengan manusia dan makluk hidup lain.

Esensinya, pendidikan yang baik adalah yang harus dapat membawa seseorang menjawab berbagai realitas kebutuhan yang dihadapinya. Pendidikan harus bisa menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Baca Juga: Membaca itu Piknik. Kok Bisa?

Pendidikan harus bisa mengantar kita menyesuaikan diri, secepat, seluas, sekomplit apapun perubahan itu. Sebab sepintar apapun seseorang, sekuat apapun dia, sehebat apapun kekuasaan yang ia pegang, jika tidak dapat meyesuaikan diri dengan perubahan, dunia akan melemparnya keluar dari rantai ekosistem.

Apapun ekosistem yang sedang seseorang hidupi, selain sebab alami, jika ia gagal menyesuaikan diri dengan perubahan, pada saatnya kebaruan akan menendangnya dengan kuat. Menjungkirbalikannya dan membuangnya jauh dari perubahan itu sendiri.

Lantas apa hubungannya guru dengan perubahan?

Ekosistem guru adalah ekosistem intelektual. Kumpulan orang-orang yang terdidik baik. Sebab jika para guru tidak terdidik baik bagaimana mereka dapat mendidik dengan baik pula?

Tanggung jawab mendidik anak bangsa di pundak guru inilah, yang menjadi dasar tumpuan sekaligus alasan mengapa para guru harus terus menerus memperbaharui diri, meyelaraskan diri dengan perubahan yang sedemikian cepat di tengah dinamika kehidupan masyarakat.

Tantangan yang menghadang para guru memperbaharui diri dengan baik tentu bukan perkara gampang.

Baca Juga: Menumbuhkan Minat Baca; Harus Mulai Dari Mana?

Kualifikasi keahlian pedagogik, tingkat kesejahteraan yang masih rendah dan belum merata, sebaran kualitas guru yang belum menjangkau hingga ke pelosok-pelosok Nusantara, termasuk infrastruktur pendidikan yang jomplang adalah variabel-variabel di antara banyak hal lain yang menghambat guru menyelaraskan diri dengan perubahan.

Namun bukan hanya itu masalah kita. Yang terberat dan terbesar adalah “tidak banyak dari kita yang benar-benar menyadari bahwa kita sedang bermasalah.”

Ekosistem guru hanyalah salah satu mata rantai dari rantai besar dinamika kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya masyarakat lokal tempat guru itu berada namun juga menyangkut masyarakat bangsa bahkan dalam tatanan peradaban global.

Karena itu guru sebagai bagian dari ekosistem intelektual harus bisa menyadari, melihat sekaligus dapat mengatasi berbagai masalah.

Baca Juga: Guru di Bone Ceramahi Murid Berjam-jam Hingga Murid Pingsan

Ketika sudah melihat dan menyadari berbagai macam masalah dalam masyarakatnya, sebagai masyarakat intelektual, guru diharapkan sedapat mungkin memberi alternatif-alternatif jalan keluar.

Tentu tidak mudah, juga tidak adil membebankan ke pundak guru berbagai persoalan dalam masyarakat, namun pada tingkatan tertentu, komunitas intelektual diharapkan bisa menjadi pelopor dalam mencari dan menemukan alternatif jawaban setelah menyadari dan mengkaji secara serius masalah tersebut.

Tidak hanya dalam bentuk materi-materi ajar, guru terutama mendidik lewat tindakannya, Ia adalah GuRu. Ia diguGU dan ditiRu.

Setiap tindakannya adalah tindakan mendidik. Tangung jawab besar ada di pundaknya. Karena itu guru tidak boleh pahlawan tanpa tanda jasa. Guru adalah Pahlawan dengan Tanda Jasa paling Besar.

Kepahlawanan guru seharusnya bukanlah hasil kerja satu orang. Kepahlawanan guru adalah gerakan bersama. Satu guru dengan guru lain. Guru-guru dalam komunitas kecil, kemudian membesar dalam organisasi.

Baca Juga :Benarkah Sekolah Kita Sedang Mengalami Darurat Kekerasan?

Organisasi guru tidak boleh hanya sekedar formalitas tanda-tanda jabatan. Organisasi guru diharapkan menjadi bagian dari komunitas yang menyadari berbagi masalah, mengkaji dan sekaligus mencari jalan keluar bagi berbagi persoalan masyarakat. Mulai dari persoalan dari “dalam”. Persoalan para guru sendiri.

Maka seharusnya, organisasi guru adalah  pelantang yang paling nyaring menyuarakan keluhan para guru. Persoalan-persoalan para guru honorer, beban administratif dan persoalan guru lainnya harus sedapat mungkin disuarakan. Pertama kali dan dimulai oleh para guru sendiri.

Jika guru belum berhasil menyelesaikan persoalan yang dihadapinya sendiri, bagaimana ia dipaksa menjadi solusi bagi berbagai persoalan lain yang ada di tengah masyarakat?

Guru Menulis Untuk Perubahan

Ada banyak cara melantangkan suara guru. Salah satunya adalah dengan menulis. Berbagai persoalan yang ada di dalam masyarakat, terutama persoalan yang ada dalam diri para guru harus bisa disuarakan agar terdengar keluar.  Menulis adalah salah satu corong pelantang itu.

Baca Juga: Komunitas Baca “Masdewa”, Contoh Nyata Pendidikan Kontekstual

Guru menulis juga punya banyak manfaat lain. Penyesuaian terhadap perubahan adalah berarti menyesuaikan diri dengan kebaruan-kebaruan. Kebaruan-kebaruan ini harus dikejar dan dimiliki.

Kebaruan hanya bisa dikejar dengan dipelajari dan dilatih. Karena itu membaca adalah salah satu jalan paling lurus, paling dekat untuk mendapatkan kebaruan itu.

Menulis adalah menuangkan gagasan-gagasan. Gagasan yang dituangkan adalah gagasan yang membawa perubahan baik dalam masyarakat. Oleh karena hal inilah maka menulis adalah sejarah itu sendiri. Mereka yang menulislah yang mencatatkan sejarah.

Karena menjadi bagian dari sejarah yang merubah banyak hal menjadi lebih baik, maka menulis yang baik harus bisa membawa solusi bagi setiap masalah yang ada di masyarakat. Menulis adalah aktifitas yang memberi dampak baik.

Karenanya gagasan-gagasan yang dituangkan para guru lewat tulisan harus memiliki keterhubungan secara langsung (kontekstual) dengan berbagai persoalan yang ada di dalam masyarakat.

Tanpa dampak baik itu, tolong jangan kotori sejarah peradaban dengan hoax, gosip murahan, fitnah, pencemaran nama baik, ujaran kebencian dan hal buruk lainnya. Jangan menulis tentang hal-hal buruk ini.

Karena itu, minimal dua manfaat ini yang didapatkan para guru dengan menulis. Pertama, menulis sebagai corong ide, gagasan dan jalan keluar dari berbagai persoalan di masyarakat. Kedua menulis adalah cara untuk mendorong minat baca.

Baca Juga: Menulis Menjadikanmu Abadi

Mendorong minat baca lewat menulis karena kebaruan yang ditulis kebanyakan datang dari kebaruan yang telah dibaca, dipelajari dan dilatih dari berbagai pengalaman orang yang mereka tuangkan lewat buku atau media baca lain.

Berangkat dari pemikiran akan dua manfaat besar inilah menjadi alasan kehadiran www.depoedu.com, dan www.eposdigi.com. Kedua media ini adalah sarana untuk mengajak dan mendorong para guru menjadikan menulis sebagai kebiasan baik yang dijalani hari demi hari.

Menulis harus jadi kebiasaan yang dibutuhkan seperti layaknya membutuhkan makan setiap hari. Ketika menulis sudah menjadi kebiasaan baik maka kebaruan yang diperoleh dari membaca  akan menjadi kekuatan besar yang mendorong perubahan setiap hari.

Www.depoedu.com adalah media yang mengkhususkan diri mengangkat tema-tema pendidikan dan keluarga sebagai fokus, dan mengajak para guru untuk menulis dan membangun kebiasaan menulis.

Baca Juga: Depoedu.com, “Jembatan” Bagi Penulis dan Pembaca

Media ini adalah corong sekaligus wadah untuk mengapresiasi karya-karya tulis para guru. Namun dalam perjalanan, tanpa disadari bahwa banyak guru penulis hebat yang ingin menulis tentang tema lain selain pendidikan dan keluarga. Meka kemudian lahirlah www.eposdigi.com.

Kami menyadari dengan sangat yakin bahwa membangun kebiasaan baik lewat menulis, akan mendorong minat baca menjadi kebiasaan membaca. Kemudian membaca menjadi kebutuhan layaknya makan dan minum setiap hari.

Jika membaca sudah menjadi kebiasaan maka kebaruan akan merubah wajah peradaban dunia, menjadi lebih baik, hari demi hari.

www.depoedu.com dan www.eposdigi.com mengucapkan Selamat Hari Guru Hasional dan Selamat HUT PGRI ke 76. Semoga para guru selalu adalah Pahlawan dengan Tanda Jasa yang Besar.

Sekaligus kami redaksi depoedu.com dan eposdigi.com mengajak para guru untuk menjadi bagian dari yang menyusun sejarah peradaban dunia dengan menulis.

Foto dari kompas.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of