Menulis Menjadikanmu Abadi

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Pengantar Edisi Ulang Tahun ke-3 Depoedu.com dan Ulang Tahun ke-1 Eposdigi.com

Sejak kemarin, Jumat 24 hingga Selasa, 28 Juli 2020, redaksi Depoedu.com dan Eposdigi.com menurunkan tulisan berturut-turut untuk mensyukuri serta merayakan tiga tahun Depoedu.com dan satu tahun Eposdigi.com menjumpai Pembaca.

Kami mengundang pembaca untuk bersama kami merayakan peristiwa ini dengan menulis komentar berupa ucapan selamat, refleksi, usul, atau saran untuk perbaikan Depoedu.com maupun Eposdigi.com ke depan, pada kolom komentar.

Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan, atas sinergi yang selama ini terjadi sehingga, Depoedu.com dan Eposdigi.com dapat  terus terbit hingga hari ini. Selamat membaca.

Eposdigi.com – Menulis? Sebuah kata yang asing. Seperti ancaman. Mendengar kata itu saja sudah menjadi rumit di pikiranku. Apa ia saya bisa menulis?

Membaca saja membuatku sangat enggan untuk melakukannya, apalagi menulis. Rasanya sangat sulit untuk dilakukan.

Baca Juga: Depoedu.com, “Jembatan” Bagi Penulis dan Pembaca

Singkat saja. Waktu itu masih awal masa pandemi COVID-19. Saya menemukan seorang yang pingsan di pinggir jalan. Banyak orang di sekitar itu, namun semua memilih mengabaikannya.

Saya waktu itu melihatnya dan kemudian berpikir. Saya bukanlah mereka. Saya tidak mau sama dengan mereka yang memilih mengabaikan sesamanya. Dorongan hati nurani waktu itu sangat besar. Saya memilih membantunya.

Saya menyadari bahwa penting untuk ‘lebih’ manusiawi meskipun berada pada situasi yang mengacam keselamatan diri. Akan tetapi, keinginan saya hanya akan menjadi sekadar keinginan ketika tidak diketahui banyak orang.

Singkat cerita, saya membagikan pengalaman itu kepada seseorang. Ia menyarankan saya untuk mengirimkan tulisan di sebuah platform. Saya sungguh tidak percaya diri untuk melakukannya, akan tetapi ia terus memotivasi.

Tulisan itu pun terbit di media ini. Judul tulisan itu adalah “Humanis di Tengah Wabah COVID-19”.

Baca Juga: Humanis di tengah Wabah COVID-19

Ada perasaan bangga yang mucul. Tapi tidak hanya itu, saya pun takut kalau tulisan itu tidak dibaca oleh banyak orang. Belum lagi komentar orang-orang.

Iya kalau komentar mereka baik, kalau enggak gimana? Semacam itulah dinamika psikis yang saya alami ketika pertama kali menulis untuk Depoedu dan Eposdigi.

Pesan itu pun muncul di beranda HP-ku. Isinya sangat mengejutkan bagiku. Banyak sekali apresiasi atas tulisan itu. Semacam ada euforia tersendiri yang tidak bisa dijelaskan.

Tidak hanya apresiasi, ternyata juga ada banyak kritik. Akan tetapi kritikan itu saya jadikan sebagai sumber motivasi untuk terus menulis. Lagi dan lagi. Saya menyadari bahwa menulis tanpa memiliki dasar yang jelas, akan sangat non sense.

Saya akhirnya mulai rajin membaca. Saya sadar bahwa ide saya tidak akan berkembang ketika saya tidak membaca atau melek dengan situasi sekarang.

Hingga akhirnya, saya menemukan keasyikan dalam membaca. Saya menemukan esensi di balik kalimat “Buku itu adalah jendela dunia”. Sungguh nikmat rasanya.

Saya selalu memulainya dengan sedikit tidak percaya diri, akan tetapi selalu saja ada banyak apresiasi. Saya tidak tahu sampai kapan saya akan terus menulis.

Memang betul bahwa semua orang akan sampai pada titik terjenuh dalam aktivitas yang sama. Saya tidak tahu kapan rasa jenuh itu mengampiri saya dalam menulis, yang terpenting adalah bagaimana saya menikmati saat ini.

Apakah hanya ada rasa bangga? Tentu tidak! Saya memperoleh banyak hal dalam menulis. Saya akhirnya menemukan apa dan dan bagaiamana sebuah tulisan di medsos bisa sampai pada pembaca dan menginspirasi banyak orang.

Saya menyadari menyadari bahwa sebagus apapun tulisan saya, jika ruang untuk membagikan tulisan itu tidak luas, maka sircle pembaca hanya berada di lingkungan itu.

Saya mencoba membuat halaman dan group di FB, mengundang teman-teman lalu membagikan tulisan saya. Saya belajar membangun jaringan dengan banyak orang. Belajar bekomunikasi ketika membagikan link tersebut.

Belajar bernegosiasi dengan orang-orang agar ikut membagikan. Menurut saya ini adalah sebuah keterampilan.

Baca Juga: Memberi Pengetahuan Bagi Generasi Bangsa

Menurut saya judul perlu menarik. Lain dari yang biasanya. Awalnya saya sangat sulit untuk menentukan sebuah judul yang menarik. Seiring berjalannya waktu, judul yang kaku yang biasa saya buatkan sedikit bisa  saya ubah menjadi lebih menarik.

Lalu munculah sebuah masalah pada diri saya. Saya sudah membagikannya, judulnya juga sudah menarik. Tapi ko jumlah pembaca belum memenuhi ekspektasiku ya?

Apa sih yang masih kurang dalam tulisan saya? Saya kemudian menemukan itu, yakni substansi dari tulisan.

Saya menilai bahwa judul yang saya buat sudah menarik, tapi masih ada kekurangannya. Yakni isi yang ada di tulisan saya.

Saya belajar bahwa orang akan cenderung malas untuk melanjutkan membaca jikalau isi tulisan tidak semenarik judulnya. Ini juga menjadi tantangan bagi saya. Saya perlu bekerja ekstra.

Ternyata muncul masalah lagi. Judul dan isi sudah oke, ko masih saja minim pembacanya. Saya akhirnya sadar. Bahwa ada sesuatu yang saya lewatkan dan itu adalah kata pengantar .

Kata pengantar yang saya maksudkan di sini bukanlah kata pengantar yang ada di dalam sebuah artikel tapi di luar artikel itu. Ya semacam redaksi ketika hendak mau membagikan tulisan.

Saya belajar bahwa orang akan cenderung memusatkan perhatiannya kepada sesuatu, jikalau sesuatu itu berkaitan dengan kehidupannya atau yang pernah dialaminya.

Kalaupun tidak, setidaknya redaksi/kata pengantar itu memikat dalam memberikan informasi yang bermanfaat. Ternyata muncul masalah lagi. Publikasi sudah, judul oke, isi oke, kata pengantar oke.

Baca Juga: Eposdigi.com Portal Pilihan untuk Kemajuan Bangsa

Tapi ko masih minim pembaca. Saya kemudian mempelajari dari diri saya ketika hendak membaca tulisan yang dibagikan dalam bentuk link. Saya belajar bahwa gaya memasukan link juga sangat penting.

Saya menyadari bahwa semakin besar sebuah tulisan, kemungkinan besar akan menarik perhatian orang. Jadi saya mencoba mengaplikasikan ini ke dalam tulisan saya.

Saya berusaha untuk tidak sekali saja memasukan link ketika membagikan kepada orang-orang.  Artinya link yang sama tapi diulang minimal sebanyak tiga kali.

Saya mempelajari dari diri saya bahwa ketika saya mengklik link yang jumlahnya cuman satu dan link tersebut tidak bisa di buka, saya enggan untuk melanjutkan mengklik link itu.

Oleh karena itu, dengan adanya minimal tiga link, orang akan mudah mengaksesnya. Jikalau satu link tidak bisa, dua yang lainnya masih ada kemungkinan.

Banyak hal yang saya dapatkan selain yang sudah saya ungkapkan di atas selama berdinamika dalam menulis.

Selamat Ulang Tahun ke 3 Depoedu.com dan Ulang Tahun pertama Eposdigi.com. Terima kasih memberi kesempatan pada saya untuk menulis.

Dengan menulis, kita akan menjadi terus abadi. Tidak dalam hal fisik, tetapi abadi dalam karya.

(Foto: Saat launching www.depoedu.com / dokumen depoedu.com)

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga : Menulis Menjadikanmu Abadi […]