Bahaya Herbisida Bagi Tanah dan Manusia

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Herbisida telah menjadi pilihan menangulangi gulma tanaman oleh kebanyakan petani di Adonara – Flores Timur, NTT. Hal ini telah berlangsung sedemikian lama. Barangkali sudah belasan atau 20-an tahun.

Dalam sebuah diskusi virtual di facebook belum lama ini, menyoal bahaya herbisida saya mengungkapkan bahwa pilihan instan ini bisa dimaklumi.

Pemakluman ini bisa dipahami. Para  petani di Adonara saat ini sebagian besar berusia tua. Tidak banyak anak muda yang memilih jadi petani. Tingkat usia petani adalah tingkat produktifitasnya. Semakin tua usianya semakin menurun produktifitasnya.

Kekuatan para petani tua ini mulai menurun sehingga ketika tersedia herbisida di pasar, mereka akan memilih cara instan ini untuk membersihkan kebun mereka dari tanaman pengganggu. Selama tidak ada alternatif lain yang sama instan pilihan ini bisa saja selalu menjadi laternatif satu-satunya yang mereka-para petani ini ambil.

Ayo Baca Juga: Tantangan Indonesia 4.0 di Bidang Pertanian

Bukan berarti herbisida adalah pilihan terbaik. Herbisida ternyata memberi efek negatif terhadap tanah pertanian juga terhadap manusia.

Ada dua jenis herbisida yang ada di pasaran, termasuk yang bisa diakses oleh para petani di Adonara, saat ini.  Herbisida Kontak merupakan herbisida yang langsung mematikan semua gulma terutama yang berwarna hijau yang terkena atau kontak secara langsung dengan herbisida.

Radikal hydrogen peroksida yang dilepaskan oleh herbisida kontak memecah membran dan merusak seluruh konfigurasi sel. Akibatnya bagian tumbuhan yang berwarna hijau yang aktif berfotosintesis akan mati.

Herbisida kontak memang sangat cepat membunuh gulma tanaman. Dalam 2 – 3 jam pertama setelah kontak, tumbuhan akan segera layu. Kemudian mati 2-3 hari kemudian. Karena hanya mematikan bagian tanaman gulma yang terkena kontak langsung, maka akar tanaman tidak terpengaruh oleh herbisida ini.

Herbisida kontak hanya berpengaruh pada bagian tanaman yang hijau. Akar tanaman, apalagi yang berada di dalam tanah, tidak akan terpengaruh. Untuk gulma yang perakarannya kuat maka akan dapat tumbuh kembali dengan cepat.

Ayo Baca Juga: Kekeringan Ekstrem, petani mete Flores Timur gagal panen

Bahan aktif herbisida kontak adalah paraquat. Merek dagang yang juga banyak digunakan oleh petani di Adonara adalah Gramoxone. Lainnya adalah Herbatop dan Paracol.

Berikutnya adalah Herbisida Sistemik. Herbisida ini membunuh gulma hingga keperakaran. Apabila salah satu bagian tanaman terkena herbisida jenis ini maka proses fisiologi tanaman ini akan terpengaruh.

Dari daun hingga akar di dalam tanah. Kelemahannya adalah herbisida jenis ini membutuhkan jangka waktu yang lama untuk benar-benar membunuh gulma. Tidak dalam hitungan jam seperti herbisida kontak.

Contoh merek dagang herbisida kontak yang beredar di pasaran Adonara adalah Roundup.

Tumbuhan juga memiliki toleransi terhadap herbisida. Penggunaan herbisida dalam jangka waktu panjang dapat membuat tumbuhan kebal terhadap jenis herbisida tersebut. Resistensi gulma terhadap herbisida menyebabkan gulma semakin sulit untuk dikendalikan.

Pemakluman saya atas penggunaan herbisida oleh petani semata sebagai salah satu alternatif yang bisa mereka lakukan untuk menanggulangi gulma secara instan. Walaupun penggunaan herbisida jenis apapun tentu tidak bermanfaat bagi tanah pertanian dalam jangka panjang.

Ayo Baca Juga : Bahaya Besar Menanti di balik Sumur Bor

Tidak hanya bagi tanah, herbisida juga berpengaruh buruk terhadap kesehatan manusia. Kontan.co.id (22/10/2019) menulis bahwa Kementerian Perindustrian Thailand melarang glisofat, paraqat dan chlorpyrifos mulai 1 Desember 2019. Paraquat bahakan sudah dilarang di Eropa sejak 2007 lalu.

Paraquat adalah herbisida, yang oleh  Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat menyebutnya sangat beracun, telah dilarang penggunaannya di Eropa sejak 2007 lalu.

Adalah Dewayne Johnson. Ia menggugat produsen Roundup atas kangker yang dideritanya. Tidak hanya Dewayne, ribuan tuntutan hukum serupa juga dialamatkan ke Monsanto, produsen herbisida anak perusahaan Bayer. Pengadilan kemudian memaksa perusahaan membayar gani rugi sebesar kurang lebih 3,6 triliun rupiah (Tempo.co, 11/08/2018).

Tidak hanya di Amerika, tuntutan kepada Monsanto juga datang dari Australia. Wartaekonomi.co.id (16/10/2019) melansir berita tentang tuntutan hukum dari Ross Wild. Ia mengklaim terkena leukemia akibat herbisida Roundup yang digunakannya.

Selain Ross Wild, Bayer juga digugat Michael Ogliarolo atas klaim yang sama. Gugatan di Australia ini muncul setelah putusan pengadilan di Amerika Serikat.

Ayo Baca Juga: Kaum Muda dan Masa Depan Pertanian Nasional

Tidak hanya berbahaya bagi kesehatan manusia, herbisida juga memiliki sisi gelap lainnya pada lahan pertanian. Herbisida yang secara instan mematikan rumput mengakibatkan tanah menjadi tandus dan keras.

Tandus dan kerasnya tanah ternyata berpengaruh buruk terhadap organisme lokal pengurai unsur hara tanah. Hilangnya organisme lokal mengakibatkan tanah semakin kehilangan kesuburannya.

Lahan yang tidak berrumupt lagi juga membuat tanah kehilangan daya serap terhadap air hujan. Akibatnya aliran permukaan air hujan tidak masuk kedalam tanah, sehingga mengakibatkan kelembapan tanah berkurang. Lahan pertanian akan semakin tandus.

Mengingat lebih banyak mudaratnya, maka herbisida buklan lagi pilihan tepat bagi petani.

Maka tantangan berikutnya adalah bagaimana menemukan alternatif lain yang instan untuk menghilangkan berbagai pengganggu daya tumbuh tanaman pertanian, tanpa mengabaikan aspek kesehatan manuisa dan kelestarian lingkungan hidup.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of