Media sosial; so sial?

Sospol
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Sudah jadi kebiasaan saya untuk mengamati hal-hal kecil di sekitar saya; dan dari pengamatan kecil-kecilan itu pasti ada hal yang bisa saya jadikan pelajaran. Nah, belakangan saya mengamati adanya kecenderungan di lingkaran pertemanan saya sendiri; yakni rasa frustasi terhadap media sosial. Kurang lebih dalam setahun terakhir, ternyata teman-teman di sekitar saya yang mengaku cepat stress dengan media sosialnya sendiri, bertambah.

Tahun lalu kalau tidak salah ada satu di antara sekian banyak teman (riil) saya. Sekarang-sekarang ini, saya mendapati malah beberapa lagi. Dengan gamblang mereka cerita betapa leganya mereka kalau tanpa sengaja smartphone-nya mati karena kehabisan baterei, atau paket data internet mereka habis dan belum sempat diisi kembali. Dengan lugas mereka mengungkapkan betapa tenangnya hari-hari mereka tanpa scrolling up and down dinding media sosial sendiri atau milik media sosial teman-teman maya mereka.

Anehnya, di saat yang sama mereka juga cerita bahwa ketenangan itu tidak bisa berlangsung terlalu lama. Setelah jangka waktu tertentu, mereka mengaku gelisah juga jika paket belum diisi, atau HP belum di-charge lagi. Mereka gelisah jika terlalu lama vacuum dari ponsel pintar. Takut kalau-kalau tertinggal informasi. Cemas kalau-kalau ada kerabat dekat yang menghubungi. Khawatir jangan-jangan ada kesempatan baik datang lewat alat komunikasi itu tetapi karena tidak aktif, bisa-bisa terlewatkan begitu saja.

Zaman sekarang segala sesuatu bergantung pada jari, yang bermain-main di atas layar ponsel pintar. Urusan sekolah, pekerjaan, bahkan jodoh, bisa beres dalam sekali klik. Dulu, kata orang dunia bisa dilihat melalui jendela (layar komputer maksudnya) –makanya perusahaan software terbesar dunia, Windows, menggunakan analogi jendela sebagai ikon dan trade mark nya. Kini, bisa jadi di kemudian hari akan ada perusahaan Fingers yang menggantikansaking bergantungnya kita dengan jari jemari di atas ponsel pintar ini. Bisa jadi saja ini mah. Bisa jadi. Maka sesungguhnya adalah sebuah keprihatinan, kalau sejawat-sejawat saya begitu tenggelam dalam area abu-abu, antara frustasi dan gandrung terhadap media sosial dan segala dinamikanya. Alias, rugi.

Di satu sisi, media sosial memudahkan banyak hal. Belakangan sudah ada jenis pekerjaan yang lebih dari cukup menghidupi seseorang (bahkan keluarganya), yang secara penuh bergantung pada media sosial. Anda dan saya tahu apa itu: Youtuber! Anak-anak murid kita di sekolah-sekolah dasar sudah mulai memasukan Youtuber menjadi salah satu pilihan jawaban kalau mereka ditanyai “Kalau sudah besar ingin jadi apa?”. Itu hanya satu. Masih banyak hal lain yang sekarang sangat bergantung dari media sosial.

Orang mencari pekerjaan, mengejar gelar pendidikan, bahkan menemukan calon pasangan hidup yang ideal dan mapan bibit bebet bobot nya, semua lewat media sosial. Media sosial membuka kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikirkan. Media sosial menawarkan keuntungan-keuntungan yang sebelumnya bahkan tidak pernah masuk hitungan. Nah, di sisi lain, media sosial membuka sisi-sisi kehidupan yang sebelumnya orang merasa tidak pantas dibuka.

Media sosial memberikan alasan-alasan logis mengapa hal-hal yang tadinya bersifat pribadi, personal dan rahasia, sekarang layak dikonsumsi publik, pantas dieskpos dan cakap dikomentari teman-teman maya.

Yang terakhir ini, yang saya pikir menjadi alasan kenapa teman-teman di sekitar saya mengalami kecenderungan menjadi stress dengan media sosial mereka sendiri di satu sisi, dan menggandrungi nya di sisi yang lain. Well, ada satu nasihat klasik yang mudah didapatkan di mana saja sekarang.

Nasihat ini juga gampang diucapkan atau dibuatkan quote di postingan Instagram sekarang. Tetapi sesungguhnya nasihat ini amat sangat, teramat sangat sulit dilakukan, Nasihat itu berbunyi: jangan membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain! Well, rasanya memang agak tidak mungkin. Media sosial mengekspos kehidupan orang lain. Adalah sifat manusiawi bagi kita untuk membanding-bandingkannya kemudian dengan kehidupan kita sendiri. Kan?! Ya, agak tidak mungkin memang, tetapi kan bukan berarti tidak bisa. Ya to?!

Ketika kita menggunakan media sosial, kita berteman dengan banyak orang. Banyak di antara teman-teman maya itu sungguh-sungguh adalah teman maya. Kita belum pernah bertemu dengan mereka. Kita belum pernah berbicara langsung dengan mereka. Tetapi juga banyak teman-teman maya kita juga yang adalah teman-teman kita di dunia nyata. Yang sering kita jumpai dalam keseharian. Kita lihat sendiri cara dia berpenampilan, bergaul dan beraktivitas. Lalu kita bisa bandingkan dengan postingan-postingannya di media sosial. Dampaknya apa? Kecemburuan sosial, atau bahasa yang lebih halus lagi, kecemburuan rohani.

Jangankan Anda, saya pun tidak luput dari pengalaman seperti ini. Kalau kita bermedia sosial, berselancar online dan memiliki pertemanan-pertemanan maya dengan teman-teman kita di dunia nyata, sangat amat mudah untuk selalu membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup mereka. Karena kita melihat nyata mereka seperti apa, dan melihat juga postingan di dunia maya mereka seperti apa. Well, ada yang sesuai memang, ada yang sedikit melenceng. Memang, pada akhirnya kita berkata,”ini kan hidupku, apa urusannya dengan hidupmu,”. Mudah saja sih berkata demikian. Tetapi kenyataanya kan dampaknya kita tahu sendiri. Kita tidak bisa menghindari dari kecenderungan membanding-bandingkan.

Kalau teman Anda sesuai hidup nyata dan postingannya, tidak begitu menjadi masalah. Tetapi kalau tidak?! Contoh, ya! Ada yang gemar sekali foto dan posting makanan setiap kali nongkrong di café. Padahal belum tentu itu makanan pesanan dia sendiri. Bisa juga dia hanya sekali nongkrong di café, tetapi foto-foto beberapa makanan yang juga dipesan oleh temannya. Lalu, akan dia upload di beberapa hari berbeda.

Ehh, saya tidak bercanda. Tetapi orang seperti itu nyata, ada! Lalu, apakah kita harus iri sepanjang waktu hanya karena kita berteman dengan orang seperti itu di dunia maya dan ‘terpaksa’ terekspos oleh dugaan-dugaan tak berdasar semacam itu? Nah, makanya semuanya balik lagi. Jika kita terus membanding-bandingkan hidup seseorang dengan hidup kita, niscaya kita akan tetap merasa kurang, tidak puas, tidak bisa bersyukur dan dampak psikologis lainnya akan muncul yang tentu akan merugikan kita sendiri. Dan asal muasalnya sederhana: media sosial!

Maka sebenarnya, pintar-pintar lah menggunakan fasilitas pintar. Jangan sampai barang pintar menjadi terlalu pintar untuk kita yang menggunakannya. Penggunanya haruslah lebih pintar dari alat pintar yang dipakai. Media sosial jika dimanfaatkan dengan porsi yang pas, dengan kedewasaan pemikiran dan kemampuan mengolah emosi yang baik, akan lebih banyak mendatangkan keuntungan daripada petaka.

Karena sejatinya segala bentuk kemajuan dan perkembangan dalam kehidupan kita zaman sekarang tujuannya adalah memudahkan kehidupan itu sendiri. Maksudnya adalah untuk membantu manusia beraktivitas dengan lebih efektif, efisien, dan bahagia. Sambil menulis refleksi ini sambil saya berharap semoga fenomena frustrasi dengan media sosial, setidaknya di lingkaran pertemanan saya sendiri tidak lagi semakin marak. Semoga media sosial tidak sungguh-sungguh bergerak ke arah so sial. Semoga lho ini ya! Semoga! (Foto ilustrasi : powerthruconsulting.com)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of