Jalan Lain Menuju Kota Larantuka Bebas Sampah

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Jika tidak dikelola secara baik, sampah di Kota Larantuka bisa menjadi persoalan serius di masa yang akan datang. Dengan jumlah penduduk Se Kecamatan Larantuka lebih dari 41.000 maka volume sampah yang dihasilkan tentu sangat besar.

Dengan asumsi rata-rata produksi sampah per kapita di Larantuka sebesar 0,5 kg per hari lebih rendah dari rata-rata produksi sampah nasional sebesar 0,6 – 0,8 kg per hari pun, Larantuka sudah menghasilkan lebih dari 20 ton sampah setiap hari.

Jika tidak dikelola secara baik, timbunan sampah akan menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, dan daya tarik kota yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi di Indonesia.

Baca Juga:

Menjadikan Larantuka Kota Bebas Sampah

Maka yang paling mendesak segera dilakukan adalah, merubah cara pandang 41.000 warga Kecamatan Larantuka, untuk melihat sampah secara berbeda. Sampah adalah sumber daya. Sampah bisa menghasilkan energi, sampah bisa menghasilkan uang. Memperlakukan sampah secara tepat adalah wujud Gelekat Lewotanah Flores Timur secara langsung.

Karena itu, Larantuka membutuhkan sistem pengelolaan sampah terpadu yang tidak hanya berorientasi pada pembuangan akhir, tetapi juga pada pemanfaatan kembali sumber daya melalui konsep ekonomi sirkular.

Komposisi sampah rumah tangga di Larantuka diperkirakan didominasi oleh sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, daun, dan ranting yang mencapai sekitar 55 persen dari total timbulan sampah.

Baca Juga:

Flores Timur Jangan Jadikan Green House Sekedar Tujuan

Sisanya terdiri atas plastik, kertas, logam, kaca, tekstil, dan residu lainnya. Karakteristik ini sangat sesuai untuk diterapkan teknologi biodigester sebagai pengolah utama sampah organik.

Dengan asumsi sampah organic sebesar 50 % maka kita bisa mengolah 10 ton sampah organic per hari. Proses fermentasi anaerob yang berlangsung di dalam biodigester, untuk memanen biogas. Kandungan metana dalam biogas bisa dijadikan bahan bakar rumah tangga yang ramah lingkungan.

Dengan pengolahan yang tepat, Larantuka memiliki potensi menghasilkan ribuan meter kubik biogas setiap hari. Biogas bisa dikonversi menjadi gas untuk memasak atau menjadi energi listrik untuk mendukung operasional fasilitas pengolahan sampah.

Artinya bahwa energi yang dibutuhkan untuk mengolah sampah lebih lanjut bisa dipasok secara mandiri, dari sampah itu sendiri. Tidak hanya listrik untuk pengolahan sampah, listrik yang dihasilkan dari tempat pengolahan maupun memasok kebutuhan listrik fasilitas pemerintah dan layanan umum.

Baca Juga:

Karangan Bunga: Antara Ucapan Selamat, Iklan dan Sampah

Selain menghasilkan energi, biodigester juga menghasilkan pupuk organik cair dan padat yang dapat dimanfaatkan oleh petani, kelompok tani, maupun masyarakat yang mengembangkan pertanian dan hortikultura.

Mimpi untuk menjadikan Larantuka “Kota Hijau” bukan sesuatu yang mustahil jika kesadaran mengelola sampah dimulai dari masing-masing rumah tangga yang mendiami seisi kota.

Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi, seperti plastik, kertas, logam, dan kaca, dipilah sejak awal melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

Plastik dan kertas yang tidak layak didaur ulang dapat diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), yaitu bahan bakar alternatif yang memiliki nilai kalor tinggi dan dapat dimanfaatkan oleh industri, terutama pabrik semen atau industri lainnya yang membutuhkan energi panas.

Baca Juga:

Dapatkah Kita Mencontoh Banyumas Soal Mengelola Sampah?

Pengembangan RDF akan mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi pemerintah daerah melalui penjualan bahan bakar alternatif tersebut.

Material seperti logam, kaca, dan plastik berkualitas baik tetap diprioritaskan untuk didaur ulang karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dengan demikian, hanya sebagian kecil residu yang benar-benar harus dikirim ke tempat pemrosesan akhir.

Pendekatan ini mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA hingga lebih dari 80 persen, memperpanjang umur layanan TPA, sekaligus menekan pencemaran tanah, air, dan udara.

Sayangnya, mimpi mengenai ini tidak bisa terwujud jika tanpa partisipasi warga Larantuka secara langsung. Oleh karena itu, pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga melalui kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik.

Baca Juga:

Mendorong Bank Sampah Sebagai Entitas Bisnis Skala BUMDes di Flores Timur

Karena itu kita butuh semua institusi untuk benar-benar terlibat secara langsung, memastikan setiap penduduk Larantuka memahami dan bersedia terlibat secara langsung dalam pengelolaan sampah.

Sekolah, Komunitas keagamaan, Pemerintah dari Kabupaten hingga ke RT, kelompok masyarakat, partai politik, organisasi kemasyarakatan harus benar benar berkolaborasi dalam sinergi untuk memperlakukan sampah di kota Larantuka secara tepat.

Kita membutuhkan edukasi di semua jenjang sekolah, dari TK hingga Perguruan Tinggi, Kampus dilibatkan sebagai pendamping; atas nama Pengabdian Kepada Masyarakat, Bank Milik Pemerintah dilibatkan dalam rangka CSR mereka.

Baca Juga:

Dari Keluhan Menjadi Harapan: Membawa Filosofi Pelayanan Tzu Chi Untuk Menjawab Harapan pelayanan Kesehatan di Flores Timur

Dengan cara ini, masyarakat tidak lagi memandang sampah sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat lingkungan.

Tidak hanya hasil dari pengolahan sampah, selama proses pengolahan pun, sampah dapat menyediakan begitu banyak lapangan pekerjaan.

Pengoperasian TPST, biodigester, unit RDF, dan kegiatan daur ulang akan menciptakan lapangan kerja baru bagi operator, teknisi, tenaga pemilah, pengumpul material daur ulang, hingga pelaku usaha yang memanfaatkan pupuk organik.

Pada saat yang sama pemerintah daerah dapat memanen PAD dari penjualan listrik, RDF, pupuk organik, serta material hasil daur ulang. Tidak hanya itu, terjadi penghematan dalam jangka panjang, ketika biaya pengangkutan dan pengelolaan sampah menuju TPA juga dapat berkurang secara signifikan.

Baca Juga:

ADONARA: “Tanah Leluhur, Pulau Pembunuh dan Kematian yang Salah Alamat”

Dampaknya belum berhenti.  Keberhasilan pengelolaan sampah akan memberikan manfaat sosial dan lingkungan yang berkelanjutan. Kota yang bersih akan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Genangan air akibat saluran drainase yang tersumbat sampah, menjaga kebersihan pesisir dan laut serta memperkuat citra Larantuka sebagai kota wisata religi dan budaya yang nyaman dikunjungi, ketika kita sudah selesai dengan sampah

Upaya ini juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam mewujudkan kota yang tangguh, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, aksi terhadap perubahan iklim, serta perlindungan ekosistem daratan dan laut.

Pada akhirnya, pengolahan sampah bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan kota. 

Dengan membangun sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis biodigester, RDF, daur ulang, dan partisipasi aktif masyarakat, Larantuka dapat mengubah tantangan sampah menjadi peluang pembangunan.

Baca Juga:

Dari Tawuran Ke Nayu Baya: Mengembalikan Jalan Damai Generasi Muda

Outcome yang paling penting bukan hanya listrik yang dihasilkan atau berkurangnya volume sampah, tetapi tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.

Kesadaran inilah yang akan menjadi pondasi utama bagi terwujudnya Larantuka sebagai kota yang bersih, sehat, mandiri energi, berdaya saing, dan berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Foto Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of