Eposdigi.com – Sampah masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Dampak pencemarannya terhadap lingkungan baik, tanah, udara maupun air sangat mengkhawatirkan. Pada saat yang sama, biaya untuk menangani sampah juga sangat tinggi.
Dari berbagai jenis sampah, sampah plastik ditengarai menjadi pencemar terbesar untuk lingkungan, karena sifatnya yang tidak mudah terurai. Saking banyaknya plastik yang dibuang, mengakibatkan sampah plastik terutama mikro plastik atau sampah dengan ukuran kurang dari 5 milimeter kini ditemukan di air, di udara, di awan, termasuk di dalam tubuh manusia dan juga hewan.
Di seluruh dunia, lebih dari 250 juta ton sampah plastik yang dibuang oleh manusia. Dan Indonesia adalah negara dengan jumlah sampah plastik peringkat 3 besar di dunia.
Baca Juga:
Data dari cnbcindonesia.com, menyebutkan bahwa Indonesia membuang 3,4 jut ton pertahun, semnetara China yang jumlah penduduknya lebih dari 1 miliar, hanya menduduki peringkat 4 dengan total sampah plastik yang dibuang mencapai 2,8 juta.
Ini berarti bahwa berkali kali lipat menghasilkan sampah plastik dari setiap kegiatannya di bandingkan dengan China.
Seriusnya persoalan sampah ini membuat pemerintah kini berupaya serius untuk menangani sampah dengan baik. Salah satunya adalah dengan mengolah sampah menjadi pembangkit tenaga listrik dan ataupun bahan bakar minyak (BBM).
Kini pemerintah tengah menggodok Peraturan Presiden (PP) yang baru untuk mengolah sampah secara lebih ramah lingkungan.
Alternatifnya adalah menjadikan sampah sebagai pembangkit listrik, atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Targetnya adalah di tahun 2029 nanti 30 kota besar di Indonesia sudah bisa memproduksi listrik dari sampah yang dibuangnya.
Baca Juga:
Sampah baik plastic maupun sampah-sampah organik akan diolah dengan target dapat menghasilkan listrik hingga 20 megawatt.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung kepada detik.com (12/03/2025) mengungkapkan bahwa pemeritah menargetkan 30 kota besar menjadi prioritas kebijakan ini untuk mengurangi dampak dari pencemaran karena berbagai aktivitas manusia.
Melalui teknologi pirolisis, ungkap Yuliot, sapah plastic akan diolah menjadi BBM, sementara sampah organik akan menghasilkan biogas atau biomassa.
Langkah pemerintah ini tentu harus didukung oleh seluruh warga negara. Tidak hanya di 30 kota besar yang menjadi target, namun harus mampu menyentuh seluruh masyarakat.
Semua orang sudah lama paham mengenai perlakuan terhadap sampah. Reduce (mengurangi sampah), Reuse (memakai kembali), Recycle (Mendaur Ulang) dan Replace (menggantikan), namun hingga kini sampah masih menjadi persoalan.
Baca Juga:
Karena itu, maka harus ada alternatif-alternatif baru mengolah sampah. Karena itu bukan soal sampah akan diolah menjadi apa, menurut kami yang paling penting adalah bagaimana membangun kesadaran bersama untuk menekan angka produksi sampah oleh setiap orang Indonesia.
Karena setiap sampah yang kita buang, akan mempengaruhi tanah dan air serta udara di sekitar kita. Maka pilihannya adalah mulai dari diri sendiri dan mulai sekarang juga, memperlakukan sampah secara lebih bermartabat.
Semua instrumen yang bisa mendorong upaya ini harus menjadi prioritas. Lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, kantor administrasi pelayanan kependudukan dan segenap warga masyarakat harus berani mengambil sikap untuk memperlakukan sampah secara baik dan benar.
Dimulai dari setiap pribadi kita, kemudian menjadi gerakan bersama, maka persoalan sampah bisa terurai bersama dengan sampah-sampah yang terurai secara alamiah.
Leave a Reply