Eposdigi.com – Kabar mengenai green house di Flores Timur sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sebelum di Larantuka, pola pertanian hidroponik sudah berhasil dikembangkan di Flores Timur. Kita bisa mengambil dua titik sebagai contoh. Satu di Adonara. Lainnya di Solor.
Tentang hidroponik di Flores Timur terutama di Desa Wailebe di Adonara yang sudah dimulai sejak tahun lalu, saya mendengar banyak cerita dari Ello Lamanepa. Di Wailebe sudah berhasil panen beberapa kali. Semoga saja, masih bertahan dan bahkan berkembang hingga saat ini.
Dari Adonara kita ke Desa Tanah Werang di Pulau Solor. Dari Ello Lamanepa, saya juga mendapat banyak cerita sukses mengenai inisiatif desa mengupayakan model pertanian hidroponik di desa tersebut.
Baca Juga:
Ketahanan Pangan, Krisis Iklim, dan Kebijaksanaan Peran Negara
Inisiatif atas nama ketahanan pangan desa ini patut diapresiasi. Terutama kepada mereka semua yang memiliki inisiatif, membantu petani dalam urusan teknis dan tentu saja masyarakat desa yang berangkat dari semangat kebaruan, mampu mengusahakan, mengelola dan mempertahankan model pertanian hidroponik ini hingga memiliki kisa suksesnya sendiri.
Kabar mengenai 17 titik green house untuk pertanian hidroponik di Kecamatan Larantuka tentu kabar baik yang juga sepatutnya di apresiasi.
Dalam pencarian daring untuk tulisan ini, kami mengutip berita yang dilansir laman diskominfo.florestimurkab.go.id yang mengungkapkan bahwa 17 unit green house modern yang dibangun di Kecamatan Larantuka dirancang sebagai bagian dari transformasi pertanian dengan sentuhan teknologi.
Salah satu pasar yang disasar dari program ini adalah dukungan program ini pada Program Nasional Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga:
Ekonomi Neoliberal dan Lumpuhnya “System Saraf” Ketahanan dan Kedaulatan Pangan
Lebih menarik bagi saya adalah bahwa program ini dikatakan sebagai daya dorong utama (Big Push) bidang pertanian yang menyasar kelompok petani milenial. Tujuannya tentu mulia. Flores Timur ingin menggeser cara pandang warga milenial untuk melihat pertanian bukan sebagai pekerjaan kasar.
Flores Timur berharap agar melalui green house ini, warga milenial di Nagi mulai melihat bertani sebagai profesi modern dengan sentuhan teknologi tinggi, sekaligus menjanjikan secara ekonomis.
Program yang secara fisik direncanakan mulai pada minggu kedua Juli bulan depan ini nantinya memiliki bangunan berukuran 10 x 12 meter, dengan rangka baja ringan, dilapisi dinding insect net dengan atap plastic UV.
Untuk efisiensi lahan dan air, green house ini nantinya dibuat dengan sistem irigasi hidroponik yang direncanakan dengan sirkulasi air bernutrisi yang terhubung langsung dengan pipa PDAM terdekat.
Baca Juga:
Membangun Kedaulatan Pangan: Tak Ada Kedaulatan Pangan Tanpa Kedaulatan Petani
Dalam jangka Panjang, Flores Timur berharap agar aset produktif daerah ini dapat berkontribusi langsung terhadap penguatan dan ketahanan pangan daerah di Flores Timur.
Sebagai inisiatif yang datang dari niat baik Pemerintah Flores Timur, green house di Kecamatan Larantuka patut diapresiasi. Namun green house tidak boleh dilihat hanya sebagai ‘proyek’ membangun green house.
Cara-cara lompatan jauh dalam bidang pertanian harus mendapatkan green house sebagai titik picu, Langkah awal, pintu masuk untuk tujuan lain yang lebih besar. Besar dalam skala. Besar juga dalam dampak.
Output Green house sebanyak 17 titik di Larantuka nantinya berupa sayuran hidroponik yang nantinya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan MBG, tentu baik adanya.
Baca Juga:
Namun yang harus disadari penuh bahwa melalui green house ada banyak dampak baik lain yang harus diusahakan melalui perencanaan yang matang, melibatkan banyak pihak, dan sekaligus ditangani oleh tenaga-tenaga terlatih, SDM yang berkualitas dan siap untuk itu.
Green House harus bisa keluar dari bangunan berdimensi 10 x 12 meter beratap plastic UV itu. Green house harus bisa mendorong cara hidup “green” yang baru, mulai dari Kecamatan Larantuka hingga menyebar dan memberi dampak lebih luas ke masyarakat Flores Timur lainnya.
Cara hidup “green” yang kami maksud adalah bahwa melalui green house masyarakat Flores Timur diajak untuk menjalani cara hidup baru yang lebih ramah lingkungan.
Cara hidup green tidak boleh hanya berhenti di pertanian hidroponik. Leverl berikutnya adalah integrasi pertanian baik itu hidroponik maupun sawah atau ladang dengan usaha produktif lain, misalnya budidaya ikan air tawar, integrasi pertanian dengan peternakan dan lainnya.
Baca Juga:
Sampah di kota Larantuka masih menjadi masalah jika tidak tertangani dengan baik. Karena itu cara hidup green harus bisa mendorong warga Larantuka untuk memperlakukan sampah dengan cara lain. Mengolah sampah organic rumah tangga menjadi berbagai produk bernilai ekonomis, begitu juga dengan sampah anorganik.
Memilih untuk mengelola sampah sendiri mulai dari rumah, tentu hanya muncul dari masyarakat yang benar-benar memahami dan memilih untuk menghidupi cara hidup baru, yang lebih ramah lingkungan, lebih “green”.
Karena itu, green house tidak hanya sebagai upaya untuk mengubah paradigma warga milenian Flores Timur tentang pertanian, tapi juga harus mampu mengubah pola piker semua warga Flores Timur tentang lingkungan hidup yang sehat dan berdampak ekonomis.
Pintu green house harus terbuka agar pekarangan-pekarangan rumah, Lorong-lorong, gang-gang di pemukiman warga mendapat tempat untuk ditanami berbagai sayuran, bumbu dapur dan juga menjadi apotik hidup.
Baca Juga:
Mendorong Bank Sampah Sebagai Entitas Bisnis Skala BUMDes di Flores Timur
Green house di Larantuka harus menjadi batu pijak agar Lompatan Jauh Flores Timur, dapat menyentuh dan berdampak baik bagi banyak orang, mulai dari petani milenial, hingga ke segenap masyarakat Flores Timur.
Saya membayangkan bahwa pada saat liburan Nataru tahun ini, warga diaspora Flores Timur yang Bale Nagi, tidak hanya menemukan green house di Larantuka, tapi menjumpai wajah Kota Renya yang hijau.
Jalan dan Lingkungan Kota bebas sampah, gang-gang dan lorong pemukiman dan pekarangan warga penuh dengan tanaman hijau yang didominasi sayuran, bumbu dapur dan apotik hijau.
Tidak hanya di Larantuka, dari Boru hingga Ujung Tanjung Bunga, dari Waiwerang hingga Waiwuring, dari Tanah Merah hingga Deri dan di Seluruh Tanah Solor kita menemukan banyak cara-cara baru bertani, yang dimotori oleh para warga milenial.
Baca Juga:
Cara hidup baru yang lebih green, yang melibatkan lebih banyak orang, terintegrasi dalam banyak bidang kehidupan, yang berdampak baik bagi lingkungan hidup,: kesehatan, pariwisata, juga ekonomi warga secara langsung. Jika Mau, Flores Timur pasti bisa.
Foto Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI
Leave a Reply