SMP Tarakanita 4 Bersinergi dengan Himeji International School Untuk Membangun Generasi Global Berkarakter

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Sabtu, 25 Juli 2026, menjadi momen yang berharga bagi SMP Tarakanita 4. Dalam rangka Sosialisasi Program Sekolah Tahun Ajaran 2026/2027, sekolah menerima kunjungan delegasi dari Himeji International School (HIS), Jepang. Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah ini dihadiri oleh orang tua peserta didik kelas VIII, guru, dan tenaga kependidikan 

Delegasi yang hadir terdiri atas Mr. Masahiko Suruga selaku Principal of Himeji International School, Mrs. Suruga selaku Principal of Okamoto Kobe Kindergarten, Ms. Lisa Suruga selaku Executive Director of Himeji International School, dan Ms. Madeline Naomi Miura selaku Global Collaboration Director of Himeji International School. 

Turut hadir mendampingi, Bapak Aurelius Arya Saputra selaku Ketua Hubungan Internasional Yayasan Tarakanita dan Bapak Bernadus Yudo Ismedi dari Yayasan Tarakanita sebagai bentuk dukungan yayasan terhadap penguatan jejaring dan kolaborasi pendidikan internasional.  

Baca Juga:

Digitalisasi Pendidikan dan Kecerdasan Buatan: Membangun Generasi yang Bertumbuh Di Era Digital

Kehadiran para tamu dari Jepang dan Yayasan Tarakanita menjadi simbol terjalinnya kolaborasi yang semakin erat antara SMP Tarakanita 4 sebagai Offshore School dan Himeji International School dalam menghadirkan pendidikan yang berkarakter, unggul, dan berwawasan global. 

Kegiatan diawali dengan doa pembuka dan sambutan Kepala SMP Tarakanita 4, Bapak Bernadus Boli Wuwur, yang memperkenalkan visi dan misi sekolah. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya membangun fondasi yang baik bagi putra-putri peserta didik. 

Menurutnya, pendidikan bukan hanya tentang keberhasilan akademik, tetapi juga tentang membentuk karakter yang akan menjadi bekal anak-anak dalam menjalani kehidupan. 

“Setiap anak memiliki potensi yang perlu didampingi dan diarahkan. Tugas kita Bersama sekolah dan orang tua adalah menyiapkan mereka menjadi pribadi yang berintegritas, peduli, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” pesan Pak Bernadus Boli Wuwur.

Baca Juga:

Sri Sultan Hamengkubuwono X Akan Luncurkan Model Pendidikan Karakter Khas Kejogjaan

Selanjutnya, Bapak Tohom Victory Simamura selaku wakil bidang kurikulum memaparkan kurikulum nasional yang diterapkan di SMP Tarakanita 4, mulai dari mata pelajaran dan jumlah jam pembelajaran, kriteria kenaikan kelas, hingga pengembangan program Offshore School yang menjadi salah satu keunggulan sekolah. 

Program ini membuka kesempatan bagi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar internasional dan memperluas wawasan mereka terhadap dunia global. Sementara itu, Bapak Yunatan Aribawa dari bidang kesiswaan menjelaskan berbagai program pendampingan peserta didik, seperti kegiatan live in, kokurikuler, seminar, ekstrakurikuler, hingga pemberian sertifikat bagi pengurus ekstrakurikuler. 

Selain itu, beliau juga menegaskan kebijakan sekolah terkait penggunaan telepon genggam serta pentingnya pengawasan dalam setiap aktivitas peserta didik, termasuk larangan bermain bola setelah jam sekolah tanpa pendampingan guru. 

Pada kesempatan yang sama, Bapak Andriyas Joko Sulistio dari bidang Sarana dan Prasarana serta Humas memaparkan berbagai upaya sekolah dalam mendukung program pendidikan.

Baca Juga:

Peran Keteladanan Orang Tua dan Guru dalam Keberhasilan Pendidikan Karakter Anak

Program unggulan itu antara lain mulai dari menjaga kebersihan lingkungan sekolah, kampanye bebas plastik dan styrofoam, hingga perubahan alur lalu lintas dan area parkir demi kenyamanan serta keamanan seluruh warga sekolah. 

Beliau juga menyampaikan informasi mengenai pembukaan SPMB yang akan dimulai pada 31 Juli 2026. Puncak kegiatan berlangsung ketika Bapak Aurelius Arya Saputra memperkenalkan kerja sama antara Yayasan Tarakanita dan Himeji International School yang telah terjalin sejak tahun 2013. 

Beliau menjelaskan bahwa SMP Tarakanita 4 kini menjadi bagian dari Offshore School Himeji, yang membuka peluang lebih luas bagi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar internasional. 

Program kerja sama ini menawarkan tiga skema pembiayaan, yaitu beasiswa penuh dari Himeji International School, pembiayaan bersama antara Himeji dan orang tua dengan komposisi 50:50, serta pembiayaan penuh oleh orang tua. 

Kehadiran program ini menjadi salah satu bentuk komitmen bersama dalam menghadirkan akses pendidikan global bagi peserta didik Tarakanita. 

Baca Juga:

Siswa SMP Tarakanita Citra Raya Hidupkan Semangat Nusantara Lewat Tari, Busana, dan Cita Rasa

Dalam paparannya, Mr. Masahiko Suruga memperkenalkan konsep KYOYOU (教養), sebuah filosofi pendidikan Jepang yang menempatkan karakter, budaya, dan wawasan global sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. 

Bagi masyarakat Jepang, KYOYOU tidak hanya dimaknai sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai proses membentuk manusia yang utuh memiliki integritas, kepekaan sosial, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan untuk hidup berdampingan dalam masyarakat yang beragam. 

Filosofi ini dipadukan dengan pendekatan Liberal Arts, penguasaan bahasa Inggris dan Jepang, pendidikan karir, serta pendampingan menuju perguruan tinggi, termasuk peluang melanjutkan studi ke berbagai universitas di Jepang, seperti Kobe University. 

Baca Juga:

Yayasan Tarakanita Lahat Perkuat Komitmen Sekolah Ramah Anak Melalui Sosialisasi Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan

Ms. Lisa Suruga turut membagikan perkembangan Himeji International School dari awal berdiri hingga saat ini. Ia juga memperkenalkan Fujian Room sebagai laboratorium pembelajaran kolaboratif antara Himeji International School dan Tarakanita. 

Dalam paparannya, ia menyoroti berbagai nilai yang ditanamkan kepada peserta didik di Jepang, terutama kepada para siswi, yaitu kemampuan berpikir kritis, mandiri, pantang menyerah, dan mampu menyelesaikan masalah. 

Paparan tersebut memberikan perspektif baru bagi para orang tua mengenai pentingnya pendidikan yang bersifat holistik. Pendidikan di abad ke-21 tidak lagi hanya berbicara tentang nilai akademik, tetapi juga tentang kemampuan beradaptasi, berkomunikasi lintas budaya, dan memiliki karakter yang kuat. 

Namun, di tengah berbagai perkembangan pendidikan saat ini, masih terdapat pandangan yang mengukur keberhasilan peserta didik sebatas angka-angka di rapor. Pertanyaan seperti, “Berapa nilai matematikanya?” atau “Masuk universitas mana nanti?” sering kali menjadi tolok ukur utama keberhasilan seorang anak. 

Padahal, dunia masa depan membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Kita hidup pada zaman ketika peserta didik mampu mengakses informasi dalam hitungan detik, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan dalam menggunakannya. 

Baca Juga:

Menumbuhkan Budaya Riset Sejak Dini: SMP Tarakanita 1 Gandeng Universita Atma Jaya adakan Seminar Pendidikan

Mereka dapat berbicara dalam berbagai bahasa, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk mendengarkan, memahami, dan menghargai orang lain. Oleh karena itu, pendidikan perlu kembali pada hakikatnya yakni, membentuk manusia. 

Mr. Suruga menegaskan bahwa salah satu jawaban atas tantangan zaman yang semakin terdigitalisasi adalah penerapan konsep KYOYOU. Filosofi ini menjadi relevan karena tidak hanya berfokus pada peningkatan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kebijaksanaan, dan kemampuan hidup bersama dalam masyarakat yang beragam. 

Pendidikan, pada akhirnya, tidak hanya mempersiapkan peserta didik untuk lulus ujian, tetapi juga untuk menjalani kehidupan. Sekolah perlu menjadi ruang yang menumbuhkan empati, tanggung jawab, kreativitas, dan semangat belajar sepanjang hayat. 

Nilai-nilai tersebut selaras dengan semangat Tarakanita yang menghidupi nilai-nilai Cc+, yaitu Compassion, Celebration, Competence, Conviction, Creativity, Community, serta KPKC (Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan), kedisiplinan, dan kejujuran. 

Baca Juga:

SMA Tarakanita 2 Jakarta Kampanyekan Cinta Lingkungan Hidup

Ketika pendidikan karakter dipadukan dengan wawasan global, peserta didik tidak hanya siap menghadapi tantangan masa depan, tetapi juga siap menjadi pribadi yang mampu membawa perubahan bagi lingkungan di sekitarnya. 

Antusiasme orang tua terlihat dalam sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah mengenai kesempatan bagi peserta didik laki-laki untuk mengikuti program Himeji. 

Menanggapi hal tersebut, pihak Himeji menjelaskan bahwa kerja sama awal dengan Indonesia dilakukan melalui sekolah-sekolah putri di lingkungan Tarakanita dan saat ini masih dalam proses pembahasan dengan pemerintah Jepang terkait perizinan untuk peserta didik laki-laki. 

Pertanyaan lain yang menarik perhatian adalah alasan Himeji International School memilih bekerja sama dengan sekolah-sekolah Katolik di Jakarta. Mr. Suruga menjelaskan bahwa pihaknya memiliki ketertarikan terhadap spiritualitas Katolik yang menekankan pendidikan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan yang sejalan dengan filosofi KYOYOU. 

Baca Juga:

Resensi Buku; Belajar dari Best Practice Proyek P5 SMA Tarakanita Magelang

Sesi tanya jawab juga diperkaya oleh kesaksian Mbak Prima, dari Stella Duce yang telah menjalani pengalaman belajar selama satu tahun di Jepang. Pengalamannya memberikan gambaran nyata kepada para orang tua mengenai kehidupan belajar di Jepang dan manfaat yang diperoleh dari pendidikan lintas budaya. 

Kegiatan ditutup dengan suasana hangat dan penuh optimisme. Setelah seluruh rangkaian acara selesai, delegasi Himeji International School kembali ke Ruang Kesenian sebelum melanjutkan perjalanan menuju bandara. 

Pada akhirnya, kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial atau pertukaran informasi antar lembaga pendidikan. Lebih dari itu, pertemuan ini menjadi ajakan untuk merefleksikan kembali makna pendidikan yang sesungguhnya. 

Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar, tetapi juga manusia yang memiliki hati, integritas, dan kepedulian terhadap sesama. 

Karena pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukanlah tentang seberapa tinggi seseorang melangkah, melainkan tentang seberapa banyak kebaikan yang ia bawa dalam setiap langkahnya.

Penulis adalah Guru di SMP Tarakanita 4 / Gambar ilustrasi dibuat dengan bantuan AI

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of