Langkah Ketiga Mengukur SROI “Mengenal Struktur Masalah dan Memastikan Outcome Program

Bisnis
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Secara teoretis, pengukuran SROI fokus pada outcome program, bukan output kegiatan, juga bukan impact program. Namun dalam pelaksanaan pengukuran SROI kita perlu melihat beberapa data penting dari output kegiatan dan informasi tentang impact program.

Mengukur SROI ibarat melakukan assessment post-factum: kita berada pada wilayah antara outcome dan impact. Karena bersifat post-factum maka seharusnya kita sudah memiliki pengetahuan dengan struktur yang lebih utuh tentang semua yang sudah dilakukan dalam suatu program.

Pengetahuan yang dimaksud menyangkut pertanyaan: (a) masalah apa yang hendak dijawab melalui inisiatif intervensi program;

(b) apa yang kita pahami tentang struktur masalah tersebut: apa masalah utama (focal problem) dan apa saja yang menjadi akar masalah yang menjadi kontributor timbul dan bertahannya masalah utama;

Baca Juga:

Apa dan Bagaimana Menghitung SROI?

(c) apakah semua rencana kegiatan yang sudah dijalankan benar fokus pada tindakan mencabut akar masalah; (d) perubahan apa yang terjadi setelah semua akar masalah dicabut.

Pengetahuan tentang masalah dan akar masalah sebagai sebuah pengetahuan terstruktur ibarat dokter melakukan diagnosis atas suatu penyakit atau psikolog atas suatu masalah kesehatan mental.

Pengetahuan kedokteran membantu pembuat diagnosis memastikan bahwa berdasarkan gejala (symptom) yang dianalisis, disimpulkan bahwa seorang pasien menderita sakit x yang disebabkan oleh virus y.

Oleh karena itu pemberian obat antibiotik dengan dosis berapa pun bukanlah solusi yang tepat untuk jenis penyakit yang ditimbulkan oleh virus (antibiotik untuk penyakit karena bakteri).

Baca Juga:

Pemberdayaan Ekonomi Dari Tradisi Bailake

Sayangnya dalam banyak kasus orang tidak bisa membedakan jenis kemiskinan sehingga terhadap semua kasus kemiskinan diberi resep obat yang sama: BLT.

Dengan menggunakan teknik analisis pohon masalah (problem tree analysis) dan/atau pohon peluang (opportunity tree analysis) kita dapat menemukan hubungan kausal antara output (hasil kegiatan) dan outcome (hasil perubahan program).

Output berkaitan dengan tujuan kegiatan, dilakukan untuk mencabut berbagai faktor yang menjadi akar masalah. Outcome adalah kondisi perubahan (sebagai tujuan program) yang diharapkan terwujud setelah semua akar masalah dicabut melalui berbagai kegiatan.

Setiap masalah memiliki struktur pengetahuan tersendiri. Demikian misalnya, jika masalah utama (focal problem) kehidupan nelayan adalah kemiskinan.

Baca Juga:

Klemens Kwaman: “Bagaimana Jika Nanti Dana Desa Berhenti?”

Maka perlu diperjelas jenis kemiskinan apa yang sedang dialami para nelayan di sana: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, kemiskinan struktural, kemiskinan kultural, kemiskinan situasional, kemiskinan kronis, atau kombinasi dari beberapa jenis kemiskinan yang disebut di atas.

Jika jenis kemiskinan yang dialami para nelayan itu adalah kemiskinan struktural, misalnya, maka secara teori kita perlu memiliki pengetahuan tentang apa itu kemiskinan struktural, apa saja indikator atau ciri-ciri sebuah kemiskinan struktural yang bisa diidentifikasi, faktor apa saja yang membentuk dan melestarikan kemiskinan struktural, dan seterusnya.

Langkah berikutnya adalah memeriksa struktur sosial ekonomi di pantai utara pulau Adonara yang membuat para nelayan itu tetap miskin walau mereka sudah bekerja sangat keras selama bertahun-tahun.

Secara sederhana, kemiskinan struktural disebabkan oleh struktur sosial ekonomi yang tidak adil, penguasaan modal dan jaringan pasar hanya oleh segelintir orang, masyarakat terperangkap dan tergantung nyaris mutlak pada struktur dan sistem sosial ekonomi yang tidak adil itu tetapi tidak memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan.

Baca Juga:

Pekka Lodan Doe; “Berjalan sambil Merintis Jalan”

Indikator-indikator kemiskinan struktural teoretis perlu dijabarkan secara lebih operasional (karena itu bisa diukur) pada tingkat kehidupan nelayan pantai utara pulau Adonara, misalnya:

(a) berapa banyak juragan atau tengkulak yang beroperasi di sana dan menguasai struktur sosial ekonomi masyarakat di kampung-kampung nelayan tersebut, (b) siapa pemilik perahu dan alat tangkap,

(c) bagaimana sistem sewa perahu, alat tangkap dan bahan bakar, (d) siapa yang memonopoli pembelian hasil tangkapan, (d) praktek rentenir dan ijon hasil tangkapan,

(e) akumulasi utang nelayan kepada tengkulak dan sistem pembayaran utang, (f) bagaimana hubungan sosial antara juragan/tengkulak dengan para nelayan, dan seterusnya.

Baca Juga:

Perempuan, Bambu dan Konservasi Lahan Kritis

Suatu hasil asesmen yang baik, kemungkinan akan menemukan narasi akar kemiskinan sebagai berikut: nelayan di pantai utara pulau Adonara tetap miskin karena (a) sistem sosial ekonomi mereka dikuasai jejaring tengkulak;

(b) mereka tidak memiliki perahu dan alat tangkap sendiri dan harus menyewa dari tengkulak/juragan pemilik perahu; (c) mereka tidak bebas menjual hasil tangkapan ke pasar (harus setor ke tengkulak);

(d) sebagian hasil tangkapan mereka digunakan untuk melunasi pinjaman biaya operasional dan kebutuhan hidup sehari-hari; (e) mereka dililit hutang pada tengkulak; (f) dst.

Pengetahuan tentang anatomi kemiskinan nelayan pantai utara pulau Adonara di atas sangat membantu dalam merumuskan langkah intervensi yang ‚tepat masalah‘ dan ‚tepat sasaran‘ untuk membebaskan para nelayan dari jerat tengkulak yang menguasai struktur ekonomi eksploitatif yang tidak berpihak kepada kaum nelayan miskin.

Baca Juga:

Change Theory dan Rapuhnya Theoretical Argumentation

Kembali ke contoh kasus. Jika tujuan program pemberdayaan nelayan di pantai utara pulau Adonara adalah membebaskan para nelayan dari jerat kekuasaan tengkulak (outcome) maka kita perlu menetapkan indikator yang tangible, yang bisa dilihat dan diukur – indikator yang menunjukkan bahwa mereka benar sudah bebas, lepas dari belenggu kekuasaan tengkulak dan jejaring para tengkulak di kawasan itu, misalnya sudah

– memiliki alat tangkap sendiri (perahu, jaring, dll)

– memiliki organisasi nelayan (bisa berupa koperasi)

– bisa menjual sendiri hasil tangkapan ke pasar induk dan/atau pasar rakyat dengan harga yang lebih baik dan tidak lagi tergantung pada pengepul;

– mampu mengolah berbagai produk turunan dari hasil tangkapan ikan

– ada peningkatan signifikan pendapatan nelayan.

Baca Juga:

Apakah Bansos Jadi Solusi Untuk Mengentaskan Kemiskinan?

Sangat dianjurkan agar kita memiliki data base “before-after” untuk semua variabel dan indikator perubahan pada masyarakat nelayan tersebut. Seperti apa kondisi mereka sebelum diberdayakan dan seberapa besar loncatan perubahan yang dicapai setelah adanya program pemberdayaan.

Bagaimana kalau kita tidak punya data awal, alias data sebelum mereka diberdayakan?

Lakukan komparasi antara dua desa dengan kondisi awal yang relatif sama. Bandingkan perubahan antara desa yang ikut dan tidak ikut dalam program pemberdayaan.

Siapa tahu, tidak ada perbedaan perubahan yang berarti antara desa yang diberdayakan dan desa yang tidak diberdayakan alias desa yang berjuang dengan usaha sendiri. Bersambung…

Foto ilustrasi dari cesgs.unair.ac.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of