Eposdigi.com – Materi tentang SROI ini merupakan rangkuman padat dari diskusi terbatas kelompok pemerhati nelayan dan petani pangan lokal. Mengingat syarat tingkat keterbacaan sebuah artikel serius pada media sosial, tulisan ini dibagi menjadi dua (atau tiga) bagian:
Bagian pertama berupa pengantar (yang disederhanakan), bagian selanjutnya berupa contoh perhitungan SROI (yang juga disederhanakan).
Case: Seorang pengusaha menghibahkan sejumlah dana sosial untuk pengembangan dan pemberdayaan nelayan di pantai utara pulau Adonara. Setelah lima tahun pengusaha itu ingin mengetahui seberapa besar perubahan kehidupan sosial para para nelayan yang mendapat hibah dana bantuan melalui program pemberdayaan nelayan.
Para pengusaha menghitung besaran keuntungan yang diperoleh dari setiap dana yang diinvestasikan, akumulasi modal secara kumulatif, dan lain-lain sebagai cara mengukur kinerja perusahaan.
Baca Juga:
Demikian pula lembaga pemerintah dan non-pemerintah serta korporasi ingin mengetahui: (a) apakah dana bantuan sosial yang dikucurkan selama lima tahun sudah menghasilkan perubahan yang bermakna bagi kehidupan sosial para nelayan yang menjadi sasaran program;
(b) apakah tingkat perubahan yang terukur tersebut sebanding dengan nilai investasi yang sudah ditanam?
Perhitungan yang digambarkan di atas disebut SROI (Social Return on Investment). Kalau dalam dagang pengusaha berbicara tentang “balik modal” alias capital return, maka SROI berbicara tentang ‘balik modal sosial’ dalam bentuk “nilai perubahan sosial bagi masyarakat yang dihasilkan dari suatu investasi”.
Penghitungan SROI hanya mungkin dilakukan jika (a) suatu program yang dibiayai dari dana sosial korporasi, misalnya, memiliki rumusan tujuan (outcome) yang jelas; (b) jenis kegiatan yang dijalankan dan hasil dari setiap kegiatan (output) harus konsisten dengan tujuan program.
Baca Juga:
Mengenal Lebih Dekat Program Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA)
Jika suatu kegiatan evaluasi dilakukan untuk mengukur pencapaian outcome program, maka kegiatan monitoring dilakukan untuk mengawal proses implementasi program dalam berbagai kegiatan praktis-teknis agar output yang dihasilkan konsisten mengarah pada pencapaian tujuan program (outcome).
Sampai pada titik ini banyak kegiatan dalam program pemberdayaan masyarakat harus dinyatakan tidak memenuhi syarat konsistensi: banyak kegiatan yang dilakukan sepanjang tahun tetapi tidak mengarah ke mana-mana.
Banyak output kegiatan yang dihasilkan tetapi tidak ada outcome program yang terwujud. Orang menulis tujuan program pada project proposal lebih sebagai formalitas untuk pengajuan permohonan dana bantuan.
Pengukuran SROI mengharuskan ada parameter perubahan sosial yang spesifik dan terukur!
Bagaimana mengukur SROI: Parameter Outcome
Baca Juga:
Setidaknya ada enam langkah dalam mengukur SROI:
- Menentukan ruang lingkup program/proyek yang hendak dievaluasi dan siapa saja stakeholders program/proyek tersebut.
- Memastikan tujuan program/proyek (project objectives) dan jenis perubahan social (social outcomes) yang hendak diukur.
- Menyusun indikator perubahan sosial (social outcomes).
- Mengumpulkan data atas setiap indikator
- Menentukan monetary value untuk setiap perubahan social (social outcomes) yang dicapai.
- Menghitungan SROI ratio.
Kita bahas satu per satu secara ringkas dan sederhana:
- Menentukan ruang lingkup proyek dan stakeholders.
Judul proyek, misalnya, “Pemberdayaan Nelayan Pantai Utara Pulau Adonara” itu memiliki pengertian dan konteks yang sangat luas. Perlu diperjelas (a) pemberdayaan dalam bidang/aspek apa saja;
Baca Juga:
(b) nelayan di berapa desa (dari semua desa yang ada di pantai utara pulau Adonara; (c) nelayan sebagai individu profesi, atau nelayan sebagai keluarga; dst.
Kejelasan tentang poin-poin di atas sangat penting untuk menghindari apa yang dinamakan over claim: klaim keberhasilan melampaui perubahan yang terjadi bukan karena program kita.
Contoh: jika program kita adalah pengadaan perahu nelayan (untuk bapak-bapak) dan pelatihan ibu-ibu mengolah hasil tangkapan menjadi produk turunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi (kerupuk, amplang, terasi, dll).
Maka peningkatan hasil tangkapan dari penggunaan keramba jaring terapung (lewat pelatihan yang difasilitasi oleh pihak ketiga sebelum kita masuk), misalnya, tidak dapat kita klaim sebagai keberhasilan program pemberdayaan kita – walau ada korelasi keberhasilan program jaring keramba terapung dengan program pengadaan perahu nelayan.
Baca Juga:
Misalnya program pengadaan perahu milik nelayan yang kita jalankan memudahkan nelayan dalam mencari dan menampung ikan yang ditangkap dalam keramba jaring terapung (program pihak ketiga) sebelum dilepas ke pasar.
Jadi di sana ada persoalan etika klaim keberhasilan.
- Memastikan outcome (dan impact) program yang hendak diukur (bersambung)
Catatan: tulisan ini tidak lagi pendek dan padat seperti rencana semula karena ada permintaan dari daerah agar jangan pelit berbagi pengetahuan. Mereka tidak memiliki sumber belajar untuk hal-hal seperti ini.
Foto ilustrasi dari filantra.org
Leave a Reply