Mencari Alternatif terbaik Untuk Konservasi Hutan Adat

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Konservasi hutan dan hutan adat memiliki persoalan dengan tingkat kompleksitas yang lebih ruwet. Di sana ada persoalan klaim kepemilikan secara adat, batas wilayah adat atau petuanan, sejarah kepemilikan dan legalitas hak adat, dan seterusnya.  Aspek ini tidak akan dibahas di sini karena bukan kompetensi keilmuan saya.

Saya hendak berbicara mengenai pedagogi lingkungan hidup dan berbagai alternatif taktik berbasis akal sehat hingga akal bulus untuk konservasi hutan dan hutan adat kita.

Persoalan terkait kelestaran hutan dan hutan adat sangat kompleks. Laju deforestasi berbanding lurus dengan kenaikan PAD dari sektor tambang, perkebunan, dll.

Baca Juga:

Urgensi Konservasi Sumber Air

Kementerian kehutananan dan lingkungan hidup di satu sisi berjuang keras menekan laju deforestasi dan meningkatkan upaya reboisasi, tetapi di sisi lain kementerian pertanian dan perkebunan gencar membuka lahan pertanian dan perkebunan secara masif, termasuk dengan konsep food estate. Belum lagi eskpansi tambang ekstraktif.

Kita belum pernah melihat dan menikmati manisnya buah food estate tetapi kita sudah akrab dengan banjir akibat merosotnya daya dukung ingkungan karena deforestasi untuk perkebunan, tambang dan food estate.

Pertanyaan: upaya kreatif-inovatif apa yang bisa dilakukan masyarakat secara bersama-sama untuk membendung laju deforestasi – termasuk mencegah illegal logging, alih fungsi tanah dan hutan adat yang tidak terkontrol dan tidak terkendali atas nama pembangunan.

Baca Juga:

Bambu dan Konservasi Berkelanjutan di Mata Air

Hal ini sangat penting agar anak cucu kita tidak mewarisi tanah gersang penuh lobang raksasa mirip kawah gunung api sisa bekas tambang yang gagal reklamasi, dan tentu agar sumber mata air warga tetap lestari dan memenuhi syarat kesehatan. Caranya:

Pertama: Bangun kesadaran bersama bahwa Kalimantan, Sumatra, Papua atau pulau apa saja bukanlah tanah dan hutan kosong tanpa pemlik dan penghuni.

Di sana ada kehidupan, ada kebudayaan, ada keadaban dan peradaban, ada nilai-nilai sosial-ekonomi dan lingkuan hidup yang harus dihormati dan dijaga

Kedua : Dekatkan dan satukan kembali masyarakat dengan alam lingkungan mereka, dengan tanah, dengan hutan dan air dan semua isi hutan. Hidupkan nilai-nilai religius lokal, sosiologis, atropologis, hubungan kosmologis manusia dengan alam ciptaan, dengan peran para leluhur yang diyakini menjadi penjaga desa, hutan, gunung, lembah dan sungai.

Baca Juga:

Air Sumber Kehidupan

Hidupkan berbagai ritual yang menjadi penanda kesatuan sakral antara manusia dan  alam (hutan, gunung, sungai, pohon) ciptaan Tuhan. Hanya dengan cara ini tanah, hutan dan batu yang biasa cuma dianggap sebagai komoditi pasar mulai mendapat perhatian dan penghargaan yang lebih layak untuk tatakelola yang lebih rasional, lebih ramah kehiduan, lebih hormat pada alam.

Ketiga: Jadikan hutan desa sebagai wahana wisata alam. Eropa berhasil dengan cara ini. Masyarakat perlu mengenal dan menghargai kembali keaneka-ragaman hayati yang mereka miliki dalam hutan di sekitar mereka.

Mereka perlu menandai pada titik mana ada pohon khas apa, ditandai dengan narasi jenis dan umur pohon. Di mana ada sungai, alur mengalir hingga hulu sungai, ada jenis ikan apa saja, ada spot memancing.

Masyarakat juga perlu mengidentifikasi jenis flora dan fauna, khususnya flora dan fauna endemik yang hanya ada di daerah itu.

Baca Juga:

Menanam Hujan, Menuai Air

Keempat: Organisasi acara wisata hutan secara berkala sebagai bentuk pendidikan pengenalan hutan, juga sebagai cara mengawasi kelestarian hutan oleh warga.

Semua orang akan menjadi pengawas hutan, membicarakan pohon apa saja yang bertambah dan pohon apa saja yang hilang, mengapa hilang, siapa yang ambil, mengapa diambil, dst.

Kelima: Identifikasi dan pengenalan kembali isi hutan adat berupa keaneka-ragaman hayati seperti disebut di atas akan menjadi kesadaran awal untuk menyelamatkan apa yang masih perlu dan bisa diselamatkan sebelum digusur-musnahkan oleh buldoser tambang, perkebunan atau food estate.

Semua orang akan merasa kehilangan asset kolektif jika hutan di titik x dibabat, sungai di titik y ditimbun, bukit berpemandangan indah di titik z diruntuhkan.

Baca Juga:

Ayo Bantu Pulihkan Bumi

Keenam: Buatlah program pembibitan dan gerakan penanaman kembali pohon di hutah adat secara bersama-sama dengan metode yang kreatif dan menyenangkan.

Tujuannya bukan sekadar ada sejumlah pohon yang ditanam tetapi terutama ada kesadaran mengenal dan memiliki hutan adat sebagai satu kawasan ekosistem milik bersama.

Upaya ini bisa dilakukan bersama sekolah, kelompok karang taruna, kelompok ibu-ibu PKK, dan oleh gabungan semua kekuatan dalam desa.

Ketujuh: Kembangkan narasi historis, religius dan magis tentang suatu spot dalam hutan. Misalnya di hutan ini dulu ada pertempuran Belanda melawan Jepang dan kapten Jepang bernama Sakukurata melakukan harakiri (karena bokek).

Baca Juga:

Bahaya Besar Menanti di balik Sumur Bor

Di tepi sungai ini dulu jadi tempat mandi evangelis dari Belanda, disebut Tapian Tuan, dan menjadi penanda awal kehadiran misi Gereja Protestan di kampung kami. Di gunung itu dulu jadi makam kiai X dan banyak dikunjungi peziarah, dan seterusnya.

Narasi-narasi seperti ini akan membawa masyarakat masuk kembali ke dalam kekayaan kultural yang menyatu dengan alam pikiran dan alam lingkungan dimana mereka sehari-hari bernafas, makan dan minum, bangun dan tidur, lahir, menjadi dewasa hingga mati.

Silahkan disambung sendiri …. Bersambung.

Foto dari greeners.co

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of