Di tengah dinamika dan goncangan yang sedang dialami Gereja Katolik Indonesia—secara khusus di Keuskupan Bogor—refleksi ini lahir sebagai ungkapan iman dan kepedulian.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menilai, mengadili, atau berpihak, melainkan untuk menyaksikan, mendoakan, dan merawat harapan akan kesatuan Gereja, melalui kacamata iman dan spiritualitas Fransiskan.
Eposdigi.com – Sebagai seorang biarawati, anak Gereja, dan pengikut Kristus, saya membaca kisah krisis ini dengan hati yang berat, namun juga dengan iman yang berjaga.
Berat, karena Gereja—yang saya cintai dan kepada-Nya saya menyerahkan hidup—tampak terluka dari dalam. Namun iman mengajar saya bahwa luka bukanlah akhir cerita, melainkan tempat Allah bekerja paling dalam.
Saya berdiri bukan di pinggir Gereja, bukan pula di salah satu kubu yang saling berhadapan, melainkan di tengah Tubuh Gereja itu sendiri. Gereja bukan sesuatu yang berada di luar diri saya.
Ia adalah rumah tempat saya dilahirkan kembali oleh iman, dan tubuh tempat saya sendiri menjadi anggotanya. Karena itu, ketika Gereja mengalami kegoncangan, saya tidak menonton dari jauh, tetapi merasakannya dari dalam—seperti seorang ibu yang mendengar denyut jantung anaknya dan berharap iramanya kembali tenang.
Baca Juga:
Paus Fransiskus Minta Maaf Atas Kekerasan Di Sekolah Katolik Pada Masa Lalu Di Kanada
Saya menulis bukan untuk membela siapa pun, dan juga bukan untuk menunjuk siapa yang paling bersalah. Saya menulis sebagai anak Gereja, sebagai seorang Fransiskan yang dibentuk untuk tinggal di tengah luka tanpa kehilangan harapan.
Spiritualitas Fransiskan mengajarkan untuk membiarkan doa dan keheningan berbicara lebih dahulu daripada penilaian, dan untuk percaya bahwa setiap krisis dalam Gereja adalah saat ber rahmat—undangan untuk berhenti, diam, mendengarkan, dan membiarkan Roh Kudus berbicara lebih dalam daripada kegaduhan manusia.
Kitab Suci mengingatkan bahwa krisis bukanlah hal asing dalam perjalanan umat Allah. Sejak Gereja perdana, konflik, perbedaan pandangan, dan bahkan penyalahgunaan kuasa sudah ada.
Pertanyaan ini menggema kuat ketika saya membaca begitu banyak tulisan yang sarat tuduhan dan narasi saling menjatuhkan. Saya mendengar begitu banyak suara, tetapi sedikit keheningan. Ketika Gereja
Baca Juga:
Menag Siapkan ‘Kurikulum Cinta’ Melalui Pelajaran Agama di Sekolah
menjadi terlalu gaduh oleh opini, gosip, dan penghakiman publik, saya bertanya dengan jujur: apakah kita masih memberi ruang bagi suara Allah yang lembut namun menuntun pada kebenaran?
Yesus sendiri memberi peringatan yang sangat jelas: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” (Mat 7:3).
Sabda ini bukan larangan untuk bersikap kritis, melainkan undangan untuk memurnikan motivasi hati. Kritik yang lahir dari luka yang tidak disembuhkan akan berubah menjadi senjata; kritik yang lahir dari kasih akan menjadi obat, meskipun pahit.
Krisis yang sedang dialami Gereja di Keuskupan Bogor mengajak setiap orang beriman untuk berhenti sejenak dan bertanya bukan pertama-tama tentang siapa yang paling benar atau paling salah, melainkan tentang di mana kita berdiri sebagai anggota Tubuh Kristus.
Baca Juga:
Hari Komunikasi Sosial Sedunia 2023: “Berbicara Dengan Hati”
Apakah kita berdiri sebagai penonton yang menilai dari jauh, sebagai hakim yang cepat menjatuhkan vonis, atau sebagai anggota tubuh yang ikut merasakan luka dan berharap akan kesembuhan.
Kitab Suci tidak pernah menyembunyikan kerapuhan umat Allah. Musa digugat bangsanya sendiri. Daud jatuh dalam dosa kuasa. Para rasul bertengkar tentang siapa yang terbesar.
Bahkan Petrus, batu karang Gereja, menyangkal Gurunya. Situasi ini menyingkapkan kenyataan bahwa gereja bukanlah realitas yang steril dari konflik dan kerapuhan manusia.
Maka krisis ini tidak boleh dilihat semata sebagai skandal atau kegagalan, dan bukan tanda ketiadaan Allah, melainkan ruang pemurnian iman. “Sebab Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya” (Ibr 12:6). Namun ajaran Ilahi selalu bertujuan menyembuhkan, bukan menghancurkan.
Baca Juga:
Mengenal Lebih Dekat Ordo Militer Malta: “Melampaui Sejarah demi Kemanusiaan”
Ketika saya membaca dan mendengar tuduhan-tuduhan serius tentang penyalahgunaan kuasa, manipulasi, dan keuangan, keprihatinan saya semakin dalam—bukan hanya karena kemungkinan adanya ketidakadilan, tetapi juga karena cara tuduhan itu disampaikan.
Banyak hal dikisahkan sebagai kepastian, padahal masih perlu dilihat, dikomunikasikan, dan dipertanggungjawabkan. Kitab Suci mengingatkan dengan tegas: “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong” (Kel 23:1). Ini bukan sekadar prinsip hukum, tetapi sikap rohani agar kebenaran tidak berubah menjadi alat kekerasan.
Seorang uskup, sebagai gembala umat Allah, menghadapi krisis bukan sekadar sebagai persoalan administratif atau personal, melainkan sebagai ujian sejati kepemimpinan rohani.
Di titik ini, kuasa dipertanyakan maknanya: apakah sungguh dihayati sebagai pelayanan yang rela merendahkan diri, atau justru sebagai ruang mempertahankan diri.
Baca Juga:
Keheningan, keterbukaan hati, serta ketaatan pada proses Gerejawi menjadi pilihan yang tidak mudah—sebuah jalan salib yang menyakitkan, namun justru di sanalah daya penyelamatannya tersembunyi.
Seorang gembala tidak dipanggil untuk memenangkan pertarungan narasi, membela citra, atau membuktikan diri benar, melainkan untuk menjaga kesatuan kawanan. Bahkan ketika dirinya sendiri terluka, ia tetap dipanggil untuk berdiri sebagai penyangga persekutuan, bukan sumber perpecahan.
Dalam terang spiritualitas Fransiskan, menerima tugas dan jabatan dapat menjadi ungkapan kerendahan hati yang sejati; namun melepaskan kembali tugas dan jabatan pun dapat lahir dari kerendahan hati yang sama—bukan demi kehormatan pribadi, melainkan demi ketaatan dan pelayanan.
Di sinilah kepemimpinan rohani menemukan kemurniannya: ketika kehendak pribadi dilepaskan agar kehendak Allah sungguh terjadi, meski melalui jalan yang gelap dan sunyi.
Baca Juga:
Yesus sendiri, ketika menghadapi tuduhan palsu, memilih diam di hadapan Mahkamah Agung (Mat 26:63). Keheningan-Nya bukan kelemahan, melainkan ketaatan penuh kepada Bapa.
Di hadapan keheningan Kristus ini, saya bertanya pada diri sendiri: apakah kegaduhan yang kita bangun sungguh memuliakan Allah, atau justru memuaskan kebutuhan manusiawi untuk menang dan membenarkan diri?
Bagi para imam, situasi ini menempatkan mereka di ruang yang rapuh dan tidak mudah. Di satu sisi ada kesetiaan pada gembala, di sisi lain ada keprihatinan umat dan suara hati nurani.
Di tengah ketegangan ini, panggilan imamat tetap sama: melayani Sabda dan Sakramen, menjaga persaudaraan presbiterium, dan tidak membiarkan konflik struktural mencuri wajah pelayanan Kristus dari altar dan umat.
Baca Juga:
Bagi para biarawan dan biarawati, krisis ini menyentuh inti kaul hidup bakti. Para religius dipanggil untuk tidak terjebak dalam kegaduhan, tetapi untuk menjadi penjaga dimensi rohani Gereja.
Kritik boleh dan perlu, namun hanya sejauh ia lahir dari doa, kejujuran batin, dan kasih akan Gereja, bukan dari kemarahan atau keinginan untuk menghancurkan. Kesetiaan yang diam, yang tinggal dan berdoa di tengah luka, sering kali menjadi kesaksian profetis yang paling dalam.
Sebagai umat Allah, krisis ini menuntut kedewasaan iman. Umat berhak atas kebenaran, tetapi juga dipanggil untuk menjaga kebenaran itu agar tidak berubah menjadi gosip, penghakiman publik, atau alat perpecahan.
Baca Juga:
Paus Fransiskus Mengajarkan: Sukacita Yang Paling Mulia Adalah Kesederhanaan
Ketika konflik para pemimpin diseret tanpa kebijaksanaan ke ruang publik, iman umat kecil—terutama kaum muda—menjadi taruhan. Kesetiaan kepada Gereja diuji bukan saat Gereja tampak kuat, melainkan saat ia tampak rapuh.
Kematangan seorang pemimpin diukur tidak Ketika berada di puncak tapi dari keberanian meninggalkan pucak.
Sebagai seorang Fransiskan, krisis ini menyentuh inti dan ajaran Spritual Fransiskan. St. Fransiskus hidup di masa Gereja yang sarat krisis moral dan struktural. Namun ia tidak memulai pembaruan dengan manifesto atau serangan terhadap para gembala.
Ia memulai dengan mendengarkan Injil: “Pergilah dan perbaikilah Gereja-Ku.” Ia membiarkan hidupnya sendiri menjadi Injil yang terbuka.
Baca Juga:
Menimba Inspirasi Dari Paus Fransiskus Untuk Mendidik Lebih Baik
St. Fransiskus sangat kritis terhadap dosa, tetapi sangat hormat terhadap jabatan Gereja. Ia berkata bahwa sekalipun ia melihat imam berbuat dosa, ia tetap menghormatinya karena imam itu membawa Tubuh Kristus. Ini bukan pembenaran terhadap penyalahgunaan kuasa, melainkan pengakuan iman bahwa Gereja lebih besar daripada kegagalan para pelayannya.
Injil sendiri tidak menutup mata terhadap bahaya abuse of power. Yesus berkata tegas: “Tidaklah demikian di antara kamu” (Mrk 10:42–43). Kuasa dalam Gereja hanya sah sejauh ia menjadi pelayanan. Maka perlu berjaga agar kritik terhadap kuasa tidak berubah menjadi kuasa baru yang sama kerasnya.
Identitas Fransiskan memanggil untuk tinggal di tempat yang tidak nyaman: tidak membela institusi secara buta, tetapi juga tidak terjebak dalam semangat penghancuran.
Semua dipanggil menjadi pembawa damai—bukan damai murah, melainkan damai yang lahir dari kebenaran dan pertobatan. “Berbahagialah para pembawa damai” (Mat 5:9).
Baca Juga:
Kalimat Uskup Paskalis, “Tuhan kita baik, banyak orang baik meski ada juga yang jahat,” saya baca sebagai pengakuan iman yang pahit namun jujur. Yesus sendiri berbicara tentang gandum dan ilalang yang tumbuh bersama hingga waktu menuai (Mat 13:30). Tugas kita bukan mencabut ilalang dengan kemarahan, melainkan setia menunggu karya Tuhan.
Pada akhirnya, situasi di Keuskupan Bogor mengingatkan semua pihak bahwa Kristus tidak terbagi-bagi. Maka setiap kata, sikap, dan tindakan perlu ditimbang: apakah ia menyembuhkan Tubuh Gereja atau justru memperdalam lukanya.
Kebenaran memang harus ditegakkan, tetapi hanya kasih yang mampu memulihkan. Transparansi perlu diperjuangkan, tetapi hanya kerendahan hati yang membuatnya berbuah.
Refleksi ini akhirnya membawa saya ke kaki Salib. Di sanalah semua konflik manusia mencapai puncaknya: pengkhianatan, fitnah, dan ketidakadilan. Namun Keselamatan justru lahir dari kesetiaan yang bertahan.
Baca Juga:
Maria Bunda Allah berdiri di sana—tanpa teriakan, tanpa pamflet, tanpa tuntutan balas dendam. Ia berdiri dan percaya. Gereja tidak diselamatkan oleh strategi, kemenangan opini, atau kekuatan manusia, melainkan oleh Tuhan yang setia bekerja dalam keheningan dan kerapuhan. Tuhan yang setia bekerja melalui bejana-bejana tanah liat.
Saya berdoa agar krisis ini menjadi jalan pemurnian, bukan kehancuran. Agar Gereja Indonesia belajar kembali tentang dialog yang jujur, transparansi yang rendah hati, dan ketaatan yang dewasa.
Dan agar kami para religius tidak tergoda menjadi komentator yang lantang, tetapi tetap setia menjadi saksi Injil yang hidup—sederhana, jujur, dan penuh belas kasih. Sebagai Fransiskan, saya belajar bahwa kesetiaan yang diam sering kali lebih profetis daripada seribu kata yang tajam.
Baca Juga:
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Meluluskan Seorang Pastor Katolik Menjadi Doktor
Saya memilih tetap tinggal di dalam Gereja yang terluka ini—mencintainya bukan karena ia sempurna, tetapi karena Kristus telah lebih dahulu mencintainya sampai menyerahkan diri-Nya.
Penulis adalah : Koordinator JPIC FMM Indonesia . JPIC (Justice, peace and integrity of Creation) / Foto ilustrasi dibuat degan bantuan AI
Leave a Reply