Hari Komunikasi Sosial Sedunia 2023: “Berbicara Dengan Hati”

Budaya
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia setiap tahun dirayakan tepat pada Hari Minggu ke 7 Paskah, atau Hari Minggu terakhir sebelum Pentakosta,  yang tahun ini jatuh tepat tanggal 21 Mei 2023.

Paus Fransiskus dalam pesannya yang diterbitkan pada Januari 2023 lalu, menghimbau agar kita semua untuk selalu “berbicara dari hati, dan menemukan kata-kata yang paling tepat untuk membangun peradaban yang lebih baik,” (hidupkatolik.com,24/01/2023).

Tulisan ini tentu tidak bermaksud membahas pesan Bapa Suci terkait Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun ini, secara langsung. Tulisan ini justru terinspirasi dari khotbah Pimpinan Majalah HIDUP KATOLIK pada misa Sabtu 20 Mei 2023, sore tadi.

Romo Matheus Harry Sulistyo Wardoyo, Pr, dalam khotbahnya mengutip sebuah hasil penelitian yang sedikit membuat penasaran, hingga melahirkan tulisan ini.

Saat memimpin misa Sabtu sore di Gereja Santo Ambrosius, Villa Melati Mas – Serpong Utara, Romo Harry Sulistyo mengungkapkan bahwa setiap hari otang manusia menangkap paling sedikit 1 juta kata. Entah itu melalui mendengar maupun membaca dari berbagai sumber, offline maupun online.

Baca Juga:

Hari Komsos Sedunia : Mendengarkan dengan Telinga Hati

Dari 1 juta kata itu, ada tiga kategori besar yang paling diingat oleh manusia. Pertama: kata-kata yang konotasinya negatif. Kata-kata yang menyakiti, membuat kecewa, menyebabkan kehilangan harapan, kata-kata yang membuat sedih pendengarnya.

Kata-kata negatif ini paling mendominasi dan mempengaruhi seluruh hidup seseorang sepanjang hari tersebut.

Yang Kedua, adalah kata-kata yang bermuatan seksual. Hal ini terutama pada laki-laki, kata-kata yang berkonotasi sensual adalah kategori kedua yang paling diingat oleh banyak orang.

Baru yang ketiga adalah kata-kata yang berkonotasi positif. Kata-kata yang ketika didengar membesarkan dan menghangatkan hati, menumbuhkan harapan, menguatkan cinta, mendatangkan kebahagiaan, menyembuhkan luka.

Kata-kata yang ketika diperdengarkan, dapat bermanfaat positif baik bagi mereka yang mengeluarkan kata-kata tersebut, tapi juga mereka yang mendengarkannya.

Baca Juga:

Terbukti; ‘Kita’ Paling Tidak Sopan Bersosial Media

Saya kemudian teringat akan materi pendalaman iman minggu ini yaitu tentang komunikasi asertif. Komunikasi asertif dijelaskan sebagai sebuah kemampuan untuk menyampaikan pendapat, keinginan dan perasaan dengan jelas, tegas serta terbuka tanpa melanggar hak, atau menyakiti perasaan orang lain.

Kata kunci komunikasi asertif adalah menyampaikan dengan jelas sekaligus tanpa menyakiti mereka yang mendengar.

Untuk berkomunikasi secara asertif, tentu bukan sesuatu yang mudah. Komunikasi asertif mensyaratkan agar kita pertama-tama mengenali perasaan yang muncul secara jujur atas peristiwa yang terjadi.

Bisa jadi sesuatu yang sedang terjadi tersebut membuat jengkel, terganggu, marah atau kecewa. Setelah mengenali sumber masalah kita harus berempati terhadap diri sendiri atas perasaan yang timbul karena peristiwa tersebut.

Perasaan-perasaan yang timbul adalah sifatnya netral. Kita tidak bisa menyalahkan perasaan yang timbul karena sebuah peristiwa yang terjadi.

Langkah kedua komunikasi asertif adalah menelusuri apa yang membuat perasaan itu muncul. Mengapa peristiwa tersebut tadi, membuat kita merasa tidak nyaman? Kebutuhan apa yang tidak terpenuhi akibat peristiwa tadi.

Baca Juga:

Survey Digital Civillity Indeks; Neitizen Indonesia Paling Tidak Sopan se-Asia Tenggara

Berikutnya, langkah ketiga: telusuri apa yang kita inginkan dari peristiwa tersebut, setelah itu baru kemudian utarakan keinginan tersebut dengan tegas, ringkas dan lembut kepada siapapun yang mengakibatkan peristiwa tidak nyaman tersebut, dengan menggunakan I message.

I message adalah gaya komunikasi dengan menggunakan kata saya, bukan kata kamu.

Komunikasi asertif jelas berbeda dari komunikasi agresif yang menyerang dan menyalahkan siapapun yang mengakibatkan sebuah peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi. Kita langsung menghakimi siapapun dan menuntut pertanggungjawaban seseorang atas peristiwa tersebut.

Atau komunikasi pasif yang walaupun terluka atas sebuah peristiwa tetapi memilih diam untuk menghindari konflik. Atau bentuk komunikasi pasif – agresif dimana sikap diam merupakan bentuk perlawanan namun bahasa tubuh ‘berbicara’ lebih banyak sebagai tanda protes atas peristiwa yang terjadi.

Berbicara Dengan Hati, adalah sebuah keterampilan yang dilatih. Dibiasakan dari hal-hal yang kecil. Sebagai contoh kita tidak suka bau asap rokok di dalam ruangan, maka bentuk komunikasi asertif dengan I message: ‘maaf, saya tidak terlalu nyaman dengan asap rokok di dalam ruangan ini. Saya membutuhkan udara yang lebih segar dan tidak mengganggu, karena itu Saya sangat menghargai jika Anda bisa merokok di luar ruangan ini’.

Baca Juga:

Netizen Jurnalism; Berkat atau Kutuk?

Berbicara dengan hati, terutama saat-saat menjelang tahun politik seperti saat ini tentu merupakan kebutuhan kita semua. Dimana kata-kata yang konotasinya positif: yang mendamaikan hati, yang menenangkan jiwa, menguatkan harapan, menyembuhkan luka, kata-kata penuh kasih harus lebih sering terdengar hingga mendominasi 1 juta kata yang otak kita terima setiap hari.

Setelah “mendengarkan dengan hati” dalam tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun lalu, Paus Fransiskus memberi satu nasihat sederhana tentang tema tahun ini. Nasihat ini terutama ditujukan kepada para pekerja media, pegiat media sosial, namun juga ditujukan kepada kita semua.

Paus mengatakan bahwa untuk dapat berbicara dengan hati kepada siapa saja, kita harus mencintai mereka terlebih dahulu.

Foto dari : keuskupanruteng.org

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of