Pembukaan Kegiatan Compassion Health SMP Kolese Kanisius Jakarta: Berjalan Bersama yang Tersingkirkan melalui Kegiatan Compassion Healthsion Health SMP Kolese Kanisius Jakarta

Warga Peduli
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com-“Tidak ada sesuatu yang berarti untuk dimainkan. Hewan berkeliaran di mana-mana. Jangan tanya ketersediaan komputer, internet dan lain sebagainya, karena penerangan pun belum masuk di daerah tersebut.

Mereka hanya menunggu untuk dibuang, karena sesungguhnya daerah mereka sudah dijual oleh Pemerintah, kepada para tetambang-tetambang. Banyak pernikahan dini yang terjadi (anak SD kelas 5 menikah dengan orang dewasa yang sudah berumur 30-an. 

Bayangkan bagaimana wajah Indonesia ke depannya, wajah yang kita harapkan akan maju seperti yang ada di Jakarta, namun tidak dengan saudara-saudara kita yang ada di sana, di sebuah daerah yang hampir jarang terekspos oleh kita-kita yang sedang membaca tulisan ini. 

Baca juga: Taliban Tidak Mengijinkan Murid Dan Guru Perempuan Kembali Ke Sekolah?

Kondisi yang jauh dari harapan, menjadikan lengkap betapa suramnya eksistensi orang-orang yang ada di sana. Kondisi ketika pendidik (guru) mengkonsumsi miras hingga mabuk-mabukkan, serta akses jalan yang masih sangat terbatas.

Jangan tanya informasi terkait pandemi virus corona yang ada di sana, karena yang akan kita temukan adalah no hope. Bisa saja mereka terpapar, akan tetapi tidak ada harapan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, karena jarak RS yang begitu jauh. 

Kondisi ini yang menjadikan gambaran wajah Indonesia, ketika dilihat lebih dekat, di sebuah daerah yang di ada di pedalaman Kalimantan, tepatnya di daerah Botong, Kabupaten Ketapang.

Keterbatasan akses jalan, SDM serta fasilitas yang tidak memadai, menjadikan lengkap penderitaan yang ada di daerah Botong.” Begitulah sebagian besar ungkap Pater Stephanus Adven SJ. yang mengemban misi kerasulan di daerah tersebut.

“Kami sangat membutuhkan pengadaan sarana pendidikan. Kami membutuhkan volunteer yang mau bersedia membantu. Kami juga berharap bisa membangun residence dan sekolah di tempat ini.

Harapannya dengan adanya pendidikan dan SDM, bisa mengembangkan mindset bahwa mereka mempunyai harapan baru, untuk tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik. Anak-anak tidak pernah keluar dari dusun itu. Bahkan kota paling dekat saja tidak pernah, apalagi ke Jakarta.

Baca juga: Satu Lagi Taruna Sekolah Kedinasan, Politeknik Ilmu Pelayaran Tewas Di Tangan Senior

Oleh karena itu, dibutuhkan SDM dan fasilitas yang memadai. Fasilitas tanpa SDM ataupun SDM tanpa fasilitas juga akan akan menyisihkan chaos tersendiri. Keduanya perlu berjalan seimbang.” Ungkap Pater Stephanus Adven SJ..

Menanggapi kondisi ini, SMP Kolese Kanisius yang menjadi bagian dalam Serikat Jesuit Global, turut andil mengambil peran sebagai bentuk dari compassion, sekaligus memperjuangkan salah satu nilai dan arah juang dari Universal Apostolic Preferences (UAP), yakni walking with the excluded atau berjalan bersama yang tersingkirkan. 

Pada hari Sabtu, 25 September 2021, SMP Kolese Kanisius di bawah koordinasi Ibu Rosalia Dian Devitasari, S.Pd., telah dibuka kegiatan Compassion Health dalam ruang virtual zoom.

Compassion Health merupakan kegiatan berdonasi yang dikemas dalam bentuk aktivitas fisik, yakni dengan berolahraga (berlari, bersepeda, dan berjalan).

Baca juga: Earth Day Celebration “Restoring Our Earth”

Setiap jangkauan aktivitas fisik yang diukur dalam satuan KM, yang tercatat dalam aplikasi Acktivin atau Strava, akan digantikan dengan sejumlah uang sesuai dengan jarak yang ditempuh.

Kegiatan ini akan berlangsung sejak bulan September hingga Desember tahun 2021. Hasil penggalangan dana melalui kegiatan Compassion Health, kemudian akan disalurkan di daerah Botong. Harapannya bisa sedikit membantu memulihkan akses pendidikan yang ada di sana.

“Jangan takut untuk menjadi orang baik. Orang baik dimulai dengan bergerak, yakni menggerakkan tubuh, tangan, kepala, hati secara bersama-sama. Kalau hanya menggerakan tubuh, hanya untuk kesehatan diri sendiri. 

Kalau hanya menggerakkan kepala, hanya menjadi pintar untuk diri sendiri. Kalau hanya menggerakkan hati saja tanpa kepala dan tanpa fisik yang baik, kita tidak akan melayani dengan kebaikan yang lebih lama. 

Akan tetapi semuanya akan menjadi proses yang indah, kalau tubuh, kepala, hati dan tangan kita bersambung. Jangan takut untuk menjadi baik, karena menjadi baik, kita akan menjadi sedikit banyak bisa membahagiakan orang lain juga.” Ungkap Pater Adven dalam ajakan kepada kita untuk berdonasi bersama.

Berlari pagi bersama pasangan

Pulangnya minum jus buah naga

Hay mari para kanisian semuanya

Mari kita berolahraga, berbagi dan berbela rasa.

(Edy Sucipto)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of