Eposdigi.com – Dalam Pengukuran Social Return Of Investment – SROI, dimulai dari Menentukan ruang lingkup program/proyek yang hendak dievaluasi dan siapa saja stakeholders program/proyek tersebut. Kemudian yang kedua Memastikan tujuan program/proyek (project objectives) dan jenis perubahan social (social outcomes) yang hendak diukur.
Melalui tulisan pertama dan kedua tentang SROI di media ini, kita sudah membahas mengenai langkah pertama dan kedua, serta langkah ketiga: Menyusun indikator perubahan sosial (social outcomes).
Tulisan berikut ini adalah mengenai Mengumpulkan Data untuk setiap Indikator dan bagaimana Menentukan Monetary Value.
Langkah keEmpat: Mengumpulkan data untuk setiap Indikator
Baca Juga:
Langkah Ketiga Mengukur SROI “Mengenal Struktur Masalah dan Memastikan Outcome Program
Kita lanjut dengan contoh kasus Program Pemberdayaan Nelayan di pantai utara Pulau Adonara. Rumusan tujuan program adalah membebaskan para nelayan dari jerat kekuasaan tengkulak (outcome), maka kita memerlukan indikator terukur tentang “bebas dari jerat tengkulak”.
Indikator bebas dari jerat tengkulak yang perlu diperiksa antara lain:
– memiliki alat tangkap sendiri (perahu, jaring, dan alat tangkap lainnya)
– menjadi anggota organisasi profesi (bisa berupa koperasi nelayan) yang memperjuangkan kepentingan nelayan,
– mudah akses ke pasar untuk menjual hasil tangkapan,
– mudah akses ke bank
– mampu mengolah berbagai produk turunan dari hasil tangkapan ikan
– adanya peningkatan pendapatan nelayan per tahun.
Baca Juga:
Orang yang agak malas berhitung akan memilih jalan pintas cukup mencari tahu angka akhir peningkatan penghasilan nelayan setelah ikut dalam program pemberdayaan.
Untuk kita yang mau belajar berpikir kritis, kita perlu menghitung kontribusi setiap indikator sebagai variabel perubahan:
(i) Berapa banyak nelayan yang berhasil mengikuti program pemberdayaan sampai selesai;
(ii) berapa besar peningkatan hasil tangkapan bersih setiap nelayan setelah tidak lagi menyewa perahu, jaring, solar, dan lain-lain dari pemilik perahu;
(iii) berapa nilai penghematan biaya hidup setiap keluarga nelayan setelah bebas dari beban hutang pinjaman tinggi dari tengkulak dan beralih untuk bergabung dengan koperasi;
(iv) berapa besar rata-rata penghasilan bersih dengan menjual langsung hasil tangkapan ke pasar dibanding harus setor ke tengkulak atau pengepul (sebagai kaki tangan tengkulak);
(v) berapa besar kontribusi nilai pinjaman dari koperasi dan/atau bank (dibanding dari tengkulak) untuk menaikkan modal usaha dan meningkatkan kinerja tangkapan;
(vi) berapa besar kontribusi kegiatan pengolahan produk turunan hasil tangkapan terhadap peningkatan penghasilan nelayan;
(vii) secara kumulatif: berapa besar rata-rata penghasilan nelayan dalam setahun.
(viii) Dan seterusnya..
Baca Juga:
Kemudian, langkah-langkah mengukur SROI berikutnya yaitu kelima: Menentukan Monetary Value untuk setiap outcomes
Prinsip etis: Jangan mengukur hasil dari apa yang tidak kita tanam.
Sejalan dengan perjalanan waktu ada banyak perubahan yang terjadi pada kehidupan nelayan di pantai utara pulau Adonara selama masa dampingan. Kita perlu fokus pada perubahan (outcomes) yang terjadi sebagai akibat langsung dari intervensi program kita.
Kita memeriksa perubahan pada variabel dan indikator spesifik yang kita tetapkan dan kita biayai.
Setelah mempelajari proposal project yang disusun secara serius, pihak ketiga berani menginvestasikan dana sebesar Rp.1 miliar untuk pemberdayaan 5 kelompok nelayan di pantai utara pulau Adonara dengan jumlah anggota aktif 75 orang.
Baca Juga:
Rincian alokasi penggunaan dana sebagai berikut:
(i) Pengadaan alat tangkap dan pelatihan untuk 5 kelompok nelayan di 5 desa: Rp.500 juta.
(ii) Pembentukan koperasi nelayan, penyertaan modal usaha awal, dan pelatihan pengelolaan koperasi nelayan (gabungan): Rp.100 juta
(iii) Latihan pengolahan, pengepakan dan penjualan produk turunan ikan: 200 juta.
(iv) Latihan akses bank dan akses pasar hulu-hilir: Rp. 30 juta.
(v) Gaji staf pendamping, biaya monitoring, evaluasi, etc: 170 juta.
Total anggaran yang dikucurkan: Rp.1 Miliar.
Baca Juga:
Untuk menghitung Monetary Value setiap outcome, kita mulai dari analisis:
1. Berapa besar rata-rata perubahan penghasilan 75 nelayan dalam sebulan, lalu setahun, setelah mendapat bantuan alat tangkap dan mengikuti pelatihan? (dari x rupiah/tahun sebelumnya menjadi y rupiah/tahun.
(a) Dulu, ketika memakai/menyewa perahu dan alat tangkap juragan/tengkulak, net “take home pay“ sebagai buruh nelayan rata-rata 2 juta rp/bulan x 12 = 24 juta per orang x 75 orang = Rp. 1.800.000.000 per tahun.
(b) Setelah memiliki alat tangkap sendiri: penghasilan nelayan naik menjadi Rp. 10 juta/bulan x 12 = Rp.120 juta x 75 orang = Rp.9.000.000.000 per tahun (tahun pertama)
(c) Kenaikan penghasilan bersih (net benefit) dari sektor kepemilikan alat tangkap sendiri (saja): Rp. 9.000.000.000,- – Rp.1.800.000.000,- = Rp.7.200.000.000,-
(d) Rasio SROI (khusus dari pengadaan alat tangkap): Rp.7.200.000.000,- / Rp.500.000.000,- = 14,4.
(e) ARTINYA: setiap satu rupiah yang diinvestasikan menghasilkan nilai Rp.14,4 (empat belas rupiah empat sen) sebagai nilai investasi sosial untuk nelayan.
Baca Juga:
2. Lakukan perhitungan yang sama untuk (i) peran koperasi nelayan, (ii) pengolahan dan pengepakan hasil tangkapan, (iii) kemudahan akses bank dan pasar. Berapa besar sumbangan kenaikan penghasilan nelayan dari bidang-bidang ini?
3. Gabung hasil perhitungan dari semua indikator lalu bagi dengan total dana investasi: Rp.1.000.000.000,-. Berapa nilai SROI secara keseluruhan dari program pemberdayaan nelayan di pantai utara Pulau Adonara?
Foto Ilustrasi dari titisari04.wordpress.com
Leave a Reply