Menangis, Kelak Menjadi Profesi Bergaji Tinggi?

Bisnis
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Secara alamiah, manusia mengekspresikan kesedihannya dengan menangis. Terutama jika perasaan sedih yang mendalam itu timbul karena kehilangan orang yang kita kasihi. Dengan demikian, menjadi sangat wajar jika pada saat kedukaan selalu ada ratap tangis dan derai air mata.

Dalam banyak budaya upacara untuk mengantar kepergian orang-orang terkasih dianggap sebagai upacara penting. Karena itu upacara kematian selalu dilakukan secara serius, sesuai dengan tradisi masing-masing masyarakat.

Di beberapa tempat di dunia, penghormatan kepada sosok orang yang meninggal ditandai dengan berbagai cara. Secara umum, dari jumlah pelayat dan latar belakang para pelayat, kita dapat menelusuri dengan jelas sepenting apa orang yang meninggal.

Di China dan Taiwan misalnya, upacara kematian menjadi salah satu hal yang penting. Jenasah orang yang meninggal biasanya tidak langsung dikebumikan atau dikremasikan, melainkan harus menunggu penghormatan terakhir dari segenap keluarga.

Baca Juga:

Lima Profesi Unik Ini Hanya Ada di Tiongkok

Bukan semata-mata demi sosok yang meninggal, namun terutama agar mereka yang ditinggalkan memiliki kesempatan untuk berpamitan, mendoakan yang meninggal dan menunjukan tanda duka cita mereka.

Karena itu ungkapan kesedihan mendalam yang ditunjukan melalui ratap tangis menjadi sebuah hal baik bagi masyarakat China dan Taiwan. Semakin banyak sanak keluarga yang datang, semakin banyak orang-orang yang menunjukan kesedihan, biasanya menunjukan rasa hormat dan cinta keluarga kepada yang meninggal.

Sayangnya, tulis ccnindonesia.com (07.12.2023), tidak semua sanak keluarga bisa datang untuk mendoakan, berpamitan dan menunjukan duka cita mereka atas peristiwa kematian tersebut. Sanak keluarga yang tersebar di banyak kota mengakibatkan suasana perkabungan menjadi sangat sepi.

Pada masyarakat dengan status sosial tertentu, suasana perkabungan yang sepi jelas bukan merupakan sesuatu yang baik. Ini kemudian menghadirkan para pelayat sewaan guna ‘meramaikan’ upacara perkabungan.

Baca Juga:

Temuan Peneliti Jepang : Metode Tercepat Menenangkan Bayi yang Menangis

Biasanya, para pelayat sewaan ini, diberi tugas khusus untuk menangisi orang yang meninggal. Tentu semakin sedih ratap tangis biasanya bayarannya pun semakin tinggi.

Diwartakan oleh cnnindonesia.com, seorang pelayat profesional asal Taiwan bernama Liu Chun-Lin telah menekuni profesi pelayat profesional ini sejak tahun 2005. Liu yang miskin dan sebatang kara, yang bertahan hidup dari kerja serabutan kemudian beralih profesi dan serius menekuni profesi pelayat ini.

Dalam satu kesempatan melayat, Liu bisa mengantongi pendapatan hingga Rp9 juta-an. Jelas ini penghasilan yang sangat menggiurkan bagi seorang pekerja serabutan. Liu bahkan kini mendirikan perusahaan khusu menyediakan jasa pelayat profesional dengan layanan utama menangisi orang yang meninggal.

Tidak hanya Liu di Taiwan, Dingding Mao, seorang perempuan pengangguran di China, mendapatkan penghasilan baru setelah PHK dari menangis di upacara kematian. Mao bahkan memberikan pelayanan lebih. Tidak hanya menangis, mao bahkan mempersembahkan tarian-tarian untuk menghibur keluarga yang sedang berduka.

Baca Juga:

Pemberdayaan Ekonomi Dari Tradisi Bailake

Tidak hanya di China dan Taiwan, bisnis pemakaman di Ghana menjadi salah satu sector bisnis yang ‘gemuk’ di negara tersebut, tulis cnninternational seperti dikutip oleh cnnindonesia.com (07.12.2023).

Perusahaan yang menyelenggarakan jasa pelayat profesional yang menyebar banyak pekerjanya ke berbagai upacara kematian bisa mengantongi pendapatan hingga Rp300 juta.

Bagaimana dengan di Indonesia? Akankah menangis bisa menjadi profesi yang dibayar mahal, suatu saat nanti?

Foto pelayat profesional dari ussfeed.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of