Mencermati Capaian Pemerintah di Bidang Pendidikan untuk Perwujudan Indonesia Emas Tahun 2045

Nasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Pada tanggal 9 Mei 2019 Presiden Joko Widodo mencanangkan Visi Indonesia Emas 2045. Ini adalah visi pembangunan berkelanjutan Indonesia untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat, maju, adil dan makmur pada tahun 2045. Itu adalah tahun di mana indonesia mencapai usia ke-100 tahun setelah merdeka. 

Untuk mencapai visi tersebut, Indonesia harus menjalankan empat pilar pembangunan yang terdiri dari: Pertama, Pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, Pembangunan ekonomi berkelanjutan, Ketiga, Pemerataan pembangunan, Keempat, Pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

Hingga tahun 2025 ini, pilar pembangunan yang pertama, pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak kunjung terlaksana. Ini misalnya disimpulkan dari besarnya anggaran pembangunan yang dikucurkan untuk pembangunan di bidang pendidikan, riset dan teknologi.

Baca Juga:

Komisi X DPR RI Telah Membentuk Panja Mengenai Sekolah Kedinasan

Pada tahun 2024 misalnya, anggaran pendidikan memang meningkat dari tahun sebelumnya, namun anggaran yang dikucurkan untuk bidang pendidikan baru sebesar 20 persen dari APBN atau sekitar 665 triliun rupiah. Dari anggaran ini, 237,3 triliun digunakan untuk belanja pemerintah pusat dan 346,6 triliun untuk transfer daerah. 

Anggaran untuk belanja pemerintah pusat tersebut di antaranya digunakan untuk belanja pegawai pusat, bantuan Program Indonesia Pintar, KIP Kuliah, Tunjangan Profesi Guru Non PNS, Bantuan Operasional Perguruan Tinggi, Bantuan Operasional Sekolah dan Bantuan Operasional Paud. 

Sedangkan dana transfer daerah ini digunakan untuk belanja pegawai daerah,  biaya pengelolaan sekolah-sekolah negeri. SMA/SMK oleh provinsi sedangkan SD, dan SMP oleh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota. Ini termasuk sekolah-sekolah di bawah Kementrian Agama melalui mekanisme di Kementrian Agama. 

Hingga sekarang besaran anggaran 20 persen ini masih belum memadai untuk membiayai pengembangan pendidikan, belum lagi masih terjadi kebocoran anggaran karena praktik korupsi yang masih terjadi di berbagai lini pendidikan. 

Baca Juga:

Program Baru Kemendiktisaintek Kampus Berdampak sebagai Keberlanjutan dari Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka

Di bidang riset dan teknologi lebih memprihatinkan lagi. Anggaran yang dikucurkan dari APBN untuk badan riset seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2023 hanya sebesar 6,4 triliun rupiah. Dari anggaran yang sangat kecil ini, 65 persen atau 4,5 triliun digunakan untuk membiayai operasional seperti gaji. 

Sisanya sekitar 2,2 triliun rupiah digunakan untuk pendanaan penelitian dan inovasi. Dalam konteks Produk Domestik Bruto (PDB), anggaran riset indonesia hanya sekitar 0,01 persen, jauh di bawah rata-rata negara berpenghasilan menengah ke atas yang mencapai 1-2 persen dari PDB. 

Data-data ini menunjukkan bahwa pilar pertama pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi  yang diperlukan menjadi landasan penting bagi pembangunan berkelanjutan, sangat tertinggal dari pilar pembangunan yang lain. Apakah karena baru 6 tahun berjalan dan masih ada 20 tahun menuju tahun 2045? 

Baca Juga:

Membaca Indeks Integritas Pendidikan Indonesia Menurut Rilis KPK dan Akar Masalahnya

Bandingkan dengan China

Pada tahun 2015 Perdana Menteri China Li Keqiang mencanangkan “Made in China 2025”. Target utama China adalah Meningkatkan kemampuan inovasi, Meningkatkan mutu produk manufaktur China, Meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri dengan bertumpu pada 10 sektor industri. 

Ini adalah upaya untuk mendudukkan China sebagai negara pelopor dalam industri berteknologi tinggi. Inisiatif ini tidak datang begitu saja. Gagasan dari satu inisiatif ke inisiatif yang lain secara berkesinambungan, meskipun pemerintahannya sudah silih berganti. Dan semua inisiatif tersebut selalu melibatkan pendidikan dalam menyiapkan  manusianya. 

Sejak inisiatif ini di-launching, pembangunan pendidikan di mana pengembangan talenta terampil dan upaya menggenjot riset dan pengembangan teknologi menjadi agenda utama. Seperti dilaporkan BBC dan Kompas.com, kampus-kampus China menghasilkan rata-rata 6.000 doktor di bidang STEM setiap bulan. 

Baca Juga:

Tanpa Disadari Enam Kebiasaan Ini Telah Menjadi Penyebab Kerusakan Otak Manusia

Selain itu, jumlah anak muda China yang menuntut ilmu di bidang STEM dan dibiayai oleh pemerintah, di Amerika mencapai 3.000 orang sedangkan yang belajar STEM di Inggris mencapai 1.500 orang. 

Selain pengembangan keahlian di bidang STEM, pemerintah China juga mendukung riset dan inovasi. Hal ini terlihat dari capaian pada tahun 2023, China berhasil mengajukan paten sebanyak 1,7 juta paten. Sedangkan dibandingkan dengan Amerika Serikat pada tahun 2023 hanya mengajukan 600.000 paten. 

Ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Pasalnya, dua dekade sebelumnya China hanya mampu mengajukan sepertiga paten dari jumlah yang diajukan oleh Amerika Serikat, seperempat dari jumlah yang diajukan oleh Jepang, dan jauh dari jumlah yang diajukan oleh Korea Selatan maupun Eropa. 

Capaian hebat tersebut, diraih China dengan mengeluarkan anggaran yang sangat besar untuk pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. Pada tahun 2023 China mengeluarkan anggaran 5.000 triliun rupiah untuk pendidikan dasar dan 3.900 triliun untuk pendidikan tinggi, dengan tingkat kebocoran yang hampir nihil. 

Baca Juga:

Negara-negara Ini Adaptasi AI Warga Negaranya Paling Cepat. Indonesia Bagaimana?

Selain pendidikan dasar dan pendidikan tinggi, China juga mendorong pengembangan talenta melalui pelatihan teknologi baru seperti big data, kecerdasan buatan, manufaktur cerdas, sirkuit terpadu dan keamanan data. Ini tidak hanya diikuti oleh talenta baru melainkan juga untuk profesional di berbagai industri. 

Pada saat yang sama pemerintah China juga dengan berbagai cara mendorong talenta diaspora China yang sukses di luar untuk kembali ke China dan memulai usaha di China. Semua langkah ini dilakukan dengan fokus sehingga tahun 2025 target Made in China tahun 2025 sungguh-sungguh tercapai. 

Keberhasilan tersebut misalnya terlihat dari kehadiran AI China DeepSeek yang menghantam saham perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat, atau kehadiran komputer kuantum Zuchongzhi-3 yang diklaim 1.000 triliun kali lebih cepat dari EI Capitan, super komputer buatan AS tercepat saat ini. 

Atau kehadiran teknologi mobil listrik China yang saat ini telah berhasil mengekspor 1,8 juta unit mengalahkan Jepang dan Jerman yang sempat mendominasi di tahun 2017. Atau keberhasilan perusahaan RAM asal China CXMT yang berhasil mendominasi pasar global di tahun 2025 ini.

Baca Juga:

Ini yang Harus Dilakukan Orang Tua, untuk Menyiapkan Anak Masuk Sekolah Setelah Libur Panjang

Capaian ini berarti China memang benar-benar membutuhkan waktu 10 tahun untuk mencapai ambisinya sebagaimana yang mereka targetkan. Padahal rencana ini dicanangkan oleh Perdana Menteri Li Keqiang dan ketika pergantian pemerintahan ke Li Qiang, pemerintahannya dengan konsisten menjalankan kebijakan-kebijakan tersebut. 

Apa yang kita pelajari?

Dilihat dari rentang waktunya, sekarang kita berada di tahun 2025. Itu berarti menuju Indonesia Emas di tahun 2045 membutuhkan waktu 20 tahun lagi. Ini adalah waktu untuk 4 periode pemerintahan. Belajar dari China, kita berharap pemerintah segera sungguh-sungguh memprioritaskan pendidikan dan pengembangan teknologi. 

Kenapa? Karena pendidikan menjadi landasan yang penting untuk mengupayakan kesinambungan pembangunan. Caranya, pemerintah diharapkan mengalokasikan anggaran yang secukupnya untuk pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Termasuk mengalokasikan anggaran yang memadai untuk riset dan teknologi. 

Baca Juga:

Mengelola Lima Aspek Manajemen Sekolah, Untuk Mengupayakan Perkembangan Sekolah Secara Berkelanjutan

Jangan sampai terjadi programnya dicanangkan tetapi tidak didukung dengan anggaran. Di samping itu diupayakan agar mencegah kebocoran anggaran, dan upaya untuk efisiensi. Sia-sia jika anggarannya besar tapi bocor di sana-sini atau habis digunakan untuk belanja pegawai. 

Di samping itu, praktik bongkar pasang kebijakan di bidang pendidikan dihentikan. Selama ini, ganti pemerintahan ganti kebijakan, usia program atau kebijakan seumur pemerintahan. Ganti menteri ganti kebijakan, ganti kurikulum, membuat pembangunan pendidikan tidak berkesinambungan, menyebabkan program Visi Indonesia Emas 2045 sulit terwujud. 

Mudah-mudahan di momentum Hari Pendidikan Nasional ini, para pemimpin kita kembali memperkuat tekad mereka untuk mengurus pendidikan dengan benar, sehingga pendidikan sungguh disiapkan menjadi landasan pembangunan berkelanjutan untuk mencapai Indonesia Emas di 2045, dua puluh tahun kedepan. Selamat Hari Pendidikan Nasional. 

Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis. / Foto: radioidola.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of