Eposdigi .com – Pagi-pagi benar, setelah posting tulisan tentang upaya READSI mendaulatkan petani di NTT saya mendapat reaksi keras dari seorang petani dan pemerhati pertanian di Flores Timur. Menurutnya, foto ilustrasi yang digunakan pada tulisan itu tidak tepat.
Tidak seharusnya, kata dia, untuk sebuah tulisan tentang kedaulatan pangan di Flores Timur atau NTT secara keseluruhan , foto Jagung ‘ungu’ itu tidak harus dipakai. Sebab katanya, jagung ungu tersebut bukan dari benih lokal.
Telepon dari Elias Lamanepa inilah yang mendorong saya menulis secara khusus tentang benih, dalam kaitannya dengan kedaulatan petani secara umum. Barangkali tulisan ini juga merupakan panggilan moral saya, sama seperti Elias Lamanepa, mengharapkan dan meniatkan sesuatu yang terbaik bagi Lewotanah Flores Timur, terutama para petaninya.
Ketika akan menulis tentang benih, kata kunci pertama yang saya ketik guna mencari referensi buat tulisan ini adalah “perusahaan penghasil benih”. Temuan dari penelusuran ini sedikit mengejutkan saya.
Baca Juga:
Pasalnya, beberapa nama familier ternyata muncul dalam pencarian ini. Sebut saja ‘pioneer’, lainnya semisal NK, lalu ada Bisi dan Dekalb.
Awalnya saya mengira bahwa nama-nama familier ini murni karya anak bangsa, ternyata pemilik merek dagang ini datang dari luar negeri. Pioneer adalah milik Cortiva Agriscience. Asalnya dari Amerika Serikat.
NK dengan banyak varian ternyata milik Syngenta dari Swedia. Bisi itu konon katanya merek dagang punya Charoen Pokphand, punya orang Thailand. Sementara Dekalb itu diproduksi Bayer dari Jerman.
Kata Kunci Kedua dalam pencarian itu adalah “konflik petani dengan pengusaha benih” kemudian mengantar saya pada sebuah film dokumenter.
Film dokumenter ini ketika menontonnya membuat saya sakit hati. Kalo teman-teman berkesempatan, tolong cari dan tonton di youtube. Film Dokumenter ini sudah lama diunggah. Sudah lebih dari 10 tahun lalu.
Film Dokumenter ini titik fokusnya adalah pada benih. Sekelompok petani dituduh ‘mencurangi’ benih. Mereka kemudian dihukum penjara. Judul Dokumenter ini adalah “Benih Kami Daulat Kami”
Baca Juga:
Sedikit banyak, film dokumenter ini lah yang mengingatkan saya untuk menulis kembali soal betapa pentingnya benih bagi petani.
Benih itu, bagi saya, memegang 50 % keberhasilan seorang petani. Sisa 50 % lainnya adalah pada lahan, pada proses hingga pada pasca panen. Karena itu jika kita belum selesai dengan urusan benih, apa yang akan kita tanam?
Petani di Kediri yang melahirkan dokumenter itu hanya berusaha mencari jalan keluar dari mahalnya benih perusahaan. Mereka kemudian memuliakan benih sendiri dan ‘dijual’ diantara mereka. Inilah yang membuat mereka masuk penjara.
Bagaimana dengan kita di Flores Timur hari ini? Secara tradisional Sebagian besar kita di Flores Timur adalah petani. Dari kelompok itu, sebagian besarnya adalah petani jagung. Jagung mengakar erat dalam budaya kita. Dan tidak seorang pun berani mengakui kebalikannya.
Karena itu benih jagung adalah bagian dari masyarakat kita yang adalah petani. Varietas-varietas lokal kita, yang secara turun temurun kita tanam, generasi demi generasi kita simpan benihnya, untuk kita tanam kembali di musim penghujan setahun sekali.
Baca Juga:
Membangun Kedaulatan Pangan: Tak Ada Kedaulatan Pangan Tanpa Kedaulatan Petani
Pertanyaannya adalah hari ini seberapa besar petani kita memiliki benih jagung untuk ditanam di musim hujan sebentar lagi? Apakah benih lokal kita cukup tersedia bagi ribuan petani jagung di Flores Timur? Jika ternyata benih lokal kita tidak tersediah banyak apakah kita boleh menggunakan benih lain dari luar?
Benih lokal dan benih luar jelas bisa dibedakan dengan mudah. Sebab benih dari luar yang kami maksud adalah benih yang berasal dari pabrik-pabrik milik korporasi besar.
Persoalan kita adalah ketersediaan benih. Berikutnya jika terpaksa menggunakan benih dari luar, benih milik korporasi besar penghasil benih, apakah nantinya sebagian dari hasil panen yang kita jadikan benih cukup kuat bertahan hingga musim tanam berikutnya di tahun depan?
Jika tidak kuat bertahan, apakah kita akan terus bergantung pada benih luar ini seumur hidup petani kita? Bagaimana jika pada saat mim tanam kita belum memiliki benih? Bagaimana kalau harganya terlalu mahal untuk kantung petani-petani kecil kita?
Mungkin benar dan terbukti bahwa benih benih dari korporasi besar lebih unggul. Menghasilkan lebih banyak bahkan mungkin lebih tahan lama. Pertanyaannya adalah haruskah seumur hidup, petani kita harus tergantung dan tidak punya pilihan terhadap harga yang ditentukan penyedia benih?
Baca Juga:
Demi kedaulatan, maka pemuliaan benih lokal adalah kebutuhan yang wajib harus dipenuhi oleh masyarakat petani kita. Pemuliaan ini juga memastikan bahwa ketersediaan benih sudah cukup untuk mencukupi kebutuhan setiap petani di musim tanam berikutnya.
Karena itu kita memerlukan lumbung benih di tingkat komunitas-komunitas petani. Lumbung benih ini memastikan kuantitas yang cukup juga kualitas yang sesuai. Agar di musim tanam berikutnya, demi kedaulatan, kita bisa tidak lagi benih korporasi sebab benih lokal kita cukup untuk ditanam di lahan-lahan pertanian kita.
Foto ilustrasi kebun jagung dari antara
Leave a Reply