Anak-anak PAUD di Negara-negara Skandinavia Belajar di Alam Terbuka

Internasional
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Pada umumnya di negara-negara Skandinavia seperti Swedia dan Denmark, wajib sekolah baru di usia enam tahun. Namun karena berbagai alasan, anak dititipkan pada tempat penitipan anak atau di PAUD untuk belajar berbagai hal.

Di negara-negara Skandinavia, banyak tempat penitipan anak dan PAUD diselengarakan di alam terbuka. Tentu saja mereka punya gedung untuk tempat beraktivitas, tetapi mereka dengan pertimbangan kebutuhan dan pertumbuhan anak,  lebih memilih untuk belajar di alam.

Baik di Swedia maupun di Denmark banyak PAUD membawa anak-anak ke hutan, pergi dari gedung mereka, naik bus. Itu dilakukan hampir setiap hari sekolah, tentu saja dengan pertimbangan dan perencanaan yang cermat.

Misalnya dilakukan oleh PAUD Stenurten. PAUD ini menawarkan perjalanan harian seperti itu, meninggalkan kawasan Norebro di tengah kota dalam perjalanan 30 menit dengan bus ke hutan. Di hutan yang mereka tuju, ada lapangan besar dan rumah kayu kecil, tempat berlindung jika diperlukan.

Dalam kondisi dingin karena hujan, hujan es atau bahkan salju, tidak menghalangi pengelola tempat penitipan anak atau PAUD untuk membawa anak ke alam terbuka, asal anak-anak memakai baju yang sesuai. Bagi mereka tidak ada cuaca buruk. Cuaca buruk  hanya ada jika memakai baju yang keliru.

Baca juga : 

Anak Ini Dipaksa Belajar Ibunya Tanpa Istirahat, Hingga Mengalami Nasib Naas Ini

Pada umumnya orang tua memilih menitipkan anaknya pada tempat penitipan anak atau PAUD yang seperti itu. Salah satu orang tua yang melakukannya adalah Andreas Pegado. Sehari-hari Andreas adalah sorang pendidik. Ia melakukan ini agar anaknya menghormati dan peduli pada alam.

“Teknologi sekarang ini menguasai hampir semua aspek hidup manusia, jadi anak-anak sejak kecil  perlu belajar menghormati alam dan peduli pada alam. Ini perlu sekali,” kata Andreas seperti dilansir pada laman Voice of Amerika (VOA).

Aktivitas anak di alam terbuka

Di alam bebas anak-anak dapat melakukan banyak hal yang sangat mereka butuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan mereka. Mereka bisa menggunakan ranting untuk belajar Matematika.

“Kami menggunakan ranting untuk menunjukkan bahwa kita dapat menggunakan apa saja yang kita temukan untuk belajar Matematika. Anak-anak usia lima tahun menjajarkan ranting dan belajar berhitung. Kami lihat anak-anak lebih senang,” kata Lisa Bystrom guru mereka.

Di alam terbuka anak-anak berlarian dengan bebas. Mereka melakukan eksplorasi terhadap alam. Setelah proses eksplorasi, mereka menemui gurunya untuk bertanya seperti, apa ini? Atau apa yang bisa kita lakukan dengan ini? Sambil menunjukkan apa yang mereka pegang. Ada rasa ingin tahu yang kuat.

Baca juga : 

Berapa Banyak Waktu Anak Anda Bermain?

Selain rasa ingin tahu, mereka juga lebih ingin melakukan sendiri banyak hal. Para guru lalu mempunyai banyak kesempatan untuk memvariasikan pendekatan pedagogis yang mereka ketahui untuk membangun kemandirian anak.

Aktivitas lain yang anak-anak lakukan adalah makan siang. Anak-anak kecil duduk di bangku kayu mengelilingi api unggun sambil menikmati makan siang yang disediakan. Anak harus makan sendiri. Jika ada makan yang dia tidak habiskan, anak-anak harus bagikan kepada temannya.

Anak tidak diperbolehkan mengambil makanan temannya. Jika menginginkan makanan temannya, anak harus memintanya pada teman tersebut. Pada saat makan, makanan anak harus dihabiskan. Peristiwa makan dapat digunakan untuk membentuk sikap berbagi serta membentuk kemandirian anak.

Usai makan, anak tidur siang. Mereka menggunakan kantong tidur dan tidur siang   di bawah kanopi di luar ruangan. Bisa jadi pada saat itu, suhu udara sedang turun  hingga di bawah titik beku. Meskipun demikian mereka dapat tidur lebih lama dan lebih nyenyak.

“Bagi mereka, meskipun tidur di alam terbuka, mereka nampak tak terganggu oleh suhu dingin, apalagi jika udara cerah. Mereka mendapat banyak udara segar, mereka tidur lebih lama dan lebih nyenyak,” kata Johanna Karlsson, kepala PAUD I Ur och Skur, seperti dilansir pada laman VOA.

Baca juga : 

Dorong Anak untuk Bermain di Alam Terbuka, Baik untuk Kesehatan Fisik Maupun Mental

Praktik tidur siang di alam terbuka ini nampaknya dipengaruhi hasil penelitian seorang dokter Eslandia tahun 1920. Penelitian tersebut merekomendasikan agar anak tidur siang di alam terbuka untuk memperkuat sistem imunitas anak.

Selama ini praktik ini dilakukan di negara Nordik termasuk di tempat penitipan anak dan di PAUD dan praktik tidur siang di alam terbuka ini  tidak pernah ditentang oleh komunitas medis.

Dampak sekolah di alam terbuka

Banyak orang tua menitipkan anaknya di tempat penitipan anak dan PAUD yang menyelenggarakan kegiatannya di alam terbuka, karena aktivitasnya dapat membangun kemandirian anak. Guru berpeluang lebih banyak menggunakan pendekatan pedagogis dalam mengembangkan kemandirian.

Di samping itu, dalam proses belajar anak lebih eksploratif. Oleh karena itu lebih banyak bertanya tentang berbagai hal. Ini menunjukkan rasa ingin tahu anak lebih berkembang, karena di alam bebas anak lebih punya peluang untuk melakukan banyak hal sendiri.

Selain itu, anak yang melewati banyak kegiatan di alam bebas, mencoba banyak hal sendiri sebelum meminta tolong. Oleh karena itu, anak-anak tersebut memiliki rasa percaya diri lebih baik.

Baca juga : 

Pintar Saja Tidak Cukup, Anak Perlu Memiliki Enam Karakter Ini Untuk Sukses

Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian British Education Journal tahun 2018, yang menyimpulkan bahwa tempat penitipan anak dan PAUD dengan kegiatan bermain di alam terbuka lebih dapat mendorong anak belajar berkolaborasi.

Anak-anak ini yang memiliki memori positif tentang belajar yang menyenangkan, juga lebih mandiri, memiliki kemampuan berkolaborasi, akan lebih siap memasuki sekolah dasar. Dengan demikian mereka akan lebih dapat beradaptasi dengan tuntutan belajar di sekolah dasar.

PAUD kita di Indonesia, bagaimana proses belajarnya? Apa yang kita lakukan agar anak-anak kita, lebih siap belajar dan bertumbuh di sekolah dasar?

Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com / Foto: nakita.grid.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of